Lihat Detail
√ Sejarah, Pengertian, Dan Jenis-Jenis Peta
Kapan Peta mulai ada dan dipakai insan ? peta mulai ada dan dipakai manusia, semenjak insan melaksanakan penjelajahan dan penelitian walaupun masih dalam bentuk denah mengenai lokasi suatu tempat.
Pada awal kurun ke 2 (87 M - 150 M), Claudius Ptolomaeus adalah spesialis geografi, astronom, dan astrolog yang hidup di zaman helenistik, ia mengemukakan mengenai penting nya peta.
Pada awal kurun ke 2 (87 M - 150 M), Claudius Ptolomaeus adalah spesialis geografi, astronom, dan astrolog yang hidup di zaman helenistik, ia mengemukakan mengenai penting nya peta.
Kumpulan dari peta-peta karya Claudius Ptolomaeus di bukukan dan diberi nama "Atlas Ptolomaeus". Istilah peta diambil dari bahasa Inggris yaitu Map, kata itu berasal dari bahasa Yunani yaitu Mappa yang berarti taplak atau kain epilog meja.
Menurut ICA (International Cartograpic Association) peta yaitu suatu citra atau representasi unsur-unsur kenampakan abnormal yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.
Menurut ICA (International Cartograpic Association) peta yaitu suatu citra atau representasi unsur-unsur kenampakan abnormal yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.
Dengan demikian peta yaitu gambar, akan tetapi tidak semua gambar yaitu peta. Penggunaan skala peta yaitu perbandingan antara bidang gambar dengan permukaan bumi sebenarnya. Permukaan bumi mustahil digambar sesuai dengan ukuran aslinya, sehingga harus diperkecil dengan ukuran tertentu.
Karena peta sebagai citra permukaan bumi pada sebuah bidang datar, sedangkan bumi merupakan benda berbentuk bola, maka untuk menciptakan peta, baik sebagian maupun seluruh permukaan bumi harus memakai teknik proyeksi tertentu.
Karena peta sebagai citra permukaan bumi pada sebuah bidang datar, sedangkan bumi merupakan benda berbentuk bola, maka untuk menciptakan peta, baik sebagian maupun seluruh permukaan bumi harus memakai teknik proyeksi tertentu.
Ilmu yang mempelajari wacana pengetahuan dan teknik pembuatan peta disebut kartografi, sedangkan orang yang andal dalam menciptakan peta disebut kartografer.
Jenis-Jenis Peta
Pada awalnya, pembuatan peta hanya untuk menggambarkan permukaan bumi yang bersifat umum. Setelah itu, peta berkembang sehingga menggambarkan hal-hal khusus yang diubahsuaikan dengan kebutuhan pembuat dan pengguna peta. Dengan demikian peta yang sanggup kalian temukan sangat banyak jenisnya.
Banyak nya jenis peta tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, contohnya tujuan pembuatan peta, jenis simbol dan skala yang digunakan, atau kecendrungan penonjolan bentuk fenomena yang akan digambarkan.
Dari sekian banyak Jenis-jenis peta, intinya sanggup dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu menurut isi peta dan skala peta.
Dari sekian banyak Jenis-jenis peta, intinya sanggup dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu menurut isi peta dan skala peta.
Menurut Isi Peta
Menurut isi peta, dibedakan menjadi peta umum dan peta khusus
Peta umum yaitu peta yang menggambarkan seluruh penampakan yang ada dipermukaan bumi, baik bersifat alamiah (misalnya sungai, danau, gunung, laut, hutan, dan lain-lain) Contoh peta umum antara lain peta dunia, peta korografi, peta rupa bumi dan peta topografi.
![]() |
| Peta Umum |
Peta khusus disebut juga peta tematik, yaitu peta yang menggambarkan atau menyajikan info penampakan tertentu (Spesifik) di permukaan bumi.
![]() |
| Peta Khusus |
Menurut Skala Yang di Buat
Menurut skala yang di buat peta sanggup dikelompokkan sebagai berikut.
1. Peta Kadaster
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 100 hingga dengan 1 : 5.000. Contoh peta hak milik tanah.
2. Peta Skala Besar
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 5.000 hingga dengan 1 : 250.000. Contoh peta topografi.
3. Peta Skala Sedang
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 250.000 hingga dengan 1 : 500.000. Contoh peta kabupaten per provinsi.
4. Peta Skala Kecil
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 500.000 hingga dengan 1 : 1.000.000. Contoh peta provinsi di Indonesia.
5. Peta Geografi
Yaitu peta yang mempunyai skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000. Contoh peta Indonesia dan peta dunia.
Setelah mengetahui apa itu peta dan jenis-jenisnya kini silahkan pahami lebih lanjut mengenai komponen yang ada pada peta.
Kapan Peta mulai ada dan dipakai insan ? peta mulai ada dan dipakai manusia, semenjak insan melaksanakan penjelajahan dan penelitian walaupun masih dalam bentuk denah mengenai lokasi suatu tempat.
Pada awal kurun ke 2 (87 M - 150 M), Claudius Ptolomaeus adalah spesialis geografi, astronom, dan astrolog yang hidup di zaman helenistik, ia mengemukakan mengenai penting nya peta.
Pada awal kurun ke 2 (87 M - 150 M), Claudius Ptolomaeus adalah spesialis geografi, astronom, dan astrolog yang hidup di zaman helenistik, ia mengemukakan mengenai penting nya peta.
Kumpulan dari peta-peta karya Claudius Ptolomaeus di bukukan dan diberi nama "Atlas Ptolomaeus". Istilah peta diambil dari bahasa Inggris yaitu Map, kata itu berasal dari bahasa Yunani yaitu Mappa yang berarti taplak atau kain epilog meja.
Menurut ICA (International Cartograpic Association) peta yaitu suatu citra atau representasi unsur-unsur kenampakan abnormal yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.
Menurut ICA (International Cartograpic Association) peta yaitu suatu citra atau representasi unsur-unsur kenampakan abnormal yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.
Dengan demikian peta yaitu gambar, akan tetapi tidak semua gambar yaitu peta. Penggunaan skala peta yaitu perbandingan antara bidang gambar dengan permukaan bumi sebenarnya. Permukaan bumi mustahil digambar sesuai dengan ukuran aslinya, sehingga harus diperkecil dengan ukuran tertentu.
Karena peta sebagai citra permukaan bumi pada sebuah bidang datar, sedangkan bumi merupakan benda berbentuk bola, maka untuk menciptakan peta, baik sebagian maupun seluruh permukaan bumi harus memakai teknik proyeksi tertentu.
Karena peta sebagai citra permukaan bumi pada sebuah bidang datar, sedangkan bumi merupakan benda berbentuk bola, maka untuk menciptakan peta, baik sebagian maupun seluruh permukaan bumi harus memakai teknik proyeksi tertentu.
Ilmu yang mempelajari wacana pengetahuan dan teknik pembuatan peta disebut kartografi, sedangkan orang yang andal dalam menciptakan peta disebut kartografer.
Jenis-Jenis Peta
Pada awalnya, pembuatan peta hanya untuk menggambarkan permukaan bumi yang bersifat umum. Setelah itu, peta berkembang sehingga menggambarkan hal-hal khusus yang diubahsuaikan dengan kebutuhan pembuat dan pengguna peta. Dengan demikian peta yang sanggup kalian temukan sangat banyak jenisnya.
Banyak nya jenis peta tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, contohnya tujuan pembuatan peta, jenis simbol dan skala yang digunakan, atau kecendrungan penonjolan bentuk fenomena yang akan digambarkan.
Dari sekian banyak Jenis-jenis peta, intinya sanggup dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu menurut isi peta dan skala peta.
Dari sekian banyak Jenis-jenis peta, intinya sanggup dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu menurut isi peta dan skala peta.
Menurut Isi Peta
Menurut isi peta, dibedakan menjadi peta umum dan peta khusus
Peta umum yaitu peta yang menggambarkan seluruh penampakan yang ada dipermukaan bumi, baik bersifat alamiah (misalnya sungai, danau, gunung, laut, hutan, dan lain-lain) Contoh peta umum antara lain peta dunia, peta korografi, peta rupa bumi dan peta topografi.
![]() |
| Peta Umum |
Peta khusus disebut juga peta tematik, yaitu peta yang menggambarkan atau menyajikan info penampakan tertentu (Spesifik) di permukaan bumi.
![]() |
| Peta Khusus |
Menurut Skala Yang di Buat
Menurut skala yang di buat peta sanggup dikelompokkan sebagai berikut.
1. Peta Kadaster
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 100 hingga dengan 1 : 5.000. Contoh peta hak milik tanah.
2. Peta Skala Besar
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 5.000 hingga dengan 1 : 250.000. Contoh peta topografi.
3. Peta Skala Sedang
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 250.000 hingga dengan 1 : 500.000. Contoh peta kabupaten per provinsi.
4. Peta Skala Kecil
Yaitu peta yang mempunyai skala antara 1 : 500.000 hingga dengan 1 : 1.000.000. Contoh peta provinsi di Indonesia.
5. Peta Geografi
Yaitu peta yang mempunyai skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000. Contoh peta Indonesia dan peta dunia.
Setelah mengetahui apa itu peta dan jenis-jenisnya kini silahkan pahami lebih lanjut mengenai komponen yang ada pada peta.
Lihat Detail
√ Penjabaran Industri Menurut Materi Baku Dan Tenaga Kerja
Istilah industri sering diidentikkan dengan semua acara ekonomi insan yang mengolah barang mentah atau materi baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dari definisi tersebut, istilah industri sering disebut sebagai acara manufaktur (manufacturing). Padahal, pengertian industri sangatlah luas, yaitu menyangkut semua acara insan dalam bidang ekonomi yang sifatnya produktif dan komersial.
Karena merupakan acara ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat acara perjuangan tersebut.
Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu menurut materi baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan.
Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut memilih keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis idustrinya.
Adapun pembagian terstruktur mengenai industri menurut kriteria masing-masing, yaitu sebagai berikut.
Karena merupakan acara ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat acara perjuangan tersebut.
Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu menurut materi baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan.
Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut memilih keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis idustrinya.
Adapun pembagian terstruktur mengenai industri menurut kriteria masing-masing, yaitu sebagai berikut.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku

Tiap-tiap industri membutuhkan materi baku yang berbeda, tergantung pada apa yang akan dihasilkan dari proses industri tersebut. Berdasarkan materi baku yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjad.
1. Industri Ekstraktif, yaitu industri yang materi bakunya diperoleh pribadi dari alam. Misalnya: industri hasil pertanian, industri hasil perikanan, dan industri hasil kehutanan.
2. Industri Nonekstraktif, yaitu industri yang mengolah lebih lanjut hasil-hasil industri lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri pemintalan, dan industri kain.
3. Industri Fsilitatif atau disebut juga industri tertier. Kegiatan industrinya yaitu dengan menjual jasa layanan untuk keperluan orang lain. Misalnya: perbankan, perdagangan, angkutan, dan pariwisata.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Tenaga Kerja

Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi :
1. Industri Rumah Tangga, yaitu industri yang memakai tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini mempunyai modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya.
Misalnya: Industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe atau tahu, dan industri masakan ringan.
Misalnya: Industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe atau tahu, dan industri masakan ringan.
2. Industri Kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 hingga 19 orang. Ciri industri kecil yaitu mempunyai modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada korelasi saudara.
Misalnya: industri genteng, industri kerikil bata, dan industri pengolahan rotan.
3. Industri Sedang, yaitu industri yang memakai tenaga kerja sekitar 20 hingga 99 orang. Ciri industri sedang yaitu mempunyai modal yang cukup besar, tenaga kerja mempunyai keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan mempunyai kemampuan manajerial tertentu.
Misalnya :industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
Misalnya :industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
4. Industri Besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar yaitu mempunyai modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus mempunyai keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan kelayakan (fit and proper test).
Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.
Nah itu lah pembahasan perihal Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku dan Tenaga Kerja yang dibahas secara lengkap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk semua orang.
Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.
Nah itu lah pembahasan perihal Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku dan Tenaga Kerja yang dibahas secara lengkap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk semua orang.
Istilah industri sering diidentikkan dengan semua acara ekonomi insan yang mengolah barang mentah atau materi baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dari definisi tersebut, istilah industri sering disebut sebagai acara manufaktur (manufacturing). Padahal, pengertian industri sangatlah luas, yaitu menyangkut semua acara insan dalam bidang ekonomi yang sifatnya produktif dan komersial.
Karena merupakan acara ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat acara perjuangan tersebut.
Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu menurut materi baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan.
Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut memilih keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis idustrinya.
Adapun pembagian terstruktur mengenai industri menurut kriteria masing-masing, yaitu sebagai berikut.
Karena merupakan acara ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat acara perjuangan tersebut.
Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu menurut materi baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan.
Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut memilih keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis idustrinya.
Adapun pembagian terstruktur mengenai industri menurut kriteria masing-masing, yaitu sebagai berikut.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku

Tiap-tiap industri membutuhkan materi baku yang berbeda, tergantung pada apa yang akan dihasilkan dari proses industri tersebut. Berdasarkan materi baku yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjad.
1. Industri Ekstraktif, yaitu industri yang materi bakunya diperoleh pribadi dari alam. Misalnya: industri hasil pertanian, industri hasil perikanan, dan industri hasil kehutanan.
2. Industri Nonekstraktif, yaitu industri yang mengolah lebih lanjut hasil-hasil industri lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri pemintalan, dan industri kain.
3. Industri Fsilitatif atau disebut juga industri tertier. Kegiatan industrinya yaitu dengan menjual jasa layanan untuk keperluan orang lain. Misalnya: perbankan, perdagangan, angkutan, dan pariwisata.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Tenaga Kerja

Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi :
1. Industri Rumah Tangga, yaitu industri yang memakai tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini mempunyai modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya.
Misalnya: Industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe atau tahu, dan industri masakan ringan.
Misalnya: Industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe atau tahu, dan industri masakan ringan.
2. Industri Kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 hingga 19 orang. Ciri industri kecil yaitu mempunyai modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada korelasi saudara.
Misalnya: industri genteng, industri kerikil bata, dan industri pengolahan rotan.
3. Industri Sedang, yaitu industri yang memakai tenaga kerja sekitar 20 hingga 99 orang. Ciri industri sedang yaitu mempunyai modal yang cukup besar, tenaga kerja mempunyai keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan mempunyai kemampuan manajerial tertentu.
Misalnya :industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
Misalnya :industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
4. Industri Besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar yaitu mempunyai modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus mempunyai keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan kelayakan (fit and proper test).
Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.
Nah itu lah pembahasan perihal Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku dan Tenaga Kerja yang dibahas secara lengkap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk semua orang.
Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.
Nah itu lah pembahasan perihal Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku dan Tenaga Kerja yang dibahas secara lengkap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk semua orang.
Lihat Detail
√ Prinsip Dasar Peta Dan Pemetaan
Sebelum menciptakan peta seseorang harus mempunyai prinsip dasar peta dan pemetaan terlebih dahulu supaya proses pembuatan berjalan lancar dan sesuai dengan peta pada umumnya, ibarat apa prinsip dasar peta dan pemetaan? Silahkan simak dibawah ini.
Setelah tiruan gambar tempat pada peta selesai dilakukan, tahap terakhir ialah melengkapi bagian-bagian (komponen-komponen) peta pada gambar yang baru.
2. Fotocopi
Cara yang harus dilakukan yaitu dengan memfotocopi peta tersebut. Sebelum difotocopi usahakan peta yang akan diperbesar skalanya sudah diubah dalam bentuk skala garis atau batang, supaya perubahan hasil peta yang diperbesar akan sesuai dengan perubahan skala nya. Akan tetapi, jikalau masih dalam bentuk skala angka maka akan sangat sulit menyesuaikannya.
Contoh Mengubah skala angka ke skala garis. Skala 1 : 100.000 artinya jarak 10 cm di peta mewakili jarak 10 km dilaoangan.
Memenuhi ke empat syarat tersebut dalam mengubah bidang lengkung menjadi sebuah bidang datar ialah hal yang tidak mungkin. Apabila syarat sanggup dipenuhi, berarti mengorbankan syarat lainnya. Karena itu, untuk menciptakan rangka peta yang mencakup beberapa bab muka bumi, kita harus mengadakan kompromi diantara ke empat syarat tersebut.
Menurut Distorsinya
1. Proyeksi conform (orthomorphic), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan bentuk daerah-daerah kecil di peta sama bentuknya di muka bumi/globe.
2. Proyeksi Equal Area (equivalent), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan luas tempat pada peta sama dengan di muka bumi pada skala yang sama.
3. Proyeksi Euidistant, yaitu proyeksi yang menggambarkan jarak atau yang melalui sentra peta digambarkan berdasarkan panjang yang bahwasanya ibarat pada permukaan bumi dalam skala yang sama.
Jarak-jarak lain yang tidak mempunyai sentra peta tidak diperlihatkan secara jelas, sedangkan arah dari sentra kota ke aneka macam tempat digambarkan secara jelas. Proyeksi ini baik bagi peta navigasi yang rute nya melalui atau bertolak dari sentra peta.
Peta sanggup digambarkan dengan aneka macam gaya, masing-masing memperlihatkan permukaan yang berbeda untuk subjek yang sama yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan fungsional.

1. Prinsip Dasar Peta
Pada prinsipnya, peta merupakan seluruh atau sebagian dari permukaan bumi yang diperkecil pada sebuah bidang datar atau diproyeksikan dalam dua dimensi dengan metode dan perbandingan tertentu atau skala.
Gambar yang ada pada peta merupakan informasi geografis yang berafiliasi dengan bentuk wilayah beserta kenampakan fenomena alam dan budaya.
Berikut ini dijelaskan tahap-tahapan dalam pembuatan sebuah peta. Di dalam pembuatan peta, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan dengan teliti dan baik.
Adapun yang dimaksud pembuatan peta dalam hal ini bukan dalam pengertian pemetaan wilayah. Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta adalah.
Adapun yang dimaksud pembuatan peta dalam hal ini bukan dalam pengertian pemetaan wilayah. Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta adalah.
- Menentukan tempat yang akan kalian petakan.
- Membuat peta dasar (base map) yaitu peta yang belum diberi simbol.
- Mencari dan mengklasifikasikan (menggolongkan) data sesuai dengan kebutuhan.
- Membuat simbol-simbol yang mewakili data.
- Menempatkan simbol pada peta dasar.
- Membuat legenda (keterangan).
- Melengkapi peta dengan goresan pena (lettering) secara baik dan benar.
2. Pemetaan
a. Tata Cara Penulisan pada Peta
Untuk menciptakan goresan pena (lettering) pada peta ada akad diantara para hebat (kartografer) yaitu sebagai berikut :
- Nama geografis ditulis dengan bahasa dan istilah yang dipakai penduduk setempat. Contoh : Sungai ditulis Ci (Jawa Barat), Kreung (Aceh), Air (Sumatra Utara). Nama sungai ditulis searah dengan aliran sungai dan memakai abjad miring.
- Nama jalan ditulis harus searah dengan arah jalan tersebut, dan ditulis dengan abjad cetak kecil.
b. Memperbesar dan Memperkecil Peta
Langkah-langkah untuk memperbesar peta sama halnya dengan memperkecil peta, hanya tinggal kebalikannya. Langkah-langkah yang sanggup kau lakukan sebagai berikut.
1. Menggunakan Grid
Memperbesar dan atau memperkecil peta dengan derma grid atau garis-garis koordinat yaitu dengan memperlihatkan garis khayal pada peta yang terdiri atas garis lintang dan garis bujur.
1. Menggunakan Grid
Memperbesar dan atau memperkecil peta dengan derma grid atau garis-garis koordinat yaitu dengan memperlihatkan garis khayal pada peta yang terdiri atas garis lintang dan garis bujur.
Urutan Kerjanya sebagai berikut :
- Menentukan tempat yang akan digambar, contohnya menggambar Peta Pulau Jawa, diketahui peta orisinil skala 1 : 15.000.000 berukuran 40 x 30 cm.
- Menentukan pembesaran atau pengecilan gambar. Jika skala tempat yang akan digambar menjadi 1 : 7.500.000 ini berarti peta skala diperbesar dua kali dan ukuran peta diperbesar 2 kali menjadi 80 x 60 cm. Jika skala tempat yang akan digambar menjadi 1 : 30.000.000, ini berarti skala peta diperkecil 1/2 kali dan ukuran peta diperkecil 1/2 kali menjadi 20 x 15 cm.
- Menarik garis-garis yang sejajar garis tepi peta asli, sehingga terbentuk petak-petak. Jarak antar garis diadaptasi dengan ukuran pembesaran atau pengecilan.
- Melakukan langkah yang sama ibarat tahap 3 pada kertas lain yang dipersiapkan untuk memindahkan gambar.
- Meniru referensi garis yang berbentuk gambar tempat dalam peta orisinil pada kertas yang sudah dipersiapkan. Penarikan arah garis diadaptasi dengan titik-titik potong antara garis yang membentuk gambar tempat dengan garis-garis yang membentuk petak-petak pada peta asli
Setelah tiruan gambar tempat pada peta selesai dilakukan, tahap terakhir ialah melengkapi bagian-bagian (komponen-komponen) peta pada gambar yang baru.
2. Fotocopi
Cara yang harus dilakukan yaitu dengan memfotocopi peta tersebut. Sebelum difotocopi usahakan peta yang akan diperbesar skalanya sudah diubah dalam bentuk skala garis atau batang, supaya perubahan hasil peta yang diperbesar akan sesuai dengan perubahan skala nya. Akan tetapi, jikalau masih dalam bentuk skala angka maka akan sangat sulit menyesuaikannya.
Contoh Mengubah skala angka ke skala garis. Skala 1 : 100.000 artinya jarak 10 cm di peta mewakili jarak 10 km dilaoangan.
3. Menggunakan Alat Pantograf
Selain memperbesar grid dan memfotocopi untuk memperbesar dan memperkecil peta, maka sanggup memakai alat pantograf. Pantograf sanggup mengubah ukuran peta sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Pada dasarnya, kerja pentograf berdasarkan jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang (a,b, dan c) mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi tersebut sanggup diubah-ubah sesuai kebutuhan, yaitu memperbesar atau memperkecil peta. Pada alat ini juga dipakai formulasi yaitu.
m/M x 100
Contoh, Suatu peta akan diperbesar 5 kali lipat.
Diketahui:
Contoh, Suatu peta akan diperbesar 5 kali lipat.
Diketahui:
m = 1 (besar peta yang orisinil )
M = 5 (besar peta yang akan dibuat)
Maka skala faktor = 1/5 x 100 = 20
Setelah didapat besarnya skala faktor, kemudian pantograf diatur sehingga masing-masing lengan pantograf mempunyai skala faktor sama dengan 20.
Selanjutnya peta yang akan diperbesar letakkan ditempat B dan kertas gambar kosong letakkan ditempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian gerakkan B mengikuti peta asal, melalui beling pengamat atau dijiplak.
Setelah didapat besarnya skala faktor, kemudian pantograf diatur sehingga masing-masing lengan pantograf mempunyai skala faktor sama dengan 20.
Selanjutnya peta yang akan diperbesar letakkan ditempat B dan kertas gambar kosong letakkan ditempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian gerakkan B mengikuti peta asal, melalui beling pengamat atau dijiplak.
4. Proyeksi Peta
Peta merupakan citra dari seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diproyeksikan pada sebuah bidang sebuah bidang datar dengan memakai skala.
Bentuk muka bumi tidak lah beraturan, sehingga sangatlah sulit bila dilakukan perhitungan dari hasil pengukuran untuk dijadikan sebuah bidang datar (peta).
Untuk itu, diharapkan suatu bidang lain yang teratur yang mendekati bentuk muka bumi yang sebenarnya. Bidang tersebut ialah elipsoida dengan jarak dan luas tertentu, bidang inilah yang sanggup kita sebut sebagai bentuk matematis dari muka bumi.
Proyeksi peta ialah suatu sistem pemindahan dari bentuk permukaan yang lengkung atau bola pada suatu bidang datar. Apabila sebuah globe (bola bumi) kita buat menjadi sebuah bidang datar tanpa diproyeksikan terlebih dahulu maka akhirnya akan menjadi sobek-sobek.
1. Ketentuan Umum Proyeksi Peta
Beberapa ketentuan umum dalam proyeksi peta ialah sebagai berikut :
- Bentuk yang diubah harus tetap.
- Luas permukaan yang diubah harus tetap.
- Jarak antara satu titik dengan titik lain diatas permukaan yang diubah harus tetap.
- Sebuah peta yang akan diubah tidak mengalami penyimpangan arah.
Memenuhi ke empat syarat tersebut dalam mengubah bidang lengkung menjadi sebuah bidang datar ialah hal yang tidak mungkin. Apabila syarat sanggup dipenuhi, berarti mengorbankan syarat lainnya. Karena itu, untuk menciptakan rangka peta yang mencakup beberapa bab muka bumi, kita harus mengadakan kompromi diantara ke empat syarat tersebut.
Akibatnya muncullah aneka macam proyeksi peta, yang setiap proyeksi mempunyai kebaikan dan kelemahan. Apabila terdapat sebuah proyeksi yang menyatakan sama bentuk dan sama luas, hal itu hendaknya diartikan bahwa proyeksi yang bersangkutan hingga tingkat tertentu sanggup memenuhi syarat tersebut.
Akibat adanya kompromi untuk menyesuaikan peta berdasarkan kegunaannya, sehingga terjadi beberapa perubahan, yaitu perubahan jarak, perubahan sudut, dan perubahan luas. Dengan demikian, perlu diusahakan adanya suatu sistem proyeksi, supaya tetap dipertahankan suatu hubungan sudut yang sama serta tetap dipertahankan suatu hubungan luas yang sama dari bentuk-bentuk tertentu pada bidang yang satu ke bidang yang lain.
Untuk memahami dan mengaplikasikan kenyataan-kenyataan ini dalam memproyeksikan suatu bidang bola ke suatu bidang datar, perlu diketahui bahwa skala hanya terdapat pada satu titik dan skala sanggup berlainan dalam arah yang berlainan.
Perlu di ingat bahwa penyimpangan atau kesalahan yang terjadi pada dikala mengubah bidang lengkung menjadi bidang datar dinamakan distorsi peta.
2. Jenis-Jenis Proyeksi Peta
Untuk menghasilkan peta yang baik, terdapat beberapa jenis proyeksi peta sebagai berikut.
Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Silinder atau tabung, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada bidang silinder.
2. Proyeksi Kerucut, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada sebuah kerucut.
3. Proyeksi Azimuthal, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan globe pada sebuah bidang datar.
4. Proyeksi konvensional, ialah proyeksi peta yang tidak diklasifikasikan dalam proyeksi silinder, kerucut, maupun azimuthal tetapi diperoleh atas dasar ketentuan sendiri.
Menurut Garis Karakternya
Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Silinder atau tabung, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada bidang silinder.
2. Proyeksi Kerucut, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada sebuah kerucut.
3. Proyeksi Azimuthal, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan globe pada sebuah bidang datar.
4. Proyeksi konvensional, ialah proyeksi peta yang tidak diklasifikasikan dalam proyeksi silinder, kerucut, maupun azimuthal tetapi diperoleh atas dasar ketentuan sendiri.
Menurut Garis Karakternya
Garis karakter yang dimaksud dalam proyeksi ini ialah garis yang selalu melalui sentra globe yang merupakan sumber bidang proyeksi. Proyeksi berdasarkan garis karakter terdiri atas.
1. Proyeksi Normal, garis karakternya berhimpit dengan sumbu bumi.
1. Proyeksi Normal, garis karakternya berhimpit dengan sumbu bumi.
2. Proyeksi Miring, garis karakternya membentuk sudut dengan sumbu bumi.
3. Proyeksi Melintang, bila garis karakternya tegak lurus dengan sumbu globe.
Menurut Distorsinya
1. Proyeksi conform (orthomorphic), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan bentuk daerah-daerah kecil di peta sama bentuknya di muka bumi/globe.
2. Proyeksi Equal Area (equivalent), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan luas tempat pada peta sama dengan di muka bumi pada skala yang sama.
3. Proyeksi Euidistant, yaitu proyeksi yang menggambarkan jarak atau yang melalui sentra peta digambarkan berdasarkan panjang yang bahwasanya ibarat pada permukaan bumi dalam skala yang sama.
Jarak-jarak lain yang tidak mempunyai sentra peta tidak diperlihatkan secara jelas, sedangkan arah dari sentra kota ke aneka macam tempat digambarkan secara jelas. Proyeksi ini baik bagi peta navigasi yang rute nya melalui atau bertolak dari sentra peta.
Peta sanggup digambarkan dengan aneka macam gaya, masing-masing memperlihatkan permukaan yang berbeda untuk subjek yang sama yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan fungsional.
Sebelum menciptakan peta seseorang harus mempunyai prinsip dasar peta dan pemetaan terlebih dahulu supaya proses pembuatan berjalan lancar dan sesuai dengan peta pada umumnya, ibarat apa prinsip dasar peta dan pemetaan? Silahkan simak dibawah ini.
Setelah tiruan gambar tempat pada peta selesai dilakukan, tahap terakhir ialah melengkapi bagian-bagian (komponen-komponen) peta pada gambar yang baru.
2. Fotocopi
Cara yang harus dilakukan yaitu dengan memfotocopi peta tersebut. Sebelum difotocopi usahakan peta yang akan diperbesar skalanya sudah diubah dalam bentuk skala garis atau batang, supaya perubahan hasil peta yang diperbesar akan sesuai dengan perubahan skala nya. Akan tetapi, jikalau masih dalam bentuk skala angka maka akan sangat sulit menyesuaikannya.
Contoh Mengubah skala angka ke skala garis. Skala 1 : 100.000 artinya jarak 10 cm di peta mewakili jarak 10 km dilaoangan.
Memenuhi ke empat syarat tersebut dalam mengubah bidang lengkung menjadi sebuah bidang datar ialah hal yang tidak mungkin. Apabila syarat sanggup dipenuhi, berarti mengorbankan syarat lainnya. Karena itu, untuk menciptakan rangka peta yang mencakup beberapa bab muka bumi, kita harus mengadakan kompromi diantara ke empat syarat tersebut.
Menurut Distorsinya
1. Proyeksi conform (orthomorphic), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan bentuk daerah-daerah kecil di peta sama bentuknya di muka bumi/globe.
2. Proyeksi Equal Area (equivalent), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan luas tempat pada peta sama dengan di muka bumi pada skala yang sama.
3. Proyeksi Euidistant, yaitu proyeksi yang menggambarkan jarak atau yang melalui sentra peta digambarkan berdasarkan panjang yang bahwasanya ibarat pada permukaan bumi dalam skala yang sama.
Jarak-jarak lain yang tidak mempunyai sentra peta tidak diperlihatkan secara jelas, sedangkan arah dari sentra kota ke aneka macam tempat digambarkan secara jelas. Proyeksi ini baik bagi peta navigasi yang rute nya melalui atau bertolak dari sentra peta.
Peta sanggup digambarkan dengan aneka macam gaya, masing-masing memperlihatkan permukaan yang berbeda untuk subjek yang sama yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan fungsional.

1. Prinsip Dasar Peta
Pada prinsipnya, peta merupakan seluruh atau sebagian dari permukaan bumi yang diperkecil pada sebuah bidang datar atau diproyeksikan dalam dua dimensi dengan metode dan perbandingan tertentu atau skala.
Gambar yang ada pada peta merupakan informasi geografis yang berafiliasi dengan bentuk wilayah beserta kenampakan fenomena alam dan budaya.
Berikut ini dijelaskan tahap-tahapan dalam pembuatan sebuah peta. Di dalam pembuatan peta, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan dengan teliti dan baik.
Adapun yang dimaksud pembuatan peta dalam hal ini bukan dalam pengertian pemetaan wilayah. Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta adalah.
Adapun yang dimaksud pembuatan peta dalam hal ini bukan dalam pengertian pemetaan wilayah. Langkah-langkah prinsip pokok dalam pembuatan peta adalah.
- Menentukan tempat yang akan kalian petakan.
- Membuat peta dasar (base map) yaitu peta yang belum diberi simbol.
- Mencari dan mengklasifikasikan (menggolongkan) data sesuai dengan kebutuhan.
- Membuat simbol-simbol yang mewakili data.
- Menempatkan simbol pada peta dasar.
- Membuat legenda (keterangan).
- Melengkapi peta dengan goresan pena (lettering) secara baik dan benar.
2. Pemetaan
a. Tata Cara Penulisan pada Peta
Untuk menciptakan goresan pena (lettering) pada peta ada akad diantara para hebat (kartografer) yaitu sebagai berikut :
- Nama geografis ditulis dengan bahasa dan istilah yang dipakai penduduk setempat. Contoh : Sungai ditulis Ci (Jawa Barat), Kreung (Aceh), Air (Sumatra Utara). Nama sungai ditulis searah dengan aliran sungai dan memakai abjad miring.
- Nama jalan ditulis harus searah dengan arah jalan tersebut, dan ditulis dengan abjad cetak kecil.
b. Memperbesar dan Memperkecil Peta
Langkah-langkah untuk memperbesar peta sama halnya dengan memperkecil peta, hanya tinggal kebalikannya. Langkah-langkah yang sanggup kau lakukan sebagai berikut.
1. Menggunakan Grid
Memperbesar dan atau memperkecil peta dengan derma grid atau garis-garis koordinat yaitu dengan memperlihatkan garis khayal pada peta yang terdiri atas garis lintang dan garis bujur.
1. Menggunakan Grid
Memperbesar dan atau memperkecil peta dengan derma grid atau garis-garis koordinat yaitu dengan memperlihatkan garis khayal pada peta yang terdiri atas garis lintang dan garis bujur.
Urutan Kerjanya sebagai berikut :
- Menentukan tempat yang akan digambar, contohnya menggambar Peta Pulau Jawa, diketahui peta orisinil skala 1 : 15.000.000 berukuran 40 x 30 cm.
- Menentukan pembesaran atau pengecilan gambar. Jika skala tempat yang akan digambar menjadi 1 : 7.500.000 ini berarti peta skala diperbesar dua kali dan ukuran peta diperbesar 2 kali menjadi 80 x 60 cm. Jika skala tempat yang akan digambar menjadi 1 : 30.000.000, ini berarti skala peta diperkecil 1/2 kali dan ukuran peta diperkecil 1/2 kali menjadi 20 x 15 cm.
- Menarik garis-garis yang sejajar garis tepi peta asli, sehingga terbentuk petak-petak. Jarak antar garis diadaptasi dengan ukuran pembesaran atau pengecilan.
- Melakukan langkah yang sama ibarat tahap 3 pada kertas lain yang dipersiapkan untuk memindahkan gambar.
- Meniru referensi garis yang berbentuk gambar tempat dalam peta orisinil pada kertas yang sudah dipersiapkan. Penarikan arah garis diadaptasi dengan titik-titik potong antara garis yang membentuk gambar tempat dengan garis-garis yang membentuk petak-petak pada peta asli
Setelah tiruan gambar tempat pada peta selesai dilakukan, tahap terakhir ialah melengkapi bagian-bagian (komponen-komponen) peta pada gambar yang baru.
2. Fotocopi
Cara yang harus dilakukan yaitu dengan memfotocopi peta tersebut. Sebelum difotocopi usahakan peta yang akan diperbesar skalanya sudah diubah dalam bentuk skala garis atau batang, supaya perubahan hasil peta yang diperbesar akan sesuai dengan perubahan skala nya. Akan tetapi, jikalau masih dalam bentuk skala angka maka akan sangat sulit menyesuaikannya.
Contoh Mengubah skala angka ke skala garis. Skala 1 : 100.000 artinya jarak 10 cm di peta mewakili jarak 10 km dilaoangan.
3. Menggunakan Alat Pantograf
Selain memperbesar grid dan memfotocopi untuk memperbesar dan memperkecil peta, maka sanggup memakai alat pantograf. Pantograf sanggup mengubah ukuran peta sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Pada dasarnya, kerja pentograf berdasarkan jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang (a,b, dan c) mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi tersebut sanggup diubah-ubah sesuai kebutuhan, yaitu memperbesar atau memperkecil peta. Pada alat ini juga dipakai formulasi yaitu.
m/M x 100
Contoh, Suatu peta akan diperbesar 5 kali lipat.
Diketahui:
Contoh, Suatu peta akan diperbesar 5 kali lipat.
Diketahui:
m = 1 (besar peta yang orisinil )
M = 5 (besar peta yang akan dibuat)
Maka skala faktor = 1/5 x 100 = 20
Setelah didapat besarnya skala faktor, kemudian pantograf diatur sehingga masing-masing lengan pantograf mempunyai skala faktor sama dengan 20.
Selanjutnya peta yang akan diperbesar letakkan ditempat B dan kertas gambar kosong letakkan ditempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian gerakkan B mengikuti peta asal, melalui beling pengamat atau dijiplak.
Setelah didapat besarnya skala faktor, kemudian pantograf diatur sehingga masing-masing lengan pantograf mempunyai skala faktor sama dengan 20.
Selanjutnya peta yang akan diperbesar letakkan ditempat B dan kertas gambar kosong letakkan ditempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian gerakkan B mengikuti peta asal, melalui beling pengamat atau dijiplak.
4. Proyeksi Peta
Peta merupakan citra dari seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diproyeksikan pada sebuah bidang sebuah bidang datar dengan memakai skala.
Bentuk muka bumi tidak lah beraturan, sehingga sangatlah sulit bila dilakukan perhitungan dari hasil pengukuran untuk dijadikan sebuah bidang datar (peta).
Untuk itu, diharapkan suatu bidang lain yang teratur yang mendekati bentuk muka bumi yang sebenarnya. Bidang tersebut ialah elipsoida dengan jarak dan luas tertentu, bidang inilah yang sanggup kita sebut sebagai bentuk matematis dari muka bumi.
Proyeksi peta ialah suatu sistem pemindahan dari bentuk permukaan yang lengkung atau bola pada suatu bidang datar. Apabila sebuah globe (bola bumi) kita buat menjadi sebuah bidang datar tanpa diproyeksikan terlebih dahulu maka akhirnya akan menjadi sobek-sobek.
1. Ketentuan Umum Proyeksi Peta
Beberapa ketentuan umum dalam proyeksi peta ialah sebagai berikut :
- Bentuk yang diubah harus tetap.
- Luas permukaan yang diubah harus tetap.
- Jarak antara satu titik dengan titik lain diatas permukaan yang diubah harus tetap.
- Sebuah peta yang akan diubah tidak mengalami penyimpangan arah.
Memenuhi ke empat syarat tersebut dalam mengubah bidang lengkung menjadi sebuah bidang datar ialah hal yang tidak mungkin. Apabila syarat sanggup dipenuhi, berarti mengorbankan syarat lainnya. Karena itu, untuk menciptakan rangka peta yang mencakup beberapa bab muka bumi, kita harus mengadakan kompromi diantara ke empat syarat tersebut.
Akibatnya muncullah aneka macam proyeksi peta, yang setiap proyeksi mempunyai kebaikan dan kelemahan. Apabila terdapat sebuah proyeksi yang menyatakan sama bentuk dan sama luas, hal itu hendaknya diartikan bahwa proyeksi yang bersangkutan hingga tingkat tertentu sanggup memenuhi syarat tersebut.
Akibat adanya kompromi untuk menyesuaikan peta berdasarkan kegunaannya, sehingga terjadi beberapa perubahan, yaitu perubahan jarak, perubahan sudut, dan perubahan luas. Dengan demikian, perlu diusahakan adanya suatu sistem proyeksi, supaya tetap dipertahankan suatu hubungan sudut yang sama serta tetap dipertahankan suatu hubungan luas yang sama dari bentuk-bentuk tertentu pada bidang yang satu ke bidang yang lain.
Untuk memahami dan mengaplikasikan kenyataan-kenyataan ini dalam memproyeksikan suatu bidang bola ke suatu bidang datar, perlu diketahui bahwa skala hanya terdapat pada satu titik dan skala sanggup berlainan dalam arah yang berlainan.
Perlu di ingat bahwa penyimpangan atau kesalahan yang terjadi pada dikala mengubah bidang lengkung menjadi bidang datar dinamakan distorsi peta.
2. Jenis-Jenis Proyeksi Peta
Untuk menghasilkan peta yang baik, terdapat beberapa jenis proyeksi peta sebagai berikut.
Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Silinder atau tabung, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada bidang silinder.
2. Proyeksi Kerucut, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada sebuah kerucut.
3. Proyeksi Azimuthal, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan globe pada sebuah bidang datar.
4. Proyeksi konvensional, ialah proyeksi peta yang tidak diklasifikasikan dalam proyeksi silinder, kerucut, maupun azimuthal tetapi diperoleh atas dasar ketentuan sendiri.
Menurut Garis Karakternya
Menurut Bidang Proyeksinya
1. Proyeksi Silinder atau tabung, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada bidang silinder.
2. Proyeksi Kerucut, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan permukaan globe pada sebuah kerucut.
3. Proyeksi Azimuthal, ialah proyeksi peta yang diperoleh dengan cara memproyeksikan globe pada sebuah bidang datar.
4. Proyeksi konvensional, ialah proyeksi peta yang tidak diklasifikasikan dalam proyeksi silinder, kerucut, maupun azimuthal tetapi diperoleh atas dasar ketentuan sendiri.
Menurut Garis Karakternya
Garis karakter yang dimaksud dalam proyeksi ini ialah garis yang selalu melalui sentra globe yang merupakan sumber bidang proyeksi. Proyeksi berdasarkan garis karakter terdiri atas.
1. Proyeksi Normal, garis karakternya berhimpit dengan sumbu bumi.
1. Proyeksi Normal, garis karakternya berhimpit dengan sumbu bumi.
2. Proyeksi Miring, garis karakternya membentuk sudut dengan sumbu bumi.
3. Proyeksi Melintang, bila garis karakternya tegak lurus dengan sumbu globe.
Menurut Distorsinya
1. Proyeksi conform (orthomorphic), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan bentuk daerah-daerah kecil di peta sama bentuknya di muka bumi/globe.
2. Proyeksi Equal Area (equivalent), yaitu proyeksi peta yang memperlihatkan luas tempat pada peta sama dengan di muka bumi pada skala yang sama.
3. Proyeksi Euidistant, yaitu proyeksi yang menggambarkan jarak atau yang melalui sentra peta digambarkan berdasarkan panjang yang bahwasanya ibarat pada permukaan bumi dalam skala yang sama.
Jarak-jarak lain yang tidak mempunyai sentra peta tidak diperlihatkan secara jelas, sedangkan arah dari sentra kota ke aneka macam tempat digambarkan secara jelas. Proyeksi ini baik bagi peta navigasi yang rute nya melalui atau bertolak dari sentra peta.
Peta sanggup digambarkan dengan aneka macam gaya, masing-masing memperlihatkan permukaan yang berbeda untuk subjek yang sama yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan fungsional.
Lihat Detail
√ Cara Menciptakan Peta Wilayah Memakai Kompas
Peta yang biasa kalian lihat dan gunakan merupakan hasil pengukuran jarak dan arah pada kawasan yang dipetakan. Agar kalian lebih memahami wacana peta, sebaiknya kalian untuk terjun pribadi mempraktikkannya walaupun masih dengan teknik dan alat yang sederhana.
Kalian sanggup lakukan praktik pemetaan dengan menciptakan peta lingkungan sekitar atau peta sekolah. Alat yang biasa dipakai yaitu kompas untuk pengukuran arah, meteran untuk pengukuran jarak, dan busur untuk menggambarkan arah hasil pengukuran di kertas. Agar hasil peta benar, kerjakan dengan hati-hati.
Ketepatan pengukuran arah dengan memakai kompas dipengaruhi oleh ketepatan membidik dan ada tidaknya gangguan terhadap kompas itu sendiri menyerupai adanya besi, baja, dan anutan listrik di sekitar kompas.
Karena itu, objek bidikan harus stabil perhatikan arah memegang kompas yang benar, dan upayakan kompas yang dipakai untuk jauh dari benda-benda yang mengganggu pada ketika membidik objek.
Lakukanlah latihan cara memakai kompas berkali-kali dan jikalau memungkinkan bandingkanlah hasil bidikan pada objek yang sama dengan rekan lain.
Kalian sanggup lakukan praktik pemetaan dengan menciptakan peta lingkungan sekitar atau peta sekolah. Alat yang biasa dipakai yaitu kompas untuk pengukuran arah, meteran untuk pengukuran jarak, dan busur untuk menggambarkan arah hasil pengukuran di kertas. Agar hasil peta benar, kerjakan dengan hati-hati.

1. Cara Menggunakan Kompas
Kompas terdiri atas sebuah jarum yang satu ujungnya selalu mengatakan arah utara dan ujung satunya lagi mengatakan arah selatan. Arahkanlah kompas pada suatu objek dan bergeserlah ke objek lainnya.
Apa yang terjadi dengan jarum kompas tersebut? Ya, jarum kompas ikut bergeser juga, bukan? Jarum kompas tersebut selalu menunjuk ke arah utara.
Jika kompas digeser ke aneka macam arah, maka jarum kompas akan selalu bergerak menuju ke arah utara.
Apa yang terjadi dengan jarum kompas tersebut? Ya, jarum kompas ikut bergeser juga, bukan? Jarum kompas tersebut selalu menunjuk ke arah utara.
Jika kompas digeser ke aneka macam arah, maka jarum kompas akan selalu bergerak menuju ke arah utara.
Kompas juga terdiri atas piring kompas yang terdapat angka derajat (0 hingga 360 derajat). Piringan tersebut ikut bergerak seiring bergeraknya jarum kompas. Posisi suatu objek ditentukan dengan melihat angka derajat pada piringan kompas oleh suatu pointer (garis penunjuk). Jika pointer mengatakan angka 27 derajat, maka posisi benda tersebut sebesar 27 derajat dari utara.
Adapun langkah-langkah penggunaan kompas yang harus kalian pahami yaitu sebagai berikut.
1. Tentukanlah objek yang akan dibidik yaitu objek yang tidak bergerak, contohnya tiang listrik, pohon, perempatan jalan, dan lain-lain. Jika sulit, bawalah tongkat yang sanggup ditancapkan atau tiang yang sanggup berdiri. Bisa juga salah satu sobat kalian menjadi objek bidikan.
2. Bukalah epilog kompas dan bidiklah objek yang telah ditentukan tersebut. Arahkan pandangan pada objek searah dengan kawat pembidik yang ada pada pecahan epilog kompas. Tunggu hingga jarum Pada kompas relatif stabil menunjuk pada arah utara magnet. Ketepatan bidikan diperoleh dengan mengarahkan fokus yang telah tersedia pada kompas.
3. Perhatikan angka derajat yang ditunjukkan oleh tanda penunjuk besarnya sudut.
Besarnya sudut yang dibuat antara titik tempat kita membidik dengan sempurna target kompas disebut titik Azimut. Sedangkan Back Azimut merupakan tempat target bidikan ke tempat asal kita membidik, sehingga sudut yang dibuat kebalikannya, maka harus dikurangi 180 derajat atau ditambah 180 derajat.
1. Tentukanlah objek yang akan dibidik yaitu objek yang tidak bergerak, contohnya tiang listrik, pohon, perempatan jalan, dan lain-lain. Jika sulit, bawalah tongkat yang sanggup ditancapkan atau tiang yang sanggup berdiri. Bisa juga salah satu sobat kalian menjadi objek bidikan.
2. Bukalah epilog kompas dan bidiklah objek yang telah ditentukan tersebut. Arahkan pandangan pada objek searah dengan kawat pembidik yang ada pada pecahan epilog kompas. Tunggu hingga jarum Pada kompas relatif stabil menunjuk pada arah utara magnet. Ketepatan bidikan diperoleh dengan mengarahkan fokus yang telah tersedia pada kompas.
3. Perhatikan angka derajat yang ditunjukkan oleh tanda penunjuk besarnya sudut.
Besarnya sudut yang dibuat antara titik tempat kita membidik dengan sempurna target kompas disebut titik Azimut. Sedangkan Back Azimut merupakan tempat target bidikan ke tempat asal kita membidik, sehingga sudut yang dibuat kebalikannya, maka harus dikurangi 180 derajat atau ditambah 180 derajat.
Ketepatan pengukuran arah dengan memakai kompas dipengaruhi oleh ketepatan membidik dan ada tidaknya gangguan terhadap kompas itu sendiri menyerupai adanya besi, baja, dan anutan listrik di sekitar kompas.
Karena itu, objek bidikan harus stabil perhatikan arah memegang kompas yang benar, dan upayakan kompas yang dipakai untuk jauh dari benda-benda yang mengganggu pada ketika membidik objek.
Lakukanlah latihan cara memakai kompas berkali-kali dan jikalau memungkinkan bandingkanlah hasil bidikan pada objek yang sama dengan rekan lain.
2. Data Hasil Pengukuran
Sekarang cobalah praktikkan cara memakai kompas di halaman sekolah kalian masing-masing. Bagilah kelas kalian menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah kompas yang tersedia.
Tiap kelompok pergi ke sebuah lokasi yang terbuka atau halaman sekolah dan tentukan titik awal atau permulaan tempat membidik yang berbeda antara kelompok satu dengan lainnya. Petakanlah sekolah kalian tersebut dengan memakai kompas dan meteran.
Tiap kelompok pergi ke sebuah lokasi yang terbuka atau halaman sekolah dan tentukan titik awal atau permulaan tempat membidik yang berbeda antara kelompok satu dengan lainnya. Petakanlah sekolah kalian tersebut dengan memakai kompas dan meteran.
Langkah-langkah untuk mendapat data hasil pengukuran dalam menciptakan peta sekolah yaitu sebagai berikut.
1. Bawalah alat yang telah ditugaskan pada pertemuan sebelumnya yaitu berupa pensil, penghapus, kertas catatan (HVS), dan ganjal untuk mencatat.
2. Tentukan titik atau pola awal pemetaan, upayakan semoga plot tersebut gampang diingat atau jikalau sulit tandailah dengan memakai tongkat atau tanda lainnya.
3. Jika plot telah ditentukan, maka kalian sanggup memulai membidik objek pada plot berikutnya. Posisi kompas harus sempurna berada diatas titik atau tanda plot pertama tadi. Selanjutnya tentukan besar sudut Azimut dan Back Azimut hasil pengukuran yang terlihat pada kompas.
4. Hasil pengukuran dicatat pada kertas yang telah disediakan, tulislah angka derajat (besar sudut Azimut dan Back Azimut) hasil bidikan pertama tadi.
5. Setelah hasil pengukuran dicatat, maka pekerjaan berikutnya yaitu mengukur jarak antara plot pertama, dengan plot kedua yang dibidik tadi. Catatlah hasil pengukuran masing-masing plot tadi.
6. Setelah dari plot A bergerak ke plot B, kemudian bidik dan ukur jarak plot C dari plot B, plot C ke D, dan seterusnya. Lakukanlah pekerjaan tersebut untuk plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
1. Bawalah alat yang telah ditugaskan pada pertemuan sebelumnya yaitu berupa pensil, penghapus, kertas catatan (HVS), dan ganjal untuk mencatat.
2. Tentukan titik atau pola awal pemetaan, upayakan semoga plot tersebut gampang diingat atau jikalau sulit tandailah dengan memakai tongkat atau tanda lainnya.
3. Jika plot telah ditentukan, maka kalian sanggup memulai membidik objek pada plot berikutnya. Posisi kompas harus sempurna berada diatas titik atau tanda plot pertama tadi. Selanjutnya tentukan besar sudut Azimut dan Back Azimut hasil pengukuran yang terlihat pada kompas.
4. Hasil pengukuran dicatat pada kertas yang telah disediakan, tulislah angka derajat (besar sudut Azimut dan Back Azimut) hasil bidikan pertama tadi.
5. Setelah hasil pengukuran dicatat, maka pekerjaan berikutnya yaitu mengukur jarak antara plot pertama, dengan plot kedua yang dibidik tadi. Catatlah hasil pengukuran masing-masing plot tadi.
6. Setelah dari plot A bergerak ke plot B, kemudian bidik dan ukur jarak plot C dari plot B, plot C ke D, dan seterusnya. Lakukanlah pekerjaan tersebut untuk plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
3. Merumuskan Hasil Pengukuran
Jika pekerjaan pengukuran di lapangan telah selesai, maka tahap berikutnya yaitu merumuskan hasil pengukuran di kelas atau di laboratorium. Tulis lah data hasil pengukuran secara sistematis dalam bentuk tabel (seperti pada tabel dibawah ini).
Tabel Pencatatan Data Hasil Pengukuran
Buatlah skala yang akan dipakai dan sesuaikan dengan pengukuran kertas yang tersedia, sebagai pola peta yang akan digambar memakai skala 1 : 200, artinya 1 cm di peta menggambarkan 200 cm di lapangan atau 2 meter dilapangan.
Setelah menciptakan skala yang akan digunakan, maka selanjutnya kalian sanggup memilih luas keretas yang dibutuhkan untuk menggambarkan peta sekolah hasil pengukuran kalian. Cermatilah masing-masing sudut dan jarak nya, sehingga ukuran kertas yang dibutuhkan sesuai dengan ukuran peta yang akan digambarkan.
4. Membuat Peta Sekolah Hasil Pengukuran
Sisipkanlah sejumlah alat dan materi untuk menggambarkan peta yaitu kertas HVS, pensil, mistar, dan busur derajat. Setelah semuanya siap, maka lakukanlah langkah-langkah untuk menciptakan peta dari hasil pengukuran lapangan yaitu sebagai berikut :
- Tentukanlah titik pertama atau plot A pada kertas yang akan dibuat petanya. Perhatikanlah jarak dan sudut yang dibuat setiap plot, sehingga kalian sanggup memilih letak titik plot pertama atau A pada kertas dan arah gambar selanjutnya tidak keluar dari kertas yang tersedia.
- Tentukanlah arah utara dari peta.
- Pada titik A, buatlah tanda silang (tegak lurus).
- Pada titik A yang telah diberi tanda silang, tentukan sudut garis A - B dengan memakai busur derajat. Besarnya sudut menurut hasil bidikan kompas dari A ke B (Azimuth). Tariklah garis dari A ke B yang panjang sesuai dengan skala yang telah anda tentukan. Sebagai contoh, jikalau hasil pengukuran di lapangan dari A ke B yaitu 22 meter dan skala gambarnya 1 : 200, maka garis tersebut panjangnya yaitu 11 cm.
- Pada plot B, buatlah tanda silang menyerupai plot A.
- Tentukan sudut garis B - C dengan memakai busur derajat dan tarik garis sesuai dengan skala tadi.
- Lakukan langkah tersebut pada plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
Apabila semua data telah digambarkan, coba perhatikan peta yang kalian buat tersebut, apakah membentuk suatu poligon tertutup?
Jika peta yang dibuat berupa suatu wilayah atau poligon tertutup, maka janganlah heran jikalau peta yang kalian buat ternyata tidak membentuk sebuah poligon tertutup. Kesalahan biasanya terjadi sebab kurang tepatnya bidikan , tidak tepatnya posisi membidik , kesalahan membaca angka derajat pada kompas, dan lain-lain.
Untuk memperbaiki kesalahan tersebut lakukanlah langkah-langkah berikut :
Untuk memperbaiki kesalahan tersebut lakukanlah langkah-langkah berikut :
- Tarik garis yang menghubungkan kedua ujung celah, ukurlah panjang celahnya.
- Buatlah sebuah garis jurus mendatar yang panjang sama dengan seluruh garis yang digambarkan tadi (dari titik A ke titik A lagi).
- Pada salah satu ujung garis mendatar tadi, buatlah garis tegak lurus yang panjangnya sama dengan panjang celah yang telah diukur tadi.
- Tariklah garis dari ujung garis tegak lurus tadi ke ujung garis mendatar, sehingga membentuk sebuah segitiga.
- Tempatkanlah titik A, B, C dan seterusnya hingga titik terakhir pada garis mendatar tersebut. Panjang antar titik tersebut sama dengan panjang hasil penggambaran sebelumnya, sehingga perlu diukur terlebih dahulu.
- Buatlah garis tegak lurus pada masing-masing titik atau plot hingga pada hipotenusa (garis berbentuk miring pada segitiga siku-siku).
- Ukurlah panjang tiap garis tersebut dan tempatkan pada masing-masing plot secara tegak lurus.
- Buat garis keliling gres pada gambar bercelah dengan menarik ujung-ujung garis tegak lurus sehingga membentuk sebuah poligon tertutup.
- Hasil perbaikan gambar telah selesai dilakukan.
Demikian artikel mengenai cara menciptakan peta wilayah memakai kompas ini, semoga bermanfaat dan sanggup membantu anda.
Peta yang biasa kalian lihat dan gunakan merupakan hasil pengukuran jarak dan arah pada kawasan yang dipetakan. Agar kalian lebih memahami wacana peta, sebaiknya kalian untuk terjun pribadi mempraktikkannya walaupun masih dengan teknik dan alat yang sederhana.
Kalian sanggup lakukan praktik pemetaan dengan menciptakan peta lingkungan sekitar atau peta sekolah. Alat yang biasa dipakai yaitu kompas untuk pengukuran arah, meteran untuk pengukuran jarak, dan busur untuk menggambarkan arah hasil pengukuran di kertas. Agar hasil peta benar, kerjakan dengan hati-hati.
Ketepatan pengukuran arah dengan memakai kompas dipengaruhi oleh ketepatan membidik dan ada tidaknya gangguan terhadap kompas itu sendiri menyerupai adanya besi, baja, dan anutan listrik di sekitar kompas.
Karena itu, objek bidikan harus stabil perhatikan arah memegang kompas yang benar, dan upayakan kompas yang dipakai untuk jauh dari benda-benda yang mengganggu pada ketika membidik objek.
Lakukanlah latihan cara memakai kompas berkali-kali dan jikalau memungkinkan bandingkanlah hasil bidikan pada objek yang sama dengan rekan lain.
Kalian sanggup lakukan praktik pemetaan dengan menciptakan peta lingkungan sekitar atau peta sekolah. Alat yang biasa dipakai yaitu kompas untuk pengukuran arah, meteran untuk pengukuran jarak, dan busur untuk menggambarkan arah hasil pengukuran di kertas. Agar hasil peta benar, kerjakan dengan hati-hati.

1. Cara Menggunakan Kompas
Kompas terdiri atas sebuah jarum yang satu ujungnya selalu mengatakan arah utara dan ujung satunya lagi mengatakan arah selatan. Arahkanlah kompas pada suatu objek dan bergeserlah ke objek lainnya.
Apa yang terjadi dengan jarum kompas tersebut? Ya, jarum kompas ikut bergeser juga, bukan? Jarum kompas tersebut selalu menunjuk ke arah utara.
Jika kompas digeser ke aneka macam arah, maka jarum kompas akan selalu bergerak menuju ke arah utara.
Apa yang terjadi dengan jarum kompas tersebut? Ya, jarum kompas ikut bergeser juga, bukan? Jarum kompas tersebut selalu menunjuk ke arah utara.
Jika kompas digeser ke aneka macam arah, maka jarum kompas akan selalu bergerak menuju ke arah utara.
Kompas juga terdiri atas piring kompas yang terdapat angka derajat (0 hingga 360 derajat). Piringan tersebut ikut bergerak seiring bergeraknya jarum kompas. Posisi suatu objek ditentukan dengan melihat angka derajat pada piringan kompas oleh suatu pointer (garis penunjuk). Jika pointer mengatakan angka 27 derajat, maka posisi benda tersebut sebesar 27 derajat dari utara.
Adapun langkah-langkah penggunaan kompas yang harus kalian pahami yaitu sebagai berikut.
1. Tentukanlah objek yang akan dibidik yaitu objek yang tidak bergerak, contohnya tiang listrik, pohon, perempatan jalan, dan lain-lain. Jika sulit, bawalah tongkat yang sanggup ditancapkan atau tiang yang sanggup berdiri. Bisa juga salah satu sobat kalian menjadi objek bidikan.
2. Bukalah epilog kompas dan bidiklah objek yang telah ditentukan tersebut. Arahkan pandangan pada objek searah dengan kawat pembidik yang ada pada pecahan epilog kompas. Tunggu hingga jarum Pada kompas relatif stabil menunjuk pada arah utara magnet. Ketepatan bidikan diperoleh dengan mengarahkan fokus yang telah tersedia pada kompas.
3. Perhatikan angka derajat yang ditunjukkan oleh tanda penunjuk besarnya sudut.
Besarnya sudut yang dibuat antara titik tempat kita membidik dengan sempurna target kompas disebut titik Azimut. Sedangkan Back Azimut merupakan tempat target bidikan ke tempat asal kita membidik, sehingga sudut yang dibuat kebalikannya, maka harus dikurangi 180 derajat atau ditambah 180 derajat.
1. Tentukanlah objek yang akan dibidik yaitu objek yang tidak bergerak, contohnya tiang listrik, pohon, perempatan jalan, dan lain-lain. Jika sulit, bawalah tongkat yang sanggup ditancapkan atau tiang yang sanggup berdiri. Bisa juga salah satu sobat kalian menjadi objek bidikan.
2. Bukalah epilog kompas dan bidiklah objek yang telah ditentukan tersebut. Arahkan pandangan pada objek searah dengan kawat pembidik yang ada pada pecahan epilog kompas. Tunggu hingga jarum Pada kompas relatif stabil menunjuk pada arah utara magnet. Ketepatan bidikan diperoleh dengan mengarahkan fokus yang telah tersedia pada kompas.
3. Perhatikan angka derajat yang ditunjukkan oleh tanda penunjuk besarnya sudut.
Besarnya sudut yang dibuat antara titik tempat kita membidik dengan sempurna target kompas disebut titik Azimut. Sedangkan Back Azimut merupakan tempat target bidikan ke tempat asal kita membidik, sehingga sudut yang dibuat kebalikannya, maka harus dikurangi 180 derajat atau ditambah 180 derajat.
Ketepatan pengukuran arah dengan memakai kompas dipengaruhi oleh ketepatan membidik dan ada tidaknya gangguan terhadap kompas itu sendiri menyerupai adanya besi, baja, dan anutan listrik di sekitar kompas.
Karena itu, objek bidikan harus stabil perhatikan arah memegang kompas yang benar, dan upayakan kompas yang dipakai untuk jauh dari benda-benda yang mengganggu pada ketika membidik objek.
Lakukanlah latihan cara memakai kompas berkali-kali dan jikalau memungkinkan bandingkanlah hasil bidikan pada objek yang sama dengan rekan lain.
2. Data Hasil Pengukuran
Sekarang cobalah praktikkan cara memakai kompas di halaman sekolah kalian masing-masing. Bagilah kelas kalian menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah kompas yang tersedia.
Tiap kelompok pergi ke sebuah lokasi yang terbuka atau halaman sekolah dan tentukan titik awal atau permulaan tempat membidik yang berbeda antara kelompok satu dengan lainnya. Petakanlah sekolah kalian tersebut dengan memakai kompas dan meteran.
Tiap kelompok pergi ke sebuah lokasi yang terbuka atau halaman sekolah dan tentukan titik awal atau permulaan tempat membidik yang berbeda antara kelompok satu dengan lainnya. Petakanlah sekolah kalian tersebut dengan memakai kompas dan meteran.
Langkah-langkah untuk mendapat data hasil pengukuran dalam menciptakan peta sekolah yaitu sebagai berikut.
1. Bawalah alat yang telah ditugaskan pada pertemuan sebelumnya yaitu berupa pensil, penghapus, kertas catatan (HVS), dan ganjal untuk mencatat.
2. Tentukan titik atau pola awal pemetaan, upayakan semoga plot tersebut gampang diingat atau jikalau sulit tandailah dengan memakai tongkat atau tanda lainnya.
3. Jika plot telah ditentukan, maka kalian sanggup memulai membidik objek pada plot berikutnya. Posisi kompas harus sempurna berada diatas titik atau tanda plot pertama tadi. Selanjutnya tentukan besar sudut Azimut dan Back Azimut hasil pengukuran yang terlihat pada kompas.
4. Hasil pengukuran dicatat pada kertas yang telah disediakan, tulislah angka derajat (besar sudut Azimut dan Back Azimut) hasil bidikan pertama tadi.
5. Setelah hasil pengukuran dicatat, maka pekerjaan berikutnya yaitu mengukur jarak antara plot pertama, dengan plot kedua yang dibidik tadi. Catatlah hasil pengukuran masing-masing plot tadi.
6. Setelah dari plot A bergerak ke plot B, kemudian bidik dan ukur jarak plot C dari plot B, plot C ke D, dan seterusnya. Lakukanlah pekerjaan tersebut untuk plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
1. Bawalah alat yang telah ditugaskan pada pertemuan sebelumnya yaitu berupa pensil, penghapus, kertas catatan (HVS), dan ganjal untuk mencatat.
2. Tentukan titik atau pola awal pemetaan, upayakan semoga plot tersebut gampang diingat atau jikalau sulit tandailah dengan memakai tongkat atau tanda lainnya.
3. Jika plot telah ditentukan, maka kalian sanggup memulai membidik objek pada plot berikutnya. Posisi kompas harus sempurna berada diatas titik atau tanda plot pertama tadi. Selanjutnya tentukan besar sudut Azimut dan Back Azimut hasil pengukuran yang terlihat pada kompas.
4. Hasil pengukuran dicatat pada kertas yang telah disediakan, tulislah angka derajat (besar sudut Azimut dan Back Azimut) hasil bidikan pertama tadi.
5. Setelah hasil pengukuran dicatat, maka pekerjaan berikutnya yaitu mengukur jarak antara plot pertama, dengan plot kedua yang dibidik tadi. Catatlah hasil pengukuran masing-masing plot tadi.
6. Setelah dari plot A bergerak ke plot B, kemudian bidik dan ukur jarak plot C dari plot B, plot C ke D, dan seterusnya. Lakukanlah pekerjaan tersebut untuk plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
3. Merumuskan Hasil Pengukuran
Jika pekerjaan pengukuran di lapangan telah selesai, maka tahap berikutnya yaitu merumuskan hasil pengukuran di kelas atau di laboratorium. Tulis lah data hasil pengukuran secara sistematis dalam bentuk tabel (seperti pada tabel dibawah ini).
Tabel Pencatatan Data Hasil Pengukuran
Buatlah skala yang akan dipakai dan sesuaikan dengan pengukuran kertas yang tersedia, sebagai pola peta yang akan digambar memakai skala 1 : 200, artinya 1 cm di peta menggambarkan 200 cm di lapangan atau 2 meter dilapangan.
Setelah menciptakan skala yang akan digunakan, maka selanjutnya kalian sanggup memilih luas keretas yang dibutuhkan untuk menggambarkan peta sekolah hasil pengukuran kalian. Cermatilah masing-masing sudut dan jarak nya, sehingga ukuran kertas yang dibutuhkan sesuai dengan ukuran peta yang akan digambarkan.
4. Membuat Peta Sekolah Hasil Pengukuran
Sisipkanlah sejumlah alat dan materi untuk menggambarkan peta yaitu kertas HVS, pensil, mistar, dan busur derajat. Setelah semuanya siap, maka lakukanlah langkah-langkah untuk menciptakan peta dari hasil pengukuran lapangan yaitu sebagai berikut :
- Tentukanlah titik pertama atau plot A pada kertas yang akan dibuat petanya. Perhatikanlah jarak dan sudut yang dibuat setiap plot, sehingga kalian sanggup memilih letak titik plot pertama atau A pada kertas dan arah gambar selanjutnya tidak keluar dari kertas yang tersedia.
- Tentukanlah arah utara dari peta.
- Pada titik A, buatlah tanda silang (tegak lurus).
- Pada titik A yang telah diberi tanda silang, tentukan sudut garis A - B dengan memakai busur derajat. Besarnya sudut menurut hasil bidikan kompas dari A ke B (Azimuth). Tariklah garis dari A ke B yang panjang sesuai dengan skala yang telah anda tentukan. Sebagai contoh, jikalau hasil pengukuran di lapangan dari A ke B yaitu 22 meter dan skala gambarnya 1 : 200, maka garis tersebut panjangnya yaitu 11 cm.
- Pada plot B, buatlah tanda silang menyerupai plot A.
- Tentukan sudut garis B - C dengan memakai busur derajat dan tarik garis sesuai dengan skala tadi.
- Lakukan langkah tersebut pada plot-plot berikutnya hingga kembali ke plot A.
Apabila semua data telah digambarkan, coba perhatikan peta yang kalian buat tersebut, apakah membentuk suatu poligon tertutup?
Jika peta yang dibuat berupa suatu wilayah atau poligon tertutup, maka janganlah heran jikalau peta yang kalian buat ternyata tidak membentuk sebuah poligon tertutup. Kesalahan biasanya terjadi sebab kurang tepatnya bidikan , tidak tepatnya posisi membidik , kesalahan membaca angka derajat pada kompas, dan lain-lain.
Untuk memperbaiki kesalahan tersebut lakukanlah langkah-langkah berikut :
Untuk memperbaiki kesalahan tersebut lakukanlah langkah-langkah berikut :
- Tarik garis yang menghubungkan kedua ujung celah, ukurlah panjang celahnya.
- Buatlah sebuah garis jurus mendatar yang panjang sama dengan seluruh garis yang digambarkan tadi (dari titik A ke titik A lagi).
- Pada salah satu ujung garis mendatar tadi, buatlah garis tegak lurus yang panjangnya sama dengan panjang celah yang telah diukur tadi.
- Tariklah garis dari ujung garis tegak lurus tadi ke ujung garis mendatar, sehingga membentuk sebuah segitiga.
- Tempatkanlah titik A, B, C dan seterusnya hingga titik terakhir pada garis mendatar tersebut. Panjang antar titik tersebut sama dengan panjang hasil penggambaran sebelumnya, sehingga perlu diukur terlebih dahulu.
- Buatlah garis tegak lurus pada masing-masing titik atau plot hingga pada hipotenusa (garis berbentuk miring pada segitiga siku-siku).
- Ukurlah panjang tiap garis tersebut dan tempatkan pada masing-masing plot secara tegak lurus.
- Buat garis keliling gres pada gambar bercelah dengan menarik ujung-ujung garis tegak lurus sehingga membentuk sebuah poligon tertutup.
- Hasil perbaikan gambar telah selesai dilakukan.
Demikian artikel mengenai cara menciptakan peta wilayah memakai kompas ini, semoga bermanfaat dan sanggup membantu anda.
Lihat Detail
√ Penjabaran Industri Menurut Produksi Yang Dihasilkan Dan Materi Mentah
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan dan Bahan Mentah dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, biar teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk pribadi saja kita bahas.
1. Industri Primer, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang tidak perlu pengolahan lebih lanjut. Barang atau benda yang dihasilkan tersebut sanggup dinikmati atau dipakai secara langsung. Misalnya industri anyaman, industri konveksi, industri masakan dan minuman.
2. Industri Sekunder, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau digunakan. Misalnya industri pemintalan benang, industri ban, industri baja, dan industri tekstil.
3. Industri Tersier, adalah industri yang akibatnya tidak berupa barang atau benda yang sanggup dinikmati atau dipakai baik secara pribadi maupun tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang sanggup mempermudah atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya industri angkutan, industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.
1. Industri Pertanian, adalah industri yang mengolah materi mentah yang diperoleh dari hasil acara pertanian. Misalnya industri minyak goreng, industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
2. Industri Pertambangan, adalah industri yang mengolah materi mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Misalnya industri semen, industri baja, industri BBM (Bahan Bakar Minyak bumi), dan industri serat sintetis.
3. Industri Jasa, adalah industri yang mengolah jasa layanan yang sanggup mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan. Misalnya industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata, industri transportasi, industri seni dan hiburan.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan
Berdasarkan produksi yang dihasilkan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Primer, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang tidak perlu pengolahan lebih lanjut. Barang atau benda yang dihasilkan tersebut sanggup dinikmati atau dipakai secara langsung. Misalnya industri anyaman, industri konveksi, industri masakan dan minuman.
2. Industri Sekunder, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau digunakan. Misalnya industri pemintalan benang, industri ban, industri baja, dan industri tekstil.
3. Industri Tersier, adalah industri yang akibatnya tidak berupa barang atau benda yang sanggup dinikmati atau dipakai baik secara pribadi maupun tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang sanggup mempermudah atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya industri angkutan, industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.
Klasifikasi Berdasarkan Bahan Mentah
Berdasarkan materi mentah yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi tiga yaitu.1. Industri Pertanian, adalah industri yang mengolah materi mentah yang diperoleh dari hasil acara pertanian. Misalnya industri minyak goreng, industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
2. Industri Pertambangan, adalah industri yang mengolah materi mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Misalnya industri semen, industri baja, industri BBM (Bahan Bakar Minyak bumi), dan industri serat sintetis.
3. Industri Jasa, adalah industri yang mengolah jasa layanan yang sanggup mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan. Misalnya industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata, industri transportasi, industri seni dan hiburan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan dan Bahan Mentah, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan dan Bahan Mentah dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, biar teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk pribadi saja kita bahas.
1. Industri Primer, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang tidak perlu pengolahan lebih lanjut. Barang atau benda yang dihasilkan tersebut sanggup dinikmati atau dipakai secara langsung. Misalnya industri anyaman, industri konveksi, industri masakan dan minuman.
2. Industri Sekunder, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau digunakan. Misalnya industri pemintalan benang, industri ban, industri baja, dan industri tekstil.
3. Industri Tersier, adalah industri yang akibatnya tidak berupa barang atau benda yang sanggup dinikmati atau dipakai baik secara pribadi maupun tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang sanggup mempermudah atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya industri angkutan, industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.
1. Industri Pertanian, adalah industri yang mengolah materi mentah yang diperoleh dari hasil acara pertanian. Misalnya industri minyak goreng, industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
2. Industri Pertambangan, adalah industri yang mengolah materi mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Misalnya industri semen, industri baja, industri BBM (Bahan Bakar Minyak bumi), dan industri serat sintetis.
3. Industri Jasa, adalah industri yang mengolah jasa layanan yang sanggup mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan. Misalnya industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata, industri transportasi, industri seni dan hiburan.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan
Berdasarkan produksi yang dihasilkan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Primer, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang tidak perlu pengolahan lebih lanjut. Barang atau benda yang dihasilkan tersebut sanggup dinikmati atau dipakai secara langsung. Misalnya industri anyaman, industri konveksi, industri masakan dan minuman.
2. Industri Sekunder, adalah industri yang menghasilkan barang atau benda yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut sebelum dinikmati atau digunakan. Misalnya industri pemintalan benang, industri ban, industri baja, dan industri tekstil.
3. Industri Tersier, adalah industri yang akibatnya tidak berupa barang atau benda yang sanggup dinikmati atau dipakai baik secara pribadi maupun tidak langsung, melainkan berupa jasa layanan yang sanggup mempermudah atau membantu kebutuhan masyarakat. Misalnya industri angkutan, industri perbankan, industri perdagangan, dan industri pariwisata.
Klasifikasi Berdasarkan Bahan Mentah
Berdasarkan materi mentah yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi tiga yaitu.1. Industri Pertanian, adalah industri yang mengolah materi mentah yang diperoleh dari hasil acara pertanian. Misalnya industri minyak goreng, industri gula, industri kopi, industri teh, dan industri makanan.
2. Industri Pertambangan, adalah industri yang mengolah materi mentah yang berasal dari hasil pertambangan. Misalnya industri semen, industri baja, industri BBM (Bahan Bakar Minyak bumi), dan industri serat sintetis.
3. Industri Jasa, adalah industri yang mengolah jasa layanan yang sanggup mempermudah dan meringankan beban masyarakat tetapi menguntungkan. Misalnya industri perbankan, industri perdagangan, industri pariwisata, industri transportasi, industri seni dan hiburan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan dan Bahan Mentah, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Lihat Detail
√ Pembagian Terstruktur Mengenai Industri Menurut Lokasi Unit Perjuangan Dan Proses Produksi
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha dan Proses Produksi dan akan saya jelaskan satu persatu secara lengkap, semoga teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk pribadi saja kita bahas.
1. Industri Hulu, yaitu industri yang hanya mengolah materi mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan materi baku untuk aktivitas produksi yang lain. Misalnya industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
2. Industri Hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan sanggup pribadi digunakan atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha
Keberadaan suatu industri sangat memilih sarana atau tujuan aktivitas industri . Berdasarkan pada lokasi unit usahanya, industri sanggup dibedakan menjadi.
1. Industri Berorientasi Pada Pasar (market oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan persebaran konsumen.
2. Industri Berorientasi Pada Tenaga Kerja (employment oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan pemusatan penduduk, terutama kawasan yang mempunyai banyak angkatan kerja tetapi kurang pendidikannya.
3. Industri Berorientasi Pada Pengolahan (supply oriented industry), yaitu industri yang didirikan erat atau di tempat pengolahan. Misalnya industri semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan watu gamping), industri pupuk di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri BBM di Balong Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
4. Industri Berorientasi Pada Bahan Baku, yaitu industri yang didirikan ditempat tersedianya materi baku. Misalnya industri konveksi berdekatan dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan dengan lahan tebu.
5. Industri yang Tidak Terikat dengan Persyaratan yang lain (footloose industry), yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat diatas. Industri ini sanggup didirikan dimana saja alasannya ialah materi baku, tenaga kerja, dan pasarnya sangat luas serta sanggup ditemukan dimana saja. Misalnya industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.
1. Industri Berorientasi Pada Pasar (market oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan persebaran konsumen.
2. Industri Berorientasi Pada Tenaga Kerja (employment oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan pemusatan penduduk, terutama kawasan yang mempunyai banyak angkatan kerja tetapi kurang pendidikannya.
3. Industri Berorientasi Pada Pengolahan (supply oriented industry), yaitu industri yang didirikan erat atau di tempat pengolahan. Misalnya industri semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan watu gamping), industri pupuk di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri BBM di Balong Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
4. Industri Berorientasi Pada Bahan Baku, yaitu industri yang didirikan ditempat tersedianya materi baku. Misalnya industri konveksi berdekatan dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan dengan lahan tebu.
5. Industri yang Tidak Terikat dengan Persyaratan yang lain (footloose industry), yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat diatas. Industri ini sanggup didirikan dimana saja alasannya ialah materi baku, tenaga kerja, dan pasarnya sangat luas serta sanggup ditemukan dimana saja. Misalnya industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Proses Produksi
Berdasarkan proses produksi, industri dapa dibedakan menjadi dua yaitu.1. Industri Hulu, yaitu industri yang hanya mengolah materi mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan materi baku untuk aktivitas produksi yang lain. Misalnya industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
2. Industri Hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan sanggup pribadi digunakan atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha dan Proses Produksi, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran dan menambah wawaasan.
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha dan Proses Produksi dan akan saya jelaskan satu persatu secara lengkap, semoga teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk pribadi saja kita bahas.
1. Industri Hulu, yaitu industri yang hanya mengolah materi mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan materi baku untuk aktivitas produksi yang lain. Misalnya industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
2. Industri Hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan sanggup pribadi digunakan atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha
Keberadaan suatu industri sangat memilih sarana atau tujuan aktivitas industri . Berdasarkan pada lokasi unit usahanya, industri sanggup dibedakan menjadi.
1. Industri Berorientasi Pada Pasar (market oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan persebaran konsumen.
2. Industri Berorientasi Pada Tenaga Kerja (employment oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan pemusatan penduduk, terutama kawasan yang mempunyai banyak angkatan kerja tetapi kurang pendidikannya.
3. Industri Berorientasi Pada Pengolahan (supply oriented industry), yaitu industri yang didirikan erat atau di tempat pengolahan. Misalnya industri semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan watu gamping), industri pupuk di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri BBM di Balong Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
4. Industri Berorientasi Pada Bahan Baku, yaitu industri yang didirikan ditempat tersedianya materi baku. Misalnya industri konveksi berdekatan dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan dengan lahan tebu.
5. Industri yang Tidak Terikat dengan Persyaratan yang lain (footloose industry), yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat diatas. Industri ini sanggup didirikan dimana saja alasannya ialah materi baku, tenaga kerja, dan pasarnya sangat luas serta sanggup ditemukan dimana saja. Misalnya industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.
1. Industri Berorientasi Pada Pasar (market oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan persebaran konsumen.
2. Industri Berorientasi Pada Tenaga Kerja (employment oriented industry), yaitu industri yang didirikan mendekati kawasan pemusatan penduduk, terutama kawasan yang mempunyai banyak angkatan kerja tetapi kurang pendidikannya.
3. Industri Berorientasi Pada Pengolahan (supply oriented industry), yaitu industri yang didirikan erat atau di tempat pengolahan. Misalnya industri semen di Palimanan Cirebon (dekat dengan watu gamping), industri pupuk di Palembang (dekat dengan sumber pospat dan amoniak), dan industri BBM di Balong Indramayu (dekat dengan kilang minyak).
4. Industri Berorientasi Pada Bahan Baku, yaitu industri yang didirikan ditempat tersedianya materi baku. Misalnya industri konveksi berdekatan dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan industri gula berdekatan dengan lahan tebu.
5. Industri yang Tidak Terikat dengan Persyaratan yang lain (footloose industry), yaitu industri yang didirikan tidak terikat oleh syarat-syarat diatas. Industri ini sanggup didirikan dimana saja alasannya ialah materi baku, tenaga kerja, dan pasarnya sangat luas serta sanggup ditemukan dimana saja. Misalnya industri elektronik, industri otomotif, dan industri transportasi.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Proses Produksi
Berdasarkan proses produksi, industri dapa dibedakan menjadi dua yaitu.1. Industri Hulu, yaitu industri yang hanya mengolah materi mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanya menyediakan materi baku untuk aktivitas produksi yang lain. Misalnya industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
2. Industri Hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan sanggup pribadi digunakan atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubeler.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha dan Proses Produksi, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran dan menambah wawaasan.
Lihat Detail
√ Pembagian Terstruktur Mengenai Industri Menurut Barang Yang Dihasilkan Dan Modal Yang Digunakan
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, semoga teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk eksklusif saja kita bahas.
1. Industri Berat, yakni industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat produksi lainnya. Misalnya industri alat-alat berat. industri mesin, dan industri percetakan.
2. Industri Ringan, yakni industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi. Misalnya industri makanan, dan industri minuman.
1. Industri dengan Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN), yakni industri yang memperoleh sumbangan modal dari pemerintah atau pengusaha nasional (dalam negeri). Misalnya industri kerajinan, industri pariwisata, dan industri makan dan minum.
2. Industri dengan Penanaman Modal Asing (PMA), yakni industri yang modal nya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya industri komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
3. Industri dengan Modal Patungan (join venture), yakni industri yang modalnya berasal dari hasil kolaborasi antara PMDN dan PMA. Misalnya industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan
Berdasarkan barang yang dihasilkan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Berat, yakni industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat produksi lainnya. Misalnya industri alat-alat berat. industri mesin, dan industri percetakan.
2. Industri Ringan, yakni industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi. Misalnya industri makanan, dan industri minuman.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Modal yang Digunakan
Berdasarkan modal yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri dengan Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN), yakni industri yang memperoleh sumbangan modal dari pemerintah atau pengusaha nasional (dalam negeri). Misalnya industri kerajinan, industri pariwisata, dan industri makan dan minum.
2. Industri dengan Penanaman Modal Asing (PMA), yakni industri yang modal nya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya industri komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
3. Industri dengan Modal Patungan (join venture), yakni industri yang modalnya berasal dari hasil kolaborasi antara PMDN dan PMA. Misalnya industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, semoga teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk eksklusif saja kita bahas.
1. Industri Berat, yakni industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat produksi lainnya. Misalnya industri alat-alat berat. industri mesin, dan industri percetakan.
2. Industri Ringan, yakni industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi. Misalnya industri makanan, dan industri minuman.
1. Industri dengan Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN), yakni industri yang memperoleh sumbangan modal dari pemerintah atau pengusaha nasional (dalam negeri). Misalnya industri kerajinan, industri pariwisata, dan industri makan dan minum.
2. Industri dengan Penanaman Modal Asing (PMA), yakni industri yang modal nya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya industri komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
3. Industri dengan Modal Patungan (join venture), yakni industri yang modalnya berasal dari hasil kolaborasi antara PMDN dan PMA. Misalnya industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan
Berdasarkan barang yang dihasilkan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Berat, yakni industri yang menghasilkan mesin-mesin atau alat produksi lainnya. Misalnya industri alat-alat berat. industri mesin, dan industri percetakan.
2. Industri Ringan, yakni industri yang menghasilkan barang siap pakai untuk dikonsumsi. Misalnya industri makanan, dan industri minuman.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Modal yang Digunakan
Berdasarkan modal yang digunakan, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri dengan Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN), yakni industri yang memperoleh sumbangan modal dari pemerintah atau pengusaha nasional (dalam negeri). Misalnya industri kerajinan, industri pariwisata, dan industri makan dan minum.
2. Industri dengan Penanaman Modal Asing (PMA), yakni industri yang modal nya berasal dari penanaman modal asing. Misalnya industri komunikasi, industri perminyakan, dan industri pertambangan.
3. Industri dengan Modal Patungan (join venture), yakni industri yang modalnya berasal dari hasil kolaborasi antara PMDN dan PMA. Misalnya industri otomotif, industri transportasi, dan industri kertas.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Barang yang Dihasilkan dan Berdasarkan Modal yang Digunakan, semoga pembahasan ini sanggup membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Lihat Detail
√ Penjabaran Industri Menurut Subjek Pengelola Dan Cara Pengorganisasian
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, biar teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk eksklusif saja kita bahas.
1. Industri Rakyat, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat, contohnya industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri kerajinan.
2. Industri Negara, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik negara yang dikenal dengan istilah BUMN, contohnya industri kertas, industri pupuk, industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan industri transportasi.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola
Berdasarkan subjek pengelola, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Rakyat, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat, contohnya industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri kerajinan.
2. Industri Negara, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik negara yang dikenal dengan istilah BUMN, contohnya industri kertas, industri pupuk, industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan industri transportasi.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Cara Pengorganisasian
Cara pengorganisasian suatu industri dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, ibarat modal, tenaga kerja, produk yang dihasilkan, dan pemarannya. Berdasarkan cara pengorganisasiannya dan industri sanggup dibedakan menjadi.
1. Industri Kecil, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). Misalnya industri kerajinan dan industri makanan ringan.
2. Industri Menengah, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10 hingga 200 orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relatif lebih luas (berskala regional). Misalnya industri bordir, industri sepatu, dan industri mainan anak-anak.
3. Industri Besar, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal sangat besar, teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau internasional. Misalnya industri barang-barang elektronik, industri otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian, semoga pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
1. Industri Kecil, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). Misalnya industri kerajinan dan industri makanan ringan.
2. Industri Menengah, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10 hingga 200 orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relatif lebih luas (berskala regional). Misalnya industri bordir, industri sepatu, dan industri mainan anak-anak.
3. Industri Besar, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal sangat besar, teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau internasional. Misalnya industri barang-barang elektronik, industri otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian, semoga pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Halo teman-teman kali ini akan membagikan artikel mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian dan akan aku jelaskan satu persatu secara lengkap, biar teman-teman sanggup dengan gampang memahami pembahasan ini. yuk eksklusif saja kita bahas.
1. Industri Rakyat, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat, contohnya industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri kerajinan.
2. Industri Negara, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik negara yang dikenal dengan istilah BUMN, contohnya industri kertas, industri pupuk, industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan industri transportasi.

Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola
Berdasarkan subjek pengelola, industri sanggup dibedakan menjadi.1. Industri Rakyat, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik rakyat, contohnya industri meubeler, industri makanan ringan, dan industri kerajinan.
2. Industri Negara, yakni industri yang dikelola dan merupakan milik negara yang dikenal dengan istilah BUMN, contohnya industri kertas, industri pupuk, industri baja, industri pertambangan, industri perminyakan, dan industri transportasi.
Klasifikasi Industri Berdasarkan Cara Pengorganisasian
Cara pengorganisasian suatu industri dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, ibarat modal, tenaga kerja, produk yang dihasilkan, dan pemarannya. Berdasarkan cara pengorganisasiannya dan industri sanggup dibedakan menjadi.
1. Industri Kecil, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). Misalnya industri kerajinan dan industri makanan ringan.
2. Industri Menengah, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10 hingga 200 orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relatif lebih luas (berskala regional). Misalnya industri bordir, industri sepatu, dan industri mainan anak-anak.
3. Industri Besar, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal sangat besar, teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau internasional. Misalnya industri barang-barang elektronik, industri otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian, semoga pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
1. Industri Kecil, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif kecil, teknologi sederhana, pekerjanya kurang dari 10 orang biasanya dari kalangan keluarga, produknya masih sederhana, dan lokasi pemasarannya masih terbatas (berskala lokal). Misalnya industri kerajinan dan industri makanan ringan.
2. Industri Menengah, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal relatif besar, teknologi cukup maju tetapi masih terbatas, pekerja antara 10 hingga 200 orang, tenaga kerja tidak tetap, dan lokasi pemasarannya relatif lebih luas (berskala regional). Misalnya industri bordir, industri sepatu, dan industri mainan anak-anak.
3. Industri Besar, yakni industri yang mempunyai ciri-ciri modal sangat besar, teknologi canggih dan modern, organisasi teratur, tenaga kerja dalam jumlah banyak dan terampil, pemasarannya berskala nasional atau internasional. Misalnya industri barang-barang elektronik, industri otomotif, industri transportasi, dan industri persenjataan.
Nah itu lah pembahasan mengenai Klasifikasi Industri Berdasarkan Subjek Pengelola dan Cara Pengorganisasian, semoga pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Langganan:
Komentar (Atom)
© 2020 AnymStore. Made With ❤ Anym


