Lihat Detail
√ Memahami Apa Itu Kecerdasan Emotional Quotient (Eq) ?
Penemuan kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) yaitu Daniel Goleman. EQ biasa disebut sebagai street smart (jalan pintar) atau kemampuan khusus yang disebut kebijaksanaan sehat.
Kecerdasan emosi mempunyai beberapa arti, berikut ini beberapa pendapat para andal mengenai kecerdasan EQ.
1. Daniel Goleman
Menurut Daniel Goleman kecerdasan emosi yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang sanggup menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, menentukan kepuasan dan mengatur suasana hati.
2. Cooper dan Sawaf
Mengatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan efek yang manusiawi.
Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk mencar ilmu mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Howe dan Herald
Pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen menciptakan seseorang menjadi pandai memakai emosi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi insan berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh perihal diri sendiri dan orang lain.
4. Harmoko
Kecerdasan emosi sanggup diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain.
Jelas jikalau seseorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, sanggup hidup senang dan sukses sebab percaya diri serta bisa menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Kecerdasan emosi mempunyai beberapa arti, berikut ini beberapa pendapat para andal mengenai kecerdasan EQ.
1. Daniel Goleman
Menurut Daniel Goleman kecerdasan emosi yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang sanggup menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, menentukan kepuasan dan mengatur suasana hati.
2. Cooper dan Sawaf
Mengatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan efek yang manusiawi.
Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk mencar ilmu mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Howe dan Herald
Pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen menciptakan seseorang menjadi pandai memakai emosi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi insan berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh perihal diri sendiri dan orang lain.
4. Harmoko
Kecerdasan emosi sanggup diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain.
Jelas jikalau seseorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, sanggup hidup senang dan sukses sebab percaya diri serta bisa menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.

Dari beberapa pendapat di atas sanggup dikatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu menuntut diri untuk mencar ilmu mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
Arti Penting Akal Sehat
Para andal selalu mengingatkan bahwa kebijaksanaan yang tidak disadari oleh nurani yang benar, tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, sebaliknya nurani yang benar tanpa kebijaksanaan juga tidak akan menghasilkan apapun.
Kaprikornus antara kebijaksanaan dan nurani haruslah bersatu dan bekerja sama sehingga menghasilkan kebijaksanaan sehat. Sejumlah kebijaksanaan dan nurani yang disusun secara 'sistematis', seimbang, dan serasi akan nampak dan muncul dalam diri seseorang, itulah kebijaksanaan sehat.
Keindahan sanggup pula dihasilkan dari daypikir yang ada dan sanggup menjadi 'good will'. Semua hal tersebut akan menumbuhkan keseimbangan diri yang berkhasiat bagi kehidupan di dunia dan alam abadi nanti.
Pengalaman akan Kejadian
Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya seseorang menghadapi dua pilihan atau lebih dalam mengambil keputusan.
Contohnya ketika difitnah seseorang akan merasa dendam atau memaafkan, ketika saudara merusakkan mainan, apakah akan memukulnya atau dengan hening memperbaiki bersama.
Contohnya ketika difitnah seseorang akan merasa dendam atau memaafkan, ketika saudara merusakkan mainan, apakah akan memukulnya atau dengan hening memperbaiki bersama.
Suatu kejadian yang memancing emosi baik emosi nyata maupun emosi negatif akan berdampak pada perkembangan emosi seseorang.
Cara yang sanggup dipakai sebagai intervensi edukatif untuk menyebarkan emosi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman yang diberi nama Self-Science Curriculum yaitu sebagai berikut.
- Belajar menyebarkan kesadaran diri
- Belajar mengambil keputusan pribadi
- Belajar mengelola perasaan
- Belajar menangani stress
- Belajar berempati
- Belajar berkomunikasi
- Belajar membuka diri
- Belajar menyebarkan pemahaman
- Belajar mendapatkan diri sendiri
- Belajar menyebarkan tanggung jawab pribadi
- Belajar menyebarkan ketegasan
- Mempelajari dinamika kelompok
- Mempelajari menuntaskan konflik
Ciri-Ciri EQ dan Komponen Pembentuknya
Goleman (2002: 513-514) membagi kecerdasan emosional ke dalam 5 (lima) komponen yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
Kesadaran diri yaitu mengetahui apa yang dirasakan pada suatu ketika dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri.
Selain itu, kesadaran diri juga berarti tetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan iman diri yang kuat.
Selain itu, kesadaran diri juga berarti tetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan iman diri yang kuat.
Pengaturan diri yaitu menguasai emosi diri sedemikian sehingga berdampak nyata kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya sesuatu target dan bisa pulih kembali dari tekanan emosi.
Motivasi memakai hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun seseorang menuju sasaran. Motivasi membantu seseorang mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
Empati yaitu mencicipi yang dirasakan orang lain, bisa memahami perspektif orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan aneka macam macam orang.
Keterampilan sosial yaitu sanggup menangani emosi dengan baik ketika bekerjasama dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, memakai keterampilan-keterampilan ini untuk memengaruhi dan memimpin, dan menuntaskan perselisihan dan untuk bekerja sama dalam tim.
Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, kemampuan mengendalikan diri itu disebut sabar. Orang yang paling tabah yaitu orang yang paling tinggi kecerdasan emosionalnya.
Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika mencar ilmu orang ini tekun, Ia mempunyai tenggang rasa yang tinggi, tanggap terhadap lingkungan sosialnya, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Ia berhasil mengatasi aneka macam gangguan dan tidak memperturutkan emosinya. Ia sanggup mengendalikan perilakunya dan emosinya.
Dari pembahasan diatas tentunya kau sudah sanggup menyimpulkan apakah kau mempunyai kecerdasan EQ yang berpengaruh atau sebaliknya?
Dari pembahasan diatas tentunya kau sudah sanggup menyimpulkan apakah kau mempunyai kecerdasan EQ yang berpengaruh atau sebaliknya?
Penemuan kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) yaitu Daniel Goleman. EQ biasa disebut sebagai street smart (jalan pintar) atau kemampuan khusus yang disebut kebijaksanaan sehat.
Kecerdasan emosi mempunyai beberapa arti, berikut ini beberapa pendapat para andal mengenai kecerdasan EQ.
1. Daniel Goleman
Menurut Daniel Goleman kecerdasan emosi yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang sanggup menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, menentukan kepuasan dan mengatur suasana hati.
2. Cooper dan Sawaf
Mengatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan efek yang manusiawi.
Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk mencar ilmu mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Howe dan Herald
Pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen menciptakan seseorang menjadi pandai memakai emosi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi insan berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh perihal diri sendiri dan orang lain.
4. Harmoko
Kecerdasan emosi sanggup diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain.
Jelas jikalau seseorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, sanggup hidup senang dan sukses sebab percaya diri serta bisa menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.
Kecerdasan emosi mempunyai beberapa arti, berikut ini beberapa pendapat para andal mengenai kecerdasan EQ.
1. Daniel Goleman
Menurut Daniel Goleman kecerdasan emosi yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.
Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang sanggup menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, menentukan kepuasan dan mengatur suasana hati.
2. Cooper dan Sawaf
Mengatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan efek yang manusiawi.
Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk mencar ilmu mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Howe dan Herald
Pada intinya, kecerdasan emosional merupakan komponen menciptakan seseorang menjadi pandai memakai emosi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi insan berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh perihal diri sendiri dan orang lain.
4. Harmoko
Kecerdasan emosi sanggup diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain.
Jelas jikalau seseorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, sanggup hidup senang dan sukses sebab percaya diri serta bisa menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.

Dari beberapa pendapat di atas sanggup dikatakan bahwa kecerdasan emosional yaitu menuntut diri untuk mencar ilmu mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
Arti Penting Akal Sehat
Para andal selalu mengingatkan bahwa kebijaksanaan yang tidak disadari oleh nurani yang benar, tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, sebaliknya nurani yang benar tanpa kebijaksanaan juga tidak akan menghasilkan apapun.
Kaprikornus antara kebijaksanaan dan nurani haruslah bersatu dan bekerja sama sehingga menghasilkan kebijaksanaan sehat. Sejumlah kebijaksanaan dan nurani yang disusun secara 'sistematis', seimbang, dan serasi akan nampak dan muncul dalam diri seseorang, itulah kebijaksanaan sehat.
Keindahan sanggup pula dihasilkan dari daypikir yang ada dan sanggup menjadi 'good will'. Semua hal tersebut akan menumbuhkan keseimbangan diri yang berkhasiat bagi kehidupan di dunia dan alam abadi nanti.
Pengalaman akan Kejadian
Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya seseorang menghadapi dua pilihan atau lebih dalam mengambil keputusan.
Contohnya ketika difitnah seseorang akan merasa dendam atau memaafkan, ketika saudara merusakkan mainan, apakah akan memukulnya atau dengan hening memperbaiki bersama.
Contohnya ketika difitnah seseorang akan merasa dendam atau memaafkan, ketika saudara merusakkan mainan, apakah akan memukulnya atau dengan hening memperbaiki bersama.
Suatu kejadian yang memancing emosi baik emosi nyata maupun emosi negatif akan berdampak pada perkembangan emosi seseorang.
Cara yang sanggup dipakai sebagai intervensi edukatif untuk menyebarkan emosi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman yang diberi nama Self-Science Curriculum yaitu sebagai berikut.
- Belajar menyebarkan kesadaran diri
- Belajar mengambil keputusan pribadi
- Belajar mengelola perasaan
- Belajar menangani stress
- Belajar berempati
- Belajar berkomunikasi
- Belajar membuka diri
- Belajar menyebarkan pemahaman
- Belajar mendapatkan diri sendiri
- Belajar menyebarkan tanggung jawab pribadi
- Belajar menyebarkan ketegasan
- Mempelajari dinamika kelompok
- Mempelajari menuntaskan konflik
Ciri-Ciri EQ dan Komponen Pembentuknya
Goleman (2002: 513-514) membagi kecerdasan emosional ke dalam 5 (lima) komponen yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial.
Kesadaran diri yaitu mengetahui apa yang dirasakan pada suatu ketika dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri.
Selain itu, kesadaran diri juga berarti tetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan iman diri yang kuat.
Selain itu, kesadaran diri juga berarti tetapkan tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan iman diri yang kuat.
Pengaturan diri yaitu menguasai emosi diri sedemikian sehingga berdampak nyata kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya sesuatu target dan bisa pulih kembali dari tekanan emosi.
Motivasi memakai hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun seseorang menuju sasaran. Motivasi membantu seseorang mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
Empati yaitu mencicipi yang dirasakan orang lain, bisa memahami perspektif orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan aneka macam macam orang.
Keterampilan sosial yaitu sanggup menangani emosi dengan baik ketika bekerjasama dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, memakai keterampilan-keterampilan ini untuk memengaruhi dan memimpin, dan menuntaskan perselisihan dan untuk bekerja sama dalam tim.
Kecerdasan emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam Islam, kemampuan mengendalikan diri itu disebut sabar. Orang yang paling tabah yaitu orang yang paling tinggi kecerdasan emosionalnya.
Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika mencar ilmu orang ini tekun, Ia mempunyai tenggang rasa yang tinggi, tanggap terhadap lingkungan sosialnya, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Ia berhasil mengatasi aneka macam gangguan dan tidak memperturutkan emosinya. Ia sanggup mengendalikan perilakunya dan emosinya.
Dari pembahasan diatas tentunya kau sudah sanggup menyimpulkan apakah kau mempunyai kecerdasan EQ yang berpengaruh atau sebaliknya?
Dari pembahasan diatas tentunya kau sudah sanggup menyimpulkan apakah kau mempunyai kecerdasan EQ yang berpengaruh atau sebaliknya?
Lihat Detail
√ Memahami Apa Itu Kecerdasan Spiritual Quotient (Sq) ?
Penemuan Kecerdasan Spiritual Quotient (SQ) yaitu spesialis yang berjulukan Danar Zohar dan Lan Marshall.
Kedua tokoh tersebut mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan kasus makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan sikap dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada orang lain.
Spiritual Quotient mempunyai beberapa arti, yaitu.
1. Suatu keperluan penting yang dimiliki oleh para hamba Tuhan untuk sanggup berafiliasi dengan Tuhannya.
2. Kemampuan untuk menghidupkan kebenaran yang paling dalam, yaitu mewujudkan hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dari dalam batin.
3. Merupakan gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup yang mengalir dari dalam, dari suatu kesadaran yang hidup bersama cinta.
4. Menurut Paul Edwards SQ yaitu bukti ilmiah. Ini yaitu konkret saat kau mencicipi keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (love), dan senang (happy), saat dibedakan dari suatu kondisi yang dirasakan tidak aman, tidak bahagia, dan tidak cinta.
5. Menurut Viktor Frankl-Psikolog, SQ yaitu pencarian insan akan makna hidup dan merupakan motivasi utama dalam hidupnya. Kearifan spiritual yaitu sikap hidup bakir dan bijak secara spiritual, yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nuraninya.
6. SQ akan membimbing insan dalam merencanakan sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya yaitu hidup yang penuh kedamaian secara spiritual. Mendidik hati menjadi benar.
Kedua tokoh tersebut mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan kasus makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan sikap dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada orang lain.

Spiritual Quotient mempunyai beberapa arti, yaitu.
1. Suatu keperluan penting yang dimiliki oleh para hamba Tuhan untuk sanggup berafiliasi dengan Tuhannya.
2. Kemampuan untuk menghidupkan kebenaran yang paling dalam, yaitu mewujudkan hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dari dalam batin.
3. Merupakan gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup yang mengalir dari dalam, dari suatu kesadaran yang hidup bersama cinta.
4. Menurut Paul Edwards SQ yaitu bukti ilmiah. Ini yaitu konkret saat kau mencicipi keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (love), dan senang (happy), saat dibedakan dari suatu kondisi yang dirasakan tidak aman, tidak bahagia, dan tidak cinta.
5. Menurut Viktor Frankl-Psikolog, SQ yaitu pencarian insan akan makna hidup dan merupakan motivasi utama dalam hidupnya. Kearifan spiritual yaitu sikap hidup bakir dan bijak secara spiritual, yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nuraninya.
6. SQ akan membimbing insan dalam merencanakan sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya yaitu hidup yang penuh kedamaian secara spiritual. Mendidik hati menjadi benar.
Ciri-Ciri Spiritual Quotient (SQ)
Berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) ciri-ciri kecerdasan spiritual yaitu sebagai berikut.
1. Mempunyai kesadaran diri
Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari antusias yang tiba dan menanggapinya.
2. Mempunyai visi
Adanya pemahaman wacana tujuan hidupnya, mempunyai kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
3. Fleksibel
Mampu bersikap fleksibel, mengikuti keadaan secara impulsif dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan) dan efisien wacana realitas.
4. Berpandangan holistik
Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara banyak sekali hal. Dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga bisa menghadapi dan memanfaatkan serta melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
5. Melakukan perubahan
Terbuka terhadap perbedaan, mempunyai fasilitas untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas merdeka.
6. Sumber inspirasi
Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai gagasan-gagasan yang segar.
7. Refleksi diri
Mempunyai kecenderungan apakah yang fundamental dan pokok.
Seseorang yang mempunyai tingkat kecerdasan spiritual (SQ) tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seseorang yang bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih kepada orang lain dan menawarkan petunjuk penggunaannya.
Dengan kata lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.
Tindakan atau langkah seseorang yang mempunyai SQ tinggi yaitu langkah atau tindakan yang mereka ambil menyiratkan menyerupai apa dunia yang mereka inginkan ini yaitu perjalanan dari pengertian (awarenes) menuju kesadaran (conciousness).
Penemuan Kecerdasan Spiritual Quotient (SQ) yaitu spesialis yang berjulukan Danar Zohar dan Lan Marshall.
Kedua tokoh tersebut mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan kasus makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan sikap dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada orang lain.
Spiritual Quotient mempunyai beberapa arti, yaitu.
1. Suatu keperluan penting yang dimiliki oleh para hamba Tuhan untuk sanggup berafiliasi dengan Tuhannya.
2. Kemampuan untuk menghidupkan kebenaran yang paling dalam, yaitu mewujudkan hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dari dalam batin.
3. Merupakan gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup yang mengalir dari dalam, dari suatu kesadaran yang hidup bersama cinta.
4. Menurut Paul Edwards SQ yaitu bukti ilmiah. Ini yaitu konkret saat kau mencicipi keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (love), dan senang (happy), saat dibedakan dari suatu kondisi yang dirasakan tidak aman, tidak bahagia, dan tidak cinta.
5. Menurut Viktor Frankl-Psikolog, SQ yaitu pencarian insan akan makna hidup dan merupakan motivasi utama dalam hidupnya. Kearifan spiritual yaitu sikap hidup bakir dan bijak secara spiritual, yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nuraninya.
6. SQ akan membimbing insan dalam merencanakan sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya yaitu hidup yang penuh kedamaian secara spiritual. Mendidik hati menjadi benar.
Kedua tokoh tersebut mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan kasus makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan sikap dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada orang lain.

Spiritual Quotient mempunyai beberapa arti, yaitu.
1. Suatu keperluan penting yang dimiliki oleh para hamba Tuhan untuk sanggup berafiliasi dengan Tuhannya.
2. Kemampuan untuk menghidupkan kebenaran yang paling dalam, yaitu mewujudkan hal yang terbaik, utuh dan paling manusiawi dari dalam batin.
3. Merupakan gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup yang mengalir dari dalam, dari suatu kesadaran yang hidup bersama cinta.
4. Menurut Paul Edwards SQ yaitu bukti ilmiah. Ini yaitu konkret saat kau mencicipi keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (love), dan senang (happy), saat dibedakan dari suatu kondisi yang dirasakan tidak aman, tidak bahagia, dan tidak cinta.
5. Menurut Viktor Frankl-Psikolog, SQ yaitu pencarian insan akan makna hidup dan merupakan motivasi utama dalam hidupnya. Kearifan spiritual yaitu sikap hidup bakir dan bijak secara spiritual, yang cenderung mengisi lembaran hidup kita menjadi lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi segala sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nuraninya.
6. SQ akan membimbing insan dalam merencanakan sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya yaitu hidup yang penuh kedamaian secara spiritual. Mendidik hati menjadi benar.
Ciri-Ciri Spiritual Quotient (SQ)
Berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) ciri-ciri kecerdasan spiritual yaitu sebagai berikut.
1. Mempunyai kesadaran diri
Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari antusias yang tiba dan menanggapinya.
2. Mempunyai visi
Adanya pemahaman wacana tujuan hidupnya, mempunyai kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
3. Fleksibel
Mampu bersikap fleksibel, mengikuti keadaan secara impulsif dan aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis (sesuai kegunaan) dan efisien wacana realitas.
4. Berpandangan holistik
Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait dan bisa melihat keterkaitan antara banyak sekali hal. Dapat memandang kehidupan yang lebih besar sehingga bisa menghadapi dan memanfaatkan serta melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu visi dan mencari makna dibaliknya.
5. Melakukan perubahan
Terbuka terhadap perbedaan, mempunyai fasilitas untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas merdeka.
6. Sumber inspirasi
Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai gagasan-gagasan yang segar.
7. Refleksi diri
Mempunyai kecenderungan apakah yang fundamental dan pokok.
Seseorang yang mempunyai tingkat kecerdasan spiritual (SQ) tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seseorang yang bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih kepada orang lain dan menawarkan petunjuk penggunaannya.
Dengan kata lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.
Tindakan atau langkah seseorang yang mempunyai SQ tinggi yaitu langkah atau tindakan yang mereka ambil menyiratkan menyerupai apa dunia yang mereka inginkan ini yaitu perjalanan dari pengertian (awarenes) menuju kesadaran (conciousness).
Lihat Detail
√ Mengintegrasikan Kecerdasan Iq, Eq, Dan Sq
Antara IQ, EQ, dan SQ mempunyai ciri khas masing-masing dalam kiprahnya di kehidupan manusia, antara lain:
IQ mempunyai ciri khas yang menonjol yaitu:
a. Berpikir rasional dan logis.
b. Untuk aplikasi benda-benda konkret.
EQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan berpikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan mengatakan kepada kita untuk mengenali pola-pola emosi.
b. Memiliki rasa sebagai radar sentuh
SQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan untuk berpikir kreatif, berwawasan jernih, menciptakan bahkan mengubah aturan.
b. Berisi bunyi hati.
Menggabungkan ketiganya, yaitu antara IQ-EQ-SQ yaitu dengan suatu pemahaman bahwa IESQ yaitu sebuah prosedur yang sistematis untuk mengatur ketiga dimensi yang ada dalam diri insan menjadi satu kesatuan yang integral (saling terkait).
Semakin seseorang mendekati sentra orbitnya maka semakin tinggi kesuksesan yang akan diraihnya. Hal ini memerlukan kesepakatan dan integritas dalam ketulusan spiritual, yaitu adanya ciri khas yang menonjol dari masing-masing aspek kecerdasan.
Titik sentra spiritual bersifat universal, artinya berlaku dan menjangkau seluruh umat insan siapapun mereka akan senantiasa menuju daya tarik spiritual itu.
Ary Ginanjar mencoba memberi citra kepada kita ihwal kekerabatan ketiganya (IESQ) dalam suatu yang disebut dengan kekerabatan telinga, mata dan hati.
Input 1 : SQ berdimensi berpengaruh dalam hal bunyi hati, merupakan kebenaran hakiki.
Input 2 : EQ berdimensi berpengaruh dalam hal mentalitas, menghasilkan anutan jernih.
Input 3 : IQ berdimensi berpengaruh dalam kebijaksanaan atau logika/
Input 4 : Keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa perpaduan antara IQ-EQ-SQ menjadi seorang langsung yang merdeka.
Ciri-ciri orang yang merdeka yaitu sudah terbebas dari berbagai belenggu kehidupan, misalnya: prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, pengalaman jelek yang memengaruhi pikiran, egoisme, kepentingan dan prioritas diri, pembanding-pembanding yang subjektif, dan literatur-literatur yang menyesatkan
Gambar SQ sebagai sentra orbit IQ dan EQ:
IQ = Dimensi fisik/body
EQ = Dimensi emosional
SQ = Dimensi spiritual dan sebagai sentra orbit IQ dan EQ.
Apabila ke tiga kecerdasan tersebut sanggup saling berhubungan, maka peluang sukses akan lebih tinggi.
IQ mempunyai ciri khas yang menonjol yaitu:
a. Berpikir rasional dan logis.
b. Untuk aplikasi benda-benda konkret.
EQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan berpikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan mengatakan kepada kita untuk mengenali pola-pola emosi.
b. Memiliki rasa sebagai radar sentuh
SQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan untuk berpikir kreatif, berwawasan jernih, menciptakan bahkan mengubah aturan.
b. Berisi bunyi hati.
Menggabungkan ketiganya, yaitu antara IQ-EQ-SQ yaitu dengan suatu pemahaman bahwa IESQ yaitu sebuah prosedur yang sistematis untuk mengatur ketiga dimensi yang ada dalam diri insan menjadi satu kesatuan yang integral (saling terkait).

Semakin seseorang mendekati sentra orbitnya maka semakin tinggi kesuksesan yang akan diraihnya. Hal ini memerlukan kesepakatan dan integritas dalam ketulusan spiritual, yaitu adanya ciri khas yang menonjol dari masing-masing aspek kecerdasan.
Titik sentra spiritual bersifat universal, artinya berlaku dan menjangkau seluruh umat insan siapapun mereka akan senantiasa menuju daya tarik spiritual itu.
Ary Ginanjar mencoba memberi citra kepada kita ihwal kekerabatan ketiganya (IESQ) dalam suatu yang disebut dengan kekerabatan telinga, mata dan hati.
Input 1 : SQ berdimensi berpengaruh dalam hal bunyi hati, merupakan kebenaran hakiki.
Input 2 : EQ berdimensi berpengaruh dalam hal mentalitas, menghasilkan anutan jernih.
Input 3 : IQ berdimensi berpengaruh dalam kebijaksanaan atau logika/
Input 4 : Keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa perpaduan antara IQ-EQ-SQ menjadi seorang langsung yang merdeka.
Ciri-ciri orang yang merdeka yaitu sudah terbebas dari berbagai belenggu kehidupan, misalnya: prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, pengalaman jelek yang memengaruhi pikiran, egoisme, kepentingan dan prioritas diri, pembanding-pembanding yang subjektif, dan literatur-literatur yang menyesatkan
Gambar SQ sebagai sentra orbit IQ dan EQ:

EQ = Dimensi emosional
SQ = Dimensi spiritual dan sebagai sentra orbit IQ dan EQ.
Apabila ke tiga kecerdasan tersebut sanggup saling berhubungan, maka peluang sukses akan lebih tinggi.
Antara IQ, EQ, dan SQ mempunyai ciri khas masing-masing dalam kiprahnya di kehidupan manusia, antara lain:
IQ mempunyai ciri khas yang menonjol yaitu:
a. Berpikir rasional dan logis.
b. Untuk aplikasi benda-benda konkret.
EQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan berpikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan mengatakan kepada kita untuk mengenali pola-pola emosi.
b. Memiliki rasa sebagai radar sentuh
SQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan untuk berpikir kreatif, berwawasan jernih, menciptakan bahkan mengubah aturan.
b. Berisi bunyi hati.
Menggabungkan ketiganya, yaitu antara IQ-EQ-SQ yaitu dengan suatu pemahaman bahwa IESQ yaitu sebuah prosedur yang sistematis untuk mengatur ketiga dimensi yang ada dalam diri insan menjadi satu kesatuan yang integral (saling terkait).
Semakin seseorang mendekati sentra orbitnya maka semakin tinggi kesuksesan yang akan diraihnya. Hal ini memerlukan kesepakatan dan integritas dalam ketulusan spiritual, yaitu adanya ciri khas yang menonjol dari masing-masing aspek kecerdasan.
Titik sentra spiritual bersifat universal, artinya berlaku dan menjangkau seluruh umat insan siapapun mereka akan senantiasa menuju daya tarik spiritual itu.
Ary Ginanjar mencoba memberi citra kepada kita ihwal kekerabatan ketiganya (IESQ) dalam suatu yang disebut dengan kekerabatan telinga, mata dan hati.
Input 1 : SQ berdimensi berpengaruh dalam hal bunyi hati, merupakan kebenaran hakiki.
Input 2 : EQ berdimensi berpengaruh dalam hal mentalitas, menghasilkan anutan jernih.
Input 3 : IQ berdimensi berpengaruh dalam kebijaksanaan atau logika/
Input 4 : Keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa perpaduan antara IQ-EQ-SQ menjadi seorang langsung yang merdeka.
Ciri-ciri orang yang merdeka yaitu sudah terbebas dari berbagai belenggu kehidupan, misalnya: prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, pengalaman jelek yang memengaruhi pikiran, egoisme, kepentingan dan prioritas diri, pembanding-pembanding yang subjektif, dan literatur-literatur yang menyesatkan
Gambar SQ sebagai sentra orbit IQ dan EQ:
IQ = Dimensi fisik/body
EQ = Dimensi emosional
SQ = Dimensi spiritual dan sebagai sentra orbit IQ dan EQ.
Apabila ke tiga kecerdasan tersebut sanggup saling berhubungan, maka peluang sukses akan lebih tinggi.
IQ mempunyai ciri khas yang menonjol yaitu:
a. Berpikir rasional dan logis.
b. Untuk aplikasi benda-benda konkret.
EQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan berpikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan mengatakan kepada kita untuk mengenali pola-pola emosi.
b. Memiliki rasa sebagai radar sentuh
SQ mempunyai ciri khas yang menonjol, yaitu:
a. Memungkinkan insan untuk berpikir kreatif, berwawasan jernih, menciptakan bahkan mengubah aturan.
b. Berisi bunyi hati.
Menggabungkan ketiganya, yaitu antara IQ-EQ-SQ yaitu dengan suatu pemahaman bahwa IESQ yaitu sebuah prosedur yang sistematis untuk mengatur ketiga dimensi yang ada dalam diri insan menjadi satu kesatuan yang integral (saling terkait).

Semakin seseorang mendekati sentra orbitnya maka semakin tinggi kesuksesan yang akan diraihnya. Hal ini memerlukan kesepakatan dan integritas dalam ketulusan spiritual, yaitu adanya ciri khas yang menonjol dari masing-masing aspek kecerdasan.
Titik sentra spiritual bersifat universal, artinya berlaku dan menjangkau seluruh umat insan siapapun mereka akan senantiasa menuju daya tarik spiritual itu.
Ary Ginanjar mencoba memberi citra kepada kita ihwal kekerabatan ketiganya (IESQ) dalam suatu yang disebut dengan kekerabatan telinga, mata dan hati.
Input 1 : SQ berdimensi berpengaruh dalam hal bunyi hati, merupakan kebenaran hakiki.
Input 2 : EQ berdimensi berpengaruh dalam hal mentalitas, menghasilkan anutan jernih.
Input 3 : IQ berdimensi berpengaruh dalam kebijaksanaan atau logika/
Input 4 : Keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa perpaduan antara IQ-EQ-SQ menjadi seorang langsung yang merdeka.
Ciri-ciri orang yang merdeka yaitu sudah terbebas dari berbagai belenggu kehidupan, misalnya: prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, pengalaman jelek yang memengaruhi pikiran, egoisme, kepentingan dan prioritas diri, pembanding-pembanding yang subjektif, dan literatur-literatur yang menyesatkan
Gambar SQ sebagai sentra orbit IQ dan EQ:

EQ = Dimensi emosional
SQ = Dimensi spiritual dan sebagai sentra orbit IQ dan EQ.
Apabila ke tiga kecerdasan tersebut sanggup saling berhubungan, maka peluang sukses akan lebih tinggi.
Lihat Detail
√ Ketahui Kini Juga Hubungan Antara Kecerdasan Iesq Dan Kala Depan
Masa depan seseorang akan dipengaruhi oleh cara berpikir dan berlogika yang didampingi oleh suasana hati yang memunculkan kebenaran hakiki dan risikonya seseorang akan berpikir jernih dan bermental kuat, sehingga dia akan sanggup mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Masa depan seseorang tidak melulu berupa pekerjaan yang didapatkan atau diraihnya suatu jabatan tertentu, serta didapatkannya uang yang cukup.
Ada hal yang lebih dalam dari hal tersebut, yaitu bahwa semua itu juga harus diperolehnya dengan cara yang halal dan tidak merugikan siapapun.
Cara yang demikian yakni yang dikehendaki dan diberkahi Tuhan. Orang yang risikonya mendapatkannya akan merasa hening di hati, tenang, dan segala sesuatunya diterima sebagai berkah dari-Nya.
Dengan demikian, puncak dari segala perenungan dan perjuangan kasatmata untuk menuju masa depan bahwasanya bersumber dari kehendak Tuhan melalui firman-firman-Nya yang ada dalam kitab suci setiap agama.
Unsur-unsur spiritual ternyata menjadi anutan utama yang didukung oleh kebijaksanaan dan bunyi hati yang dimiliki.

Masa depan seseorang tidak melulu berupa pekerjaan yang didapatkan atau diraihnya suatu jabatan tertentu, serta didapatkannya uang yang cukup.
Ada hal yang lebih dalam dari hal tersebut, yaitu bahwa semua itu juga harus diperolehnya dengan cara yang halal dan tidak merugikan siapapun.
Cara yang demikian yakni yang dikehendaki dan diberkahi Tuhan. Orang yang risikonya mendapatkannya akan merasa hening di hati, tenang, dan segala sesuatunya diterima sebagai berkah dari-Nya.
Dengan demikian, puncak dari segala perenungan dan perjuangan kasatmata untuk menuju masa depan bahwasanya bersumber dari kehendak Tuhan melalui firman-firman-Nya yang ada dalam kitab suci setiap agama.
Unsur-unsur spiritual ternyata menjadi anutan utama yang didukung oleh kebijaksanaan dan bunyi hati yang dimiliki.
Masa depan seseorang akan dipengaruhi oleh cara berpikir dan berlogika yang didampingi oleh suasana hati yang memunculkan kebenaran hakiki dan risikonya seseorang akan berpikir jernih dan bermental kuat, sehingga dia akan sanggup mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, manusia, dan alam.
Masa depan seseorang tidak melulu berupa pekerjaan yang didapatkan atau diraihnya suatu jabatan tertentu, serta didapatkannya uang yang cukup.
Ada hal yang lebih dalam dari hal tersebut, yaitu bahwa semua itu juga harus diperolehnya dengan cara yang halal dan tidak merugikan siapapun.
Cara yang demikian yakni yang dikehendaki dan diberkahi Tuhan. Orang yang risikonya mendapatkannya akan merasa hening di hati, tenang, dan segala sesuatunya diterima sebagai berkah dari-Nya.
Dengan demikian, puncak dari segala perenungan dan perjuangan kasatmata untuk menuju masa depan bahwasanya bersumber dari kehendak Tuhan melalui firman-firman-Nya yang ada dalam kitab suci setiap agama.
Unsur-unsur spiritual ternyata menjadi anutan utama yang didukung oleh kebijaksanaan dan bunyi hati yang dimiliki.

Masa depan seseorang tidak melulu berupa pekerjaan yang didapatkan atau diraihnya suatu jabatan tertentu, serta didapatkannya uang yang cukup.
Ada hal yang lebih dalam dari hal tersebut, yaitu bahwa semua itu juga harus diperolehnya dengan cara yang halal dan tidak merugikan siapapun.
Cara yang demikian yakni yang dikehendaki dan diberkahi Tuhan. Orang yang risikonya mendapatkannya akan merasa hening di hati, tenang, dan segala sesuatunya diterima sebagai berkah dari-Nya.
Dengan demikian, puncak dari segala perenungan dan perjuangan kasatmata untuk menuju masa depan bahwasanya bersumber dari kehendak Tuhan melalui firman-firman-Nya yang ada dalam kitab suci setiap agama.
Unsur-unsur spiritual ternyata menjadi anutan utama yang didukung oleh kebijaksanaan dan bunyi hati yang dimiliki.
Lihat Detail
√ Ciri-Ciri Orang Dewasa
Batasan orang remaja secara kronologis terentang dari usia 20 hingga 70 tahun yang sanggup dikelompokkan menjadi tiga masa, yaitu remaja muda (20-40 tahun), tengah baya (40-55 tahun), dan lanjut usia (55-70 tahun).
Secara psikologi sepanjang usia tersebut terjadi perubahan psikofisik yang dipengaruhi secara fungsional baik oleh faktor hereditas, lingkungan maupun kematangan, yang mana secara umum ciri-ciri psikologi orang remaja adalah:

Secara psikologi sepanjang usia tersebut terjadi perubahan psikofisik yang dipengaruhi secara fungsional baik oleh faktor hereditas, lingkungan maupun kematangan, yang mana secara umum ciri-ciri psikologi orang remaja adalah:
- Adanya perjuangan eksklusif pada salah satu lapangan yang penting dalam kebudayaan, menyerupai pekerjaan, politik, agama, seni, dan ilmu pengetahuan.
- Kemampuan untuk mengadakan kontak yang hangat dalam hubungan-hubungan yang fungsional maupun tidak fungsional.
- Adanya suatu stabilitas batin yang mendasar dalam dunia perasaan dan dalam hubungannya dengan akseptor diri sendiri.
- Pengamatan, pikiran dan tingkah laris menawarkan sifat realitas yang jelas, tetapi masih ada relavitasnya.
- Dapat melihat diri sendiri menyerupai adanya dan melihat segi kehidupan yang menyenangkan.
- Menemukan suatu bentuk kehidupan yang sesuai dengan gambar dunia atau filsafat hidup yang sanggup meliputi kehidupan menjadi suatu kesatuan.
Sedangkan karakteristik orang remaja adalah:
- Konsep diri orang remaja berubah dari seorang yang tergantung menjadi mengatur diri sendiri.
- Orang remaja mempunyai sejumlah pengalaman dan pemahaman yang semakin banyak, yang berfungsi sebagai sumber daya pembelajaran yang kaya.
- Kebutuhan untuk berguru akan lebih banyak berorientasi pada kiprah perkembangan dari kiprah sosial.
- Perspektif orang remaja dalam memakai pengetahuan berubah, dari penerapan yang tertunda menjadi penerapan segera.
Itulah ciri-ciri orang remaja yang berhasil kami rangkum, biar artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan anda.
Batasan orang remaja secara kronologis terentang dari usia 20 hingga 70 tahun yang sanggup dikelompokkan menjadi tiga masa, yaitu remaja muda (20-40 tahun), tengah baya (40-55 tahun), dan lanjut usia (55-70 tahun).
Secara psikologi sepanjang usia tersebut terjadi perubahan psikofisik yang dipengaruhi secara fungsional baik oleh faktor hereditas, lingkungan maupun kematangan, yang mana secara umum ciri-ciri psikologi orang remaja adalah:

Secara psikologi sepanjang usia tersebut terjadi perubahan psikofisik yang dipengaruhi secara fungsional baik oleh faktor hereditas, lingkungan maupun kematangan, yang mana secara umum ciri-ciri psikologi orang remaja adalah:
- Adanya perjuangan eksklusif pada salah satu lapangan yang penting dalam kebudayaan, menyerupai pekerjaan, politik, agama, seni, dan ilmu pengetahuan.
- Kemampuan untuk mengadakan kontak yang hangat dalam hubungan-hubungan yang fungsional maupun tidak fungsional.
- Adanya suatu stabilitas batin yang mendasar dalam dunia perasaan dan dalam hubungannya dengan akseptor diri sendiri.
- Pengamatan, pikiran dan tingkah laris menawarkan sifat realitas yang jelas, tetapi masih ada relavitasnya.
- Dapat melihat diri sendiri menyerupai adanya dan melihat segi kehidupan yang menyenangkan.
- Menemukan suatu bentuk kehidupan yang sesuai dengan gambar dunia atau filsafat hidup yang sanggup meliputi kehidupan menjadi suatu kesatuan.
Sedangkan karakteristik orang remaja adalah:
- Konsep diri orang remaja berubah dari seorang yang tergantung menjadi mengatur diri sendiri.
- Orang remaja mempunyai sejumlah pengalaman dan pemahaman yang semakin banyak, yang berfungsi sebagai sumber daya pembelajaran yang kaya.
- Kebutuhan untuk berguru akan lebih banyak berorientasi pada kiprah perkembangan dari kiprah sosial.
- Perspektif orang remaja dalam memakai pengetahuan berubah, dari penerapan yang tertunda menjadi penerapan segera.
Itulah ciri-ciri orang remaja yang berhasil kami rangkum, biar artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan anda.
Lihat Detail
√ Macam-Macam Kedewasaan Berdasarkan Adolf Heuken
Halo teman-teman kali ini saya akan membahas perihal macam kedewasaan berdasarkan Adolf Heukeun. Macam-macam kedewasaan berdasarkan Heuken sanggup dibedakan menjadi 5 macam yaitu.

1. Kedewasaan Jasmani, ciri-cirinya:
- Memiliki ukuran berat, kekuatan, keterampilan, koordinasi yang cukup sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya. Dari sisi fisik, biasanya pria lebih berpengaruh dari perempuan.
- Tidak berarti ada patokan yang pasti, seseorang akan berbeda dengan orang lain, baik pria ataupun perempuan.
- Tuhan dengan sengaja membuat jasmani ada yang tinggi, sedang, pendek, ada yang kurus, sedang, gemuk, dan sebagainya.
- Laki-laki dan wanita akan menjadi pandai balig cukup akal secara fisik ada yang berbeda atau tidak mesti bersamaan.
2. Kedewasaan Intelektual, ciri-cirinya:
- Mampu berpikir secara matang dan logis.
- Mempunyai pertimbangan yang tepat.
- Berpengertian yang memadai perihal agama, dunia sekelilingnya dan dirinya sendiri.
3. Kedewasaan Emosional, ciri-cirinya:
- Dapat menyatakan diri dan menikmati hidup dengan penuh perasaan.
- Mampu mengungkapkan perasaan secara sempurna sesuai dengan kondisi dan situasi.
- Mau dan sanggup memerhatikan hal-hal, menyerupai mencicipi getaran patriotisme, kagum akan keindahan alam, hangat dalam bersahabat, membenci ketidakadilan, takut akan ancaman yang sungguh sangat mengancam, aib akan perbuatan hina dan menjijikan.
- Tidak membiarkan harga diri menjadi keangkuhan, simpati menjadi sentimen, kejengkelan menjadi kemarahan yang meledak-ledak, kesedihan menjadi putus asa, rasa takut yang masuk akal menjadi sifat penakut yang kekanak-kanakan.
- Mampu membedakan perbuatan yang baik dengan yang tidak baik serta bereaksi sebagaimana mestinya.
Kedewasaan emosi memerlukan sedikitnya tiga sifat:
- Kecukupan respon emosional, yang berarti bahwa respon-respon ini harus cocok dengan tingkat pertumbuhan. Orang dewasa, yang menyerupai anak kecil, yang memakai tangisan atau ledakan amarah untuk mendapatkan apa yang diinginkan merupakan ketidakdewasaan secara emosi.
- Tingkat dan kedalaman emosional, yang merupakan suatu aspek perkembangan atau pertumbuhan yang cukup. Seseorang yang perasaannya dangkal menyerupai yang dicontohkan pada orang yang terlalu simpatik, atau seseorang yang kekurangan perasaan menyerupai keramah-tamahan, perhatian, sayang, dan simpati (orang yang apatis) ialah tidak pandai balig cukup akal secara emosional.
- Pengendalian emosi, yang terus menjadi korban rasa takut atau cemas, marah, amukan, kecemburuan, benci, dan semacamnya.
4. Kedewasaan Sosial
Kedewasaan sosial remaja biasanya dicapai dengan adanya penerimaan sosial dari orang renta dan lingkungannya terhadap remaja sebagai orang yang sudah pandai balig cukup akal dan sejajar dengan orang-orang pandai balig cukup akal lainnya
Selain itu, kedewasaan sosial juga terwujud dengan adanya interaksi antara remaja dengan orang-orang pandai balig cukup akal di sekitarnya secara sederajat dan dewasa.
Dengan kata lain, remaja seharusnya disikapi sebagai orang pandai balig cukup akal dan dilibatkan dalam komunitas serta acara positif orang-orang dewasa.
Ciri-ciri kedewasaan sosial:
- Mampu bergaul secara luwes baik dengan orang yang lebih pandai balig cukup akal ataupun yang lebih muda atau dengan sebaya baik pria maupun perempuan.
- Tahu menentukan apa yang dihentikan dilakukan atau yang boleh dilakukan dalam situasi tertentu.
- Mau mengambilkan bab dalam kegiatan bersama yang beranekaragam.
- Sadar akan tanggung jawab terhadap orang lain semoga sanggup hidup bersama secara harmonis.
- Pandai "mengikat dan memengaruhi" sahabat atau orang lain secara bijak dengan tetap memperhatikan tutur kata yang baik, kesopanan, keramahan, kerjasama, pengorbanan, penguasaan emosi, dan pengetahuan.
- Bertindak sebagai pria atau wanita yang pandai balig cukup akal dalam suatu kelompok.
5. Kedewasaan Rohani, ciri-cirinya:
- Melaksanakan kewajiban agama yang dianut dan menjalani kehidupan etika yang baik.
- Menyadari bahwa kuasa Tuhan selalu menghantarkan diri untuk melaksanakan yang baik.
- Melihat, mencicipi dan mendapatkan segala hal akan kuasa Tuhan baik yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan.
- Menyadari akan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.
- Bertanggung jawab untuk menghantarkan keselamatan dirinya dan orang lain.
- Berusaha berbuat baik walaupun seringkali tidak mudah.
- Tidak membiarkan pikiran, perkataan dan perbuatannya untuk memaki, membenci, menyerang, dan merendahkan agama atau kepercayaan orang lain.
Tidak banyak orang yang benar-benar bisa untuk menjadi pandai balig cukup akal secara penuh. Semua orang dalam hidupnya terus mengalami perkembangan menjadi lebih tua, namun lebih dewasa.
Justru sebaliknya bagi sebagian orang semakin renta seseorang malah semakin kelihatan sifat kekanak-kanakannya.
Menurut prof Hasan, hakikat kedewasaan seseorang ialah kematangan emosional yang tercermin pada tiap perbuatannya.
"Dewasa bukan proses rekayasa, tetapi merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan."
Kedewasaan yang mana yang berdasarkan anda sangat penting bagi kehidupan ini ?"Dewasa bukan proses rekayasa, tetapi merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan."
Halo teman-teman kali ini saya akan membahas perihal macam kedewasaan berdasarkan Adolf Heukeun. Macam-macam kedewasaan berdasarkan Heuken sanggup dibedakan menjadi 5 macam yaitu.

1. Kedewasaan Jasmani, ciri-cirinya:
- Memiliki ukuran berat, kekuatan, keterampilan, koordinasi yang cukup sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya. Dari sisi fisik, biasanya pria lebih berpengaruh dari perempuan.
- Tidak berarti ada patokan yang pasti, seseorang akan berbeda dengan orang lain, baik pria ataupun perempuan.
- Tuhan dengan sengaja membuat jasmani ada yang tinggi, sedang, pendek, ada yang kurus, sedang, gemuk, dan sebagainya.
- Laki-laki dan wanita akan menjadi pandai balig cukup akal secara fisik ada yang berbeda atau tidak mesti bersamaan.
2. Kedewasaan Intelektual, ciri-cirinya:
- Mampu berpikir secara matang dan logis.
- Mempunyai pertimbangan yang tepat.
- Berpengertian yang memadai perihal agama, dunia sekelilingnya dan dirinya sendiri.
3. Kedewasaan Emosional, ciri-cirinya:
- Dapat menyatakan diri dan menikmati hidup dengan penuh perasaan.
- Mampu mengungkapkan perasaan secara sempurna sesuai dengan kondisi dan situasi.
- Mau dan sanggup memerhatikan hal-hal, menyerupai mencicipi getaran patriotisme, kagum akan keindahan alam, hangat dalam bersahabat, membenci ketidakadilan, takut akan ancaman yang sungguh sangat mengancam, aib akan perbuatan hina dan menjijikan.
- Tidak membiarkan harga diri menjadi keangkuhan, simpati menjadi sentimen, kejengkelan menjadi kemarahan yang meledak-ledak, kesedihan menjadi putus asa, rasa takut yang masuk akal menjadi sifat penakut yang kekanak-kanakan.
- Mampu membedakan perbuatan yang baik dengan yang tidak baik serta bereaksi sebagaimana mestinya.
Kedewasaan emosi memerlukan sedikitnya tiga sifat:
- Kecukupan respon emosional, yang berarti bahwa respon-respon ini harus cocok dengan tingkat pertumbuhan. Orang dewasa, yang menyerupai anak kecil, yang memakai tangisan atau ledakan amarah untuk mendapatkan apa yang diinginkan merupakan ketidakdewasaan secara emosi.
- Tingkat dan kedalaman emosional, yang merupakan suatu aspek perkembangan atau pertumbuhan yang cukup. Seseorang yang perasaannya dangkal menyerupai yang dicontohkan pada orang yang terlalu simpatik, atau seseorang yang kekurangan perasaan menyerupai keramah-tamahan, perhatian, sayang, dan simpati (orang yang apatis) ialah tidak pandai balig cukup akal secara emosional.
- Pengendalian emosi, yang terus menjadi korban rasa takut atau cemas, marah, amukan, kecemburuan, benci, dan semacamnya.
4. Kedewasaan Sosial
Kedewasaan sosial remaja biasanya dicapai dengan adanya penerimaan sosial dari orang renta dan lingkungannya terhadap remaja sebagai orang yang sudah pandai balig cukup akal dan sejajar dengan orang-orang pandai balig cukup akal lainnya
Selain itu, kedewasaan sosial juga terwujud dengan adanya interaksi antara remaja dengan orang-orang pandai balig cukup akal di sekitarnya secara sederajat dan dewasa.
Dengan kata lain, remaja seharusnya disikapi sebagai orang pandai balig cukup akal dan dilibatkan dalam komunitas serta acara positif orang-orang dewasa.
Ciri-ciri kedewasaan sosial:
- Mampu bergaul secara luwes baik dengan orang yang lebih pandai balig cukup akal ataupun yang lebih muda atau dengan sebaya baik pria maupun perempuan.
- Tahu menentukan apa yang dihentikan dilakukan atau yang boleh dilakukan dalam situasi tertentu.
- Mau mengambilkan bab dalam kegiatan bersama yang beranekaragam.
- Sadar akan tanggung jawab terhadap orang lain semoga sanggup hidup bersama secara harmonis.
- Pandai "mengikat dan memengaruhi" sahabat atau orang lain secara bijak dengan tetap memperhatikan tutur kata yang baik, kesopanan, keramahan, kerjasama, pengorbanan, penguasaan emosi, dan pengetahuan.
- Bertindak sebagai pria atau wanita yang pandai balig cukup akal dalam suatu kelompok.
5. Kedewasaan Rohani, ciri-cirinya:
- Melaksanakan kewajiban agama yang dianut dan menjalani kehidupan etika yang baik.
- Menyadari bahwa kuasa Tuhan selalu menghantarkan diri untuk melaksanakan yang baik.
- Melihat, mencicipi dan mendapatkan segala hal akan kuasa Tuhan baik yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan.
- Menyadari akan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.
- Bertanggung jawab untuk menghantarkan keselamatan dirinya dan orang lain.
- Berusaha berbuat baik walaupun seringkali tidak mudah.
- Tidak membiarkan pikiran, perkataan dan perbuatannya untuk memaki, membenci, menyerang, dan merendahkan agama atau kepercayaan orang lain.
Tidak banyak orang yang benar-benar bisa untuk menjadi pandai balig cukup akal secara penuh. Semua orang dalam hidupnya terus mengalami perkembangan menjadi lebih tua, namun lebih dewasa.
Justru sebaliknya bagi sebagian orang semakin renta seseorang malah semakin kelihatan sifat kekanak-kanakannya.
Menurut prof Hasan, hakikat kedewasaan seseorang ialah kematangan emosional yang tercermin pada tiap perbuatannya.
"Dewasa bukan proses rekayasa, tetapi merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan."
Kedewasaan yang mana yang berdasarkan anda sangat penting bagi kehidupan ini ?"Dewasa bukan proses rekayasa, tetapi merupakan hasil capaian dari rentetan tahapan."
Lihat Detail
√ Memahami Apa Itu Kecerdasan Intelligence Quotient (Iq) ?
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini memiliki perbedaan arti yang sangat mendasar.
Arti inteligensi yaitu keahlian memecahkan kasus dari kemampuan untuk menyesuaikan diri pada dan berguru dari pengalaman hidup sehari-hari. Sedangkan IQ atau abreviasi dari intellegence quotient yaitu skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya menunjukkan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik (chronological age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur ia pada ketika itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skkor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan digunakan sebagai dasar perhitungan IQ.
Tetapi kemudian timbul kasus alasannya yaitu sehabis otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Menurut David Wechsler, Inteligensi yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar sanggup disimpulkan bahwa inteligensi yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Oleh alasannya yaitu itu inteligensi tidak bisa diamati secara eksklusif melainkan harus disimpulkan dari banyak sekali tindakan faktual yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya.
Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.
Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensiyang kuat terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia.
Anggapan awal bahwa IQ yaitu kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak sanggup berubah yaitu salah, alasannya yaitu penelitian modern menandakan bahwa kemampuan IQ sanggup meningkat dari proses belajar.
Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal misalnya seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi, kecerdasan ini tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
Secara umum, berdasarkan SC. Utami Munandar (dalam Sobur, 2003) inteligensi, meliputi 3 pengertian, yaitu:
Perlu diingat bahwa keberhasilan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh tinggi rendahnya IQ, tetapi oleh kuat atau tidaknya perjuangan seseorang untuk mencapainya dan jangan lupa iringi selalu dengan do'a.
Arti inteligensi yaitu keahlian memecahkan kasus dari kemampuan untuk menyesuaikan diri pada dan berguru dari pengalaman hidup sehari-hari. Sedangkan IQ atau abreviasi dari intellegence quotient yaitu skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya menunjukkan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik (chronological age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur ia pada ketika itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skkor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan digunakan sebagai dasar perhitungan IQ.
Tetapi kemudian timbul kasus alasannya yaitu sehabis otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Menurut David Wechsler, Inteligensi yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar sanggup disimpulkan bahwa inteligensi yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Oleh alasannya yaitu itu inteligensi tidak bisa diamati secara eksklusif melainkan harus disimpulkan dari banyak sekali tindakan faktual yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya.
Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.
Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensiyang kuat terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia.
Anggapan awal bahwa IQ yaitu kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak sanggup berubah yaitu salah, alasannya yaitu penelitian modern menandakan bahwa kemampuan IQ sanggup meningkat dari proses belajar.
Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal misalnya seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi, kecerdasan ini tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
Secara umum, berdasarkan SC. Utami Munandar (dalam Sobur, 2003) inteligensi, meliputi 3 pengertian, yaitu:
- Kemampuan tingkat tinggi, menyerupai budi sehat abstrak, representatif mental, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan.
- Kemampuan belajar, terutama berguru dari pengalaman.
- Kemampuan untuk memenuhi tuntutan lingkungan atau beradaptasi.
Tes inteligensi merupakan tes psikologi untuk mendapat isu mengenai 'tingkat kecerdasan' seseorang.
Pengambilan keputusan tertentu berdasarkan hasil tes inteligensi sanggup memengaruhi nasib seseorang, kelompok maupun masyarakat luas.
Oleh alasannya yaitu itu, penggunaan hasil tes inteligensi haruslah bijaksana. Hasil tes inteligensi sanggup digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mengevaluasi diri.
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini memiliki perbedaan arti yang sangat mendasar.
Arti inteligensi yaitu keahlian memecahkan kasus dari kemampuan untuk menyesuaikan diri pada dan berguru dari pengalaman hidup sehari-hari. Sedangkan IQ atau abreviasi dari intellegence quotient yaitu skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya menunjukkan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik (chronological age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur ia pada ketika itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skkor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan digunakan sebagai dasar perhitungan IQ.
Tetapi kemudian timbul kasus alasannya yaitu sehabis otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Menurut David Wechsler, Inteligensi yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar sanggup disimpulkan bahwa inteligensi yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Oleh alasannya yaitu itu inteligensi tidak bisa diamati secara eksklusif melainkan harus disimpulkan dari banyak sekali tindakan faktual yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya.
Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.
Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensiyang kuat terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia.
Anggapan awal bahwa IQ yaitu kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak sanggup berubah yaitu salah, alasannya yaitu penelitian modern menandakan bahwa kemampuan IQ sanggup meningkat dari proses belajar.
Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal misalnya seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi, kecerdasan ini tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
Secara umum, berdasarkan SC. Utami Munandar (dalam Sobur, 2003) inteligensi, meliputi 3 pengertian, yaitu:
Perlu diingat bahwa keberhasilan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh tinggi rendahnya IQ, tetapi oleh kuat atau tidaknya perjuangan seseorang untuk mencapainya dan jangan lupa iringi selalu dengan do'a.
Arti inteligensi yaitu keahlian memecahkan kasus dari kemampuan untuk menyesuaikan diri pada dan berguru dari pengalaman hidup sehari-hari. Sedangkan IQ atau abreviasi dari intellegence quotient yaitu skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan.
Dengan demikian, IQ hanya menunjukkan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik (chronological age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur ia pada ketika itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skkor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan digunakan sebagai dasar perhitungan IQ.
Tetapi kemudian timbul kasus alasannya yaitu sehabis otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Menurut David Wechsler, Inteligensi yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar sanggup disimpulkan bahwa inteligensi yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Oleh alasannya yaitu itu inteligensi tidak bisa diamati secara eksklusif melainkan harus disimpulkan dari banyak sekali tindakan faktual yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya.
Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.
Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensiyang kuat terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia.
Anggapan awal bahwa IQ yaitu kemampuan bawaan lahir yang mutlak dan tak sanggup berubah yaitu salah, alasannya yaitu penelitian modern menandakan bahwa kemampuan IQ sanggup meningkat dari proses belajar.
Kecerdasan ini pun tidaklah baku untuk satu hal saja, tetapi untuk banyak hal misalnya seseorang dengan kemampuan mahir dalam bermusik, dan yang lainnya dalam hal olahraga. Jadi, kecerdasan ini tiap orang tidaklah sama, tetapi berbeda satu sama lainnya.
Secara umum, berdasarkan SC. Utami Munandar (dalam Sobur, 2003) inteligensi, meliputi 3 pengertian, yaitu:
- Kemampuan tingkat tinggi, menyerupai budi sehat abstrak, representatif mental, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan.
- Kemampuan belajar, terutama berguru dari pengalaman.
- Kemampuan untuk memenuhi tuntutan lingkungan atau beradaptasi.
Tes inteligensi merupakan tes psikologi untuk mendapat isu mengenai 'tingkat kecerdasan' seseorang.
Pengambilan keputusan tertentu berdasarkan hasil tes inteligensi sanggup memengaruhi nasib seseorang, kelompok maupun masyarakat luas.
Oleh alasannya yaitu itu, penggunaan hasil tes inteligensi haruslah bijaksana. Hasil tes inteligensi sanggup digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mengevaluasi diri.
Lihat Detail
√ Bidang-Bidang Kemampuan Khusus Talenta Seseorang
Intelegensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan spesifik ini menunjukkan suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu sesudah melalui suatu latihan, inilah yang disebut talenta (apptitude).
Bakat yaitu kemampuan bawaan sebagai potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan dan dilatih/dipelajrai. Karena masih potensial, talenta merupakan potensi yang masih memerlukan latihan dan pengembangan secara serius dan sistematis semoga sanggup terwujud.
Bakat sangat besar lengan berkuasa dalam pemilihan karir, dengan mengenal talenta sendiri seseorang sanggup menilai kemampuannya dan sanggup beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau proposal dunia kerja.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes talenta atau aptitude test. Differential Aptitude Test (DAT) secara umum digunakan untuk mengetahui talenta seseorang dalam memilih bidang pekerjaan yang cocok untuk dirinya.
untuk melihat kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk kata-kata.
2. Numerik
untuk melihat seberapa baik seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk angka-angka.
3. Skolastik
untuk melihat kemampuan berpikir ekspresi dan numerikal seseorang dalam menuntaskan kiprah mata pelajaran.akademik. Biasanya tes ini digunakan untuk menyeleksi siswa berbakat (gifted children) dan siswa yang akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Abstrak
untuk mengetahui seberapa baik dan gampang seseorang memecahkan persoalan dengan memakai diagram, pola, dab rancangan yang disajikan dalam ukuran, bentuk, dan posisi.
Biasanya tes ini bersama dengan tes korelasi ruang dan mekanik digunakan untuk meramalkan jenis pekerjaan bidang mesin, teknik, dan industri.
5. Relasi ruang
untuk mengetahui seberapa baik seseorang sanggup memvisualkan, mengamati, dan membentuk citra mental dari objek-objek dengan melihat referensi dua dimensi dan berpikir dalam tiga dimensi.
6. Mekanik
untuk mengetahui seberapa gampang seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam dan seberapa baik seseorang mengerti tata kerja dalam perkakas sederhana, mesin, dan peralatan lainnya.
7. Kecepatan dan ketelitian klerikal
untuk mengetahui seberapa cepat dan teliti seseorang dalam menuntaskan tugas-tugas yang bekerjasama dengan pencatatan.
8. Kemampuan Bahasa Indonesia
untuk mengetahui seberapa baik pengertian dan keterampilan ejaan seseorang, seberapa banyak kosakata yang dikuasai, seberapa tinggi kelancarannya, serta kepekaan seseorang dalam berbahasa Indonesia.
9. Kemampuan bahasa asing
untuk mengetahui seberapa baik kemampuan seseorang dalam mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa asing.
Itulah sembilan bidang talenta yang dimiliki seseorang, masing-masing orang menonjol dalam bidang talenta tertentu dan sangat jarang orang yang mempunyai seluruh kemampuan bidang talenta diatas.
Kemampuan-kemampuan spesifik ini menunjukkan suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu sesudah melalui suatu latihan, inilah yang disebut talenta (apptitude).
Bakat yaitu kemampuan bawaan sebagai potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan dan dilatih/dipelajrai. Karena masih potensial, talenta merupakan potensi yang masih memerlukan latihan dan pengembangan secara serius dan sistematis semoga sanggup terwujud.
Bakat sangat besar lengan berkuasa dalam pemilihan karir, dengan mengenal talenta sendiri seseorang sanggup menilai kemampuannya dan sanggup beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau proposal dunia kerja.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes talenta atau aptitude test. Differential Aptitude Test (DAT) secara umum digunakan untuk mengetahui talenta seseorang dalam memilih bidang pekerjaan yang cocok untuk dirinya.

Bidang-Bidang Bakat
1. Verbaluntuk melihat kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk kata-kata.
2. Numerik
untuk melihat seberapa baik seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk angka-angka.
3. Skolastik
untuk melihat kemampuan berpikir ekspresi dan numerikal seseorang dalam menuntaskan kiprah mata pelajaran.akademik. Biasanya tes ini digunakan untuk menyeleksi siswa berbakat (gifted children) dan siswa yang akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Abstrak
untuk mengetahui seberapa baik dan gampang seseorang memecahkan persoalan dengan memakai diagram, pola, dab rancangan yang disajikan dalam ukuran, bentuk, dan posisi.
Biasanya tes ini bersama dengan tes korelasi ruang dan mekanik digunakan untuk meramalkan jenis pekerjaan bidang mesin, teknik, dan industri.
5. Relasi ruang
untuk mengetahui seberapa baik seseorang sanggup memvisualkan, mengamati, dan membentuk citra mental dari objek-objek dengan melihat referensi dua dimensi dan berpikir dalam tiga dimensi.
6. Mekanik
untuk mengetahui seberapa gampang seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam dan seberapa baik seseorang mengerti tata kerja dalam perkakas sederhana, mesin, dan peralatan lainnya.
7. Kecepatan dan ketelitian klerikal
untuk mengetahui seberapa cepat dan teliti seseorang dalam menuntaskan tugas-tugas yang bekerjasama dengan pencatatan.
8. Kemampuan Bahasa Indonesia
untuk mengetahui seberapa baik pengertian dan keterampilan ejaan seseorang, seberapa banyak kosakata yang dikuasai, seberapa tinggi kelancarannya, serta kepekaan seseorang dalam berbahasa Indonesia.
9. Kemampuan bahasa asing
untuk mengetahui seberapa baik kemampuan seseorang dalam mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa asing.
Itulah sembilan bidang talenta yang dimiliki seseorang, masing-masing orang menonjol dalam bidang talenta tertentu dan sangat jarang orang yang mempunyai seluruh kemampuan bidang talenta diatas.
Intelegensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan spesifik ini menunjukkan suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu sesudah melalui suatu latihan, inilah yang disebut talenta (apptitude).
Bakat yaitu kemampuan bawaan sebagai potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan dan dilatih/dipelajrai. Karena masih potensial, talenta merupakan potensi yang masih memerlukan latihan dan pengembangan secara serius dan sistematis semoga sanggup terwujud.
Bakat sangat besar lengan berkuasa dalam pemilihan karir, dengan mengenal talenta sendiri seseorang sanggup menilai kemampuannya dan sanggup beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau proposal dunia kerja.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes talenta atau aptitude test. Differential Aptitude Test (DAT) secara umum digunakan untuk mengetahui talenta seseorang dalam memilih bidang pekerjaan yang cocok untuk dirinya.
untuk melihat kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk kata-kata.
2. Numerik
untuk melihat seberapa baik seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk angka-angka.
3. Skolastik
untuk melihat kemampuan berpikir ekspresi dan numerikal seseorang dalam menuntaskan kiprah mata pelajaran.akademik. Biasanya tes ini digunakan untuk menyeleksi siswa berbakat (gifted children) dan siswa yang akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Abstrak
untuk mengetahui seberapa baik dan gampang seseorang memecahkan persoalan dengan memakai diagram, pola, dab rancangan yang disajikan dalam ukuran, bentuk, dan posisi.
Biasanya tes ini bersama dengan tes korelasi ruang dan mekanik digunakan untuk meramalkan jenis pekerjaan bidang mesin, teknik, dan industri.
5. Relasi ruang
untuk mengetahui seberapa baik seseorang sanggup memvisualkan, mengamati, dan membentuk citra mental dari objek-objek dengan melihat referensi dua dimensi dan berpikir dalam tiga dimensi.
6. Mekanik
untuk mengetahui seberapa gampang seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam dan seberapa baik seseorang mengerti tata kerja dalam perkakas sederhana, mesin, dan peralatan lainnya.
7. Kecepatan dan ketelitian klerikal
untuk mengetahui seberapa cepat dan teliti seseorang dalam menuntaskan tugas-tugas yang bekerjasama dengan pencatatan.
8. Kemampuan Bahasa Indonesia
untuk mengetahui seberapa baik pengertian dan keterampilan ejaan seseorang, seberapa banyak kosakata yang dikuasai, seberapa tinggi kelancarannya, serta kepekaan seseorang dalam berbahasa Indonesia.
9. Kemampuan bahasa asing
untuk mengetahui seberapa baik kemampuan seseorang dalam mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa asing.
Itulah sembilan bidang talenta yang dimiliki seseorang, masing-masing orang menonjol dalam bidang talenta tertentu dan sangat jarang orang yang mempunyai seluruh kemampuan bidang talenta diatas.
Kemampuan-kemampuan spesifik ini menunjukkan suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu sesudah melalui suatu latihan, inilah yang disebut talenta (apptitude).
Bakat yaitu kemampuan bawaan sebagai potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan dan dilatih/dipelajrai. Karena masih potensial, talenta merupakan potensi yang masih memerlukan latihan dan pengembangan secara serius dan sistematis semoga sanggup terwujud.
Bakat sangat besar lengan berkuasa dalam pemilihan karir, dengan mengenal talenta sendiri seseorang sanggup menilai kemampuannya dan sanggup beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau proposal dunia kerja.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes talenta atau aptitude test. Differential Aptitude Test (DAT) secara umum digunakan untuk mengetahui talenta seseorang dalam memilih bidang pekerjaan yang cocok untuk dirinya.

Bidang-Bidang Bakat
1. Verbaluntuk melihat kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk kata-kata.
2. Numerik
untuk melihat seberapa baik seseorang dalam berpikir, memahami pandangan gres dan konsep, serta memecahkan persoalan dalam bentuk angka-angka.
3. Skolastik
untuk melihat kemampuan berpikir ekspresi dan numerikal seseorang dalam menuntaskan kiprah mata pelajaran.akademik. Biasanya tes ini digunakan untuk menyeleksi siswa berbakat (gifted children) dan siswa yang akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Abstrak
untuk mengetahui seberapa baik dan gampang seseorang memecahkan persoalan dengan memakai diagram, pola, dab rancangan yang disajikan dalam ukuran, bentuk, dan posisi.
Biasanya tes ini bersama dengan tes korelasi ruang dan mekanik digunakan untuk meramalkan jenis pekerjaan bidang mesin, teknik, dan industri.
5. Relasi ruang
untuk mengetahui seberapa baik seseorang sanggup memvisualkan, mengamati, dan membentuk citra mental dari objek-objek dengan melihat referensi dua dimensi dan berpikir dalam tiga dimensi.
6. Mekanik
untuk mengetahui seberapa gampang seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam dan seberapa baik seseorang mengerti tata kerja dalam perkakas sederhana, mesin, dan peralatan lainnya.
7. Kecepatan dan ketelitian klerikal
untuk mengetahui seberapa cepat dan teliti seseorang dalam menuntaskan tugas-tugas yang bekerjasama dengan pencatatan.
8. Kemampuan Bahasa Indonesia
untuk mengetahui seberapa baik pengertian dan keterampilan ejaan seseorang, seberapa banyak kosakata yang dikuasai, seberapa tinggi kelancarannya, serta kepekaan seseorang dalam berbahasa Indonesia.
9. Kemampuan bahasa asing
untuk mengetahui seberapa baik kemampuan seseorang dalam mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa asing.
Itulah sembilan bidang talenta yang dimiliki seseorang, masing-masing orang menonjol dalam bidang talenta tertentu dan sangat jarang orang yang mempunyai seluruh kemampuan bidang talenta diatas.
Langganan:
Komentar (Atom)
© 2020 AnymStore. Made With ❤ Anym