Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan
√ Sikap Menghargai Karya Orang Lain
Lihat Detail

√ Sikap Menghargai Karya Orang Lain

Akhlak terpuji ialah sopan santun atau perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah swt, serta bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Akhlak terpuji di dalam agama Islam disebut sopan santun mahmudah.

Orang beriman akan selalu melaksanakan perbuatan terpuji serta meninggalkan perbuatan yang tercela. Salah satu sikap terpuji yang akan kita pelajari yaitu menghargai karya orang lain.

Akhlak terpuji ialah sopan santun atau perbuatan √ Perilaku Menghargai Karya Orang Lain

1. Pengertian Menghargai Karya Orang Lain

Kata menghargai berdasarkan kamus Besar bahasa Indonesia mengandung arti antara lain "memberi, menentukan, menilai, membubuhi harga, menaksir harga, memandang penting (bermanfaat, berguna), menghormati".

Karya orang lain ialah hasil perbuatan insan berupa 'suatu karya' yang baik (positif) yaitu hasil dari ide, gagasan insan menyerupai seni, karya budaya, cipta lagu, mesin, atau suatu produk yang bermanfaat atau berkhasiat untuk orang lain.

Kaprikornus menghargai karya orang lain ialah menghormati atau memberi respons terhadap karya yang telah dibentuk oleh orang lain baik pemikiran, pendapat, keterampilan, maupun jasa dengan cara yang baik dan sopan.

2. Macam-Macam Sikap Menghormati Karya Orang Lain

Berikut ini macam-macam sikap menghormati orang lain, antara lain :
  1. Memberi respons atau balasan terhadap karya orang lain dengan baik dan sopan.
  2. Menghormati dengan perbuatan, menyerupai : tidak menghina, mengejek hasil karya yang telah dibentuk oleh orang lain.
  3. Menghormati dengan sikap, menyerupai : Bersikap ramah tamah dan sopan santun, tidak berbuat yang menyakitkan (baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan), menunjukkan kesempatan kepada orang lain untuk memakai hak nya dalam berekspresi dalam karya sesuai dengan ketentuan.

3. Membiasakan Perilaku Menghargai Karya Orang Lain

Upaya menghargai karya cipta orang lain sanggup dilihat melalui kebiasaan sikap dan perilaku, antara lain sebagai berikut :
  1. Membeli produk dari kawasan atau biro yang resmi untuk menghindari pembelian barang ilegal atau hasil bajakan.
  2. Menghormati atau menghargai hasil karya orang lain merupakan bab dari menghormati hak-hak orang lain dan merupakan sebuah kebaikan.
  3. Penghargaan terhadap suatu hasil karya merupakan salah satu upaya dalam membina keserasian hidup sehingga terwujud suatu kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan saling menghargai.

4. Hikmah Sikap Menghormati dan Menghargai Karya Orang Lain

  1. Terjalin korelasi yang serasi dan tenteram.
  2. Dengan menghormati karya orang lain, maka orang tersebut juga akan menghormati karya kita.
  3. Menjadikan sikap tabah dan tabah dalam menghadapi banyak sekali sikap dan perangai orang lain.
  4. Dengan menghormati hasil karya orang lain, maka perbuatan itu mengandung nilai pahala di sisi Allah swt.
  5. Dengan menunjukkan penghormatan kepada hasil karya orang lain, akan membawa nilai manfaat terhadap sesama.
  6. Memberikan penghormatan terhadap hasil karya orang lain, nilainya menyerupai sedekah.

Nah itulah pembahasan Pendidikan Agama Islam atau PAI wacana Perilaku Menghargai Karya Orang Lain, biar bermanfaat.
Akhlak terpuji ialah sopan santun atau perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah swt, serta bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Akhlak terpuji di dalam agama Islam disebut sopan santun mahmudah.

Orang beriman akan selalu melaksanakan perbuatan terpuji serta meninggalkan perbuatan yang tercela. Salah satu sikap terpuji yang akan kita pelajari yaitu menghargai karya orang lain.

Akhlak terpuji ialah sopan santun atau perbuatan √ Perilaku Menghargai Karya Orang Lain

1. Pengertian Menghargai Karya Orang Lain

Kata menghargai berdasarkan kamus Besar bahasa Indonesia mengandung arti antara lain "memberi, menentukan, menilai, membubuhi harga, menaksir harga, memandang penting (bermanfaat, berguna), menghormati".

Karya orang lain ialah hasil perbuatan insan berupa 'suatu karya' yang baik (positif) yaitu hasil dari ide, gagasan insan menyerupai seni, karya budaya, cipta lagu, mesin, atau suatu produk yang bermanfaat atau berkhasiat untuk orang lain.

Kaprikornus menghargai karya orang lain ialah menghormati atau memberi respons terhadap karya yang telah dibentuk oleh orang lain baik pemikiran, pendapat, keterampilan, maupun jasa dengan cara yang baik dan sopan.

2. Macam-Macam Sikap Menghormati Karya Orang Lain

Berikut ini macam-macam sikap menghormati orang lain, antara lain :
  1. Memberi respons atau balasan terhadap karya orang lain dengan baik dan sopan.
  2. Menghormati dengan perbuatan, menyerupai : tidak menghina, mengejek hasil karya yang telah dibentuk oleh orang lain.
  3. Menghormati dengan sikap, menyerupai : Bersikap ramah tamah dan sopan santun, tidak berbuat yang menyakitkan (baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan), menunjukkan kesempatan kepada orang lain untuk memakai hak nya dalam berekspresi dalam karya sesuai dengan ketentuan.

3. Membiasakan Perilaku Menghargai Karya Orang Lain

Upaya menghargai karya cipta orang lain sanggup dilihat melalui kebiasaan sikap dan perilaku, antara lain sebagai berikut :
  1. Membeli produk dari kawasan atau biro yang resmi untuk menghindari pembelian barang ilegal atau hasil bajakan.
  2. Menghormati atau menghargai hasil karya orang lain merupakan bab dari menghormati hak-hak orang lain dan merupakan sebuah kebaikan.
  3. Penghargaan terhadap suatu hasil karya merupakan salah satu upaya dalam membina keserasian hidup sehingga terwujud suatu kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan saling menghargai.

4. Hikmah Sikap Menghormati dan Menghargai Karya Orang Lain

  1. Terjalin korelasi yang serasi dan tenteram.
  2. Dengan menghormati karya orang lain, maka orang tersebut juga akan menghormati karya kita.
  3. Menjadikan sikap tabah dan tabah dalam menghadapi banyak sekali sikap dan perangai orang lain.
  4. Dengan menghormati hasil karya orang lain, maka perbuatan itu mengandung nilai pahala di sisi Allah swt.
  5. Dengan menunjukkan penghormatan kepada hasil karya orang lain, akan membawa nilai manfaat terhadap sesama.
  6. Memberikan penghormatan terhadap hasil karya orang lain, nilainya menyerupai sedekah.

Nah itulah pembahasan Pendidikan Agama Islam atau PAI wacana Perilaku Menghargai Karya Orang Lain, biar bermanfaat.
√ Pengertian Dan Dasar Sikap Adil
Lihat Detail

√ Pengertian Dan Dasar Sikap Adil

Jika kita perhatikan dengan cermat alam raya sekitar kita, maka akan kita dapatkan prinsip adil itu menjadi ciri utama keberlangsungan dunia. Ada malam, siang, panas, dingin, niscaya semua ada pasangan nya. Berikut akan kita pelajari tema perihal sikap adil.

Pengertian Adil dan Dasar-Dasarnya

Kata adil berasal dari bahasa Arab "adl" yang berarti sama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata adil diartikan : 
  1. Tidak berat sebelah/tidak memihak.
  2. Berpihak kepada kebenaran.
  3. Sepatutnya tidak sewenang-wenang.

Adil berdasarkan istilah agama ialah melakukan amanat Allah dengan menempatkan sesuatu pada kedudukan yang sebenarnya, dengan tidak menambah atau menguranginya.

Sedangkan Mizan berasal dari Wazn yang berarti timbangan. Oleh alasannya itu, mizan berarti alat untuk menimbang dan sanggup pula berarti keadilan, alasannya hasil yang diperoleh dari alat tersebut yaitu keadilan.

Adil merupakan sifat terpuji yang diperintahkan Allah, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya : "Sesungguhnya Allah menyuruh kau untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, menawarkan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (Q.S. An-Nahl (16): 90)

Jika kita perhatikan dengan cermat alam raya sekitar kita √ Pengertian dan Dasar Perilaku Adil

Kepada Siapa Kita Harus Berlaku Adil ?

1. Kepada Allah

Dalam hal ini kita harus sanggup menempatkan Allah pada tempatnya yang benar sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, kita tidak menyekutukan dengan yang lain, mengimani Al-Qur'an sebagai wahyu Allah dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah.

2. Kepada Diri Sendiri

Dalam hal ini kita menempatkan diri secara baik dan benar, terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan. Seperti tidak hasad, tidak minum-minuman keras dan lain-lain.

3. Kepada Orang Lain

Dalam hal ini menempatkan orang lain pada tempatnya yang layak dan benar kita harus menawarkan orang lain dengan jujur, benar, dan jangan menyakiti serta merugikan orang lain.

4. Kepada Makhluk Lain

Dalam hal ini kita harus berlaku adil dan baik pada hewan makhluk lain pada daerah kehidupannya yang layak.

Membiasakan Perilaku Adil

Menunjukkan sikap adil kepada orang lain sanggup dilakukan dengan beberapa hal :
  1. Patuh kepada perintah Allah dan Rasulnya.
  2. Memberikan rasa kondusif kepada orang lain dengan sikap ramah dan santun.
  3. Menciptakan suasana aman, edukatif, dan rukun.
  4. Bila bermitra harus saling menguntungkan dan bermanfaat bagi seluruh insan dan makhluk serta sanggup dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
  5. Tidak angkuh, sombong, kikir, boros, iri dan dengki dalam bergaul sesama manusia.
  6. Selalu berprasangka baik terhadap orang disekitarnya.
  7. Selalu berbuat kebajikan dan tolong menolong terhadap sesama khususnya kepada fakir miskin dan anak yatim piatu.
  8. Selalu berpikir dengan benar sebelum bertindak dan berbuat.
  9. Tidak pilih kasih dalam bergaul.

Keutamaan Keadilan

  1. Membentuk pribadi yang sanggup melakukan kewajiban dengan baik-baik.
  2. menciptakan ketenteraman dan keutamaan hidup bersama orang lain dalam masyarakat.
  3. Memanfaatkan alam sekitar untuk kemasyarakatan hidup di dunia dan akhirat.
  4. Dapat tercipta rasa aman, tenang, dan tenteram.

Semoga artikel ini sanggup bermanfaat bagi semua orang dan sanggup membantu teman-teman berguru mengenai Pengertian dan Dasar-Dasar Perilaku Adil, jangan lupa baca juga mengenai amal saleh.
Jika kita perhatikan dengan cermat alam raya sekitar kita, maka akan kita dapatkan prinsip adil itu menjadi ciri utama keberlangsungan dunia. Ada malam, siang, panas, dingin, niscaya semua ada pasangan nya. Berikut akan kita pelajari tema perihal sikap adil.

Pengertian Adil dan Dasar-Dasarnya

Kata adil berasal dari bahasa Arab "adl" yang berarti sama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata adil diartikan : 
  1. Tidak berat sebelah/tidak memihak.
  2. Berpihak kepada kebenaran.
  3. Sepatutnya tidak sewenang-wenang.

Adil berdasarkan istilah agama ialah melakukan amanat Allah dengan menempatkan sesuatu pada kedudukan yang sebenarnya, dengan tidak menambah atau menguranginya.

Sedangkan Mizan berasal dari Wazn yang berarti timbangan. Oleh alasannya itu, mizan berarti alat untuk menimbang dan sanggup pula berarti keadilan, alasannya hasil yang diperoleh dari alat tersebut yaitu keadilan.

Adil merupakan sifat terpuji yang diperintahkan Allah, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya : "Sesungguhnya Allah menyuruh kau untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, menawarkan kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (Q.S. An-Nahl (16): 90)

Jika kita perhatikan dengan cermat alam raya sekitar kita √ Pengertian dan Dasar Perilaku Adil

Kepada Siapa Kita Harus Berlaku Adil ?

1. Kepada Allah

Dalam hal ini kita harus sanggup menempatkan Allah pada tempatnya yang benar sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, kita tidak menyekutukan dengan yang lain, mengimani Al-Qur'an sebagai wahyu Allah dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah.

2. Kepada Diri Sendiri

Dalam hal ini kita menempatkan diri secara baik dan benar, terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan. Seperti tidak hasad, tidak minum-minuman keras dan lain-lain.

3. Kepada Orang Lain

Dalam hal ini menempatkan orang lain pada tempatnya yang layak dan benar kita harus menawarkan orang lain dengan jujur, benar, dan jangan menyakiti serta merugikan orang lain.

4. Kepada Makhluk Lain

Dalam hal ini kita harus berlaku adil dan baik pada hewan makhluk lain pada daerah kehidupannya yang layak.

Membiasakan Perilaku Adil

Menunjukkan sikap adil kepada orang lain sanggup dilakukan dengan beberapa hal :
  1. Patuh kepada perintah Allah dan Rasulnya.
  2. Memberikan rasa kondusif kepada orang lain dengan sikap ramah dan santun.
  3. Menciptakan suasana aman, edukatif, dan rukun.
  4. Bila bermitra harus saling menguntungkan dan bermanfaat bagi seluruh insan dan makhluk serta sanggup dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
  5. Tidak angkuh, sombong, kikir, boros, iri dan dengki dalam bergaul sesama manusia.
  6. Selalu berprasangka baik terhadap orang disekitarnya.
  7. Selalu berbuat kebajikan dan tolong menolong terhadap sesama khususnya kepada fakir miskin dan anak yatim piatu.
  8. Selalu berpikir dengan benar sebelum bertindak dan berbuat.
  9. Tidak pilih kasih dalam bergaul.

Keutamaan Keadilan

  1. Membentuk pribadi yang sanggup melakukan kewajiban dengan baik-baik.
  2. menciptakan ketenteraman dan keutamaan hidup bersama orang lain dalam masyarakat.
  3. Memanfaatkan alam sekitar untuk kemasyarakatan hidup di dunia dan akhirat.
  4. Dapat tercipta rasa aman, tenang, dan tenteram.

Semoga artikel ini sanggup bermanfaat bagi semua orang dan sanggup membantu teman-teman berguru mengenai Pengertian dan Dasar-Dasar Perilaku Adil, jangan lupa baca juga mengenai amal saleh.
√ Pengertian, Contoh, Dan Manfaat Amal Saleh
Lihat Detail

√ Pengertian, Contoh, Dan Manfaat Amal Saleh

Perbuatan yang diberikan pahala tentu sesuai dengan hukum Allah swt, salah satu pahala yang diberikan oleh Allah swt yakni orang yang berinfak saleh.

Perbuatan yang diberikan pahala tentu sesuai dengan hukum Allah swt √ Pengertian, Contoh, dan Manfaat Amal Saleh

Pengertian Amal Saleh

Yang dimaksud dengan amal saleh yakni segala amal perbuatan yang dikerjakan lantaran mengharapkan rida Allah semata, ibarat dalam firman Allah swt : 

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: "Katakanlah, Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Q.S. Al-An'am (6): 162)
Rasulullah bersabda : "Allah tidak mendapatkan amal, melainkan amalnya yang lapang dada mencari keridaan Allah" (H.R. Ibnu Majah)

Ikhlas yakni dasar suatu amal yang diterima, selain itu amalan juga harus sesuai dengan yang disyariatkan. Amalan yang tidak disertai dengan lapang dada maka akan sia-sia saja.

Lalu apakah perbuatan baik itu merupakan amal saleh?

Tidak, lantaran perbuatan baik yang dilakukan tidak disadari niat dan keikhlasan lantaran Allah maka amalnya sia-sia saja. Adapun perbuatan yang dilakukan dengan lapang dada semata-mata ditunjukkan untuk Allah swt.

Contoh Amal Saleh

  1. Berbakti kepada orang tua.
  2. Saling membantu dan mengurangi penderitaan orang lain lantaran Allah.
  3. Rajin dan semangat dalam belajar.

Membiasakan Perilaku Amal Saleh

Membiasakan berperilaku amal saleh sanggup dilakukan dengan beberapa hal :
  1. Selalu berdzikir dan berdoa kepada Allah sehabis berusaha dan berikhtiar.
  2. Tidak membiarkan diri jatuh ke dalam dosa, kebinasaan, kehancuran.
  3. Menjauhkan sikap tercela ibarat buruk sangka, iri, dengki, kikir, boros, mencerai-beraikan dalam bergaul sesama manusia.
  4. Menjauhkan sikap malas belajar, malas bekerja, pesimis, penakut, tergesa-gesa dan sikap atau sifat yang buruk lainnya.

Manfaat Amal Saleh

Bagi orang mukmin dengan berinfak saleh maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah swt, selain itu akan menambah dan mempererat persaudaraan antara sesama manusia.

Nah itulah pembahasan tentang Pengertian, Contoh, dan Manfaat Amal Saleh semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda.
Perbuatan yang diberikan pahala tentu sesuai dengan hukum Allah swt, salah satu pahala yang diberikan oleh Allah swt yakni orang yang berinfak saleh.

Perbuatan yang diberikan pahala tentu sesuai dengan hukum Allah swt √ Pengertian, Contoh, dan Manfaat Amal Saleh

Pengertian Amal Saleh

Yang dimaksud dengan amal saleh yakni segala amal perbuatan yang dikerjakan lantaran mengharapkan rida Allah semata, ibarat dalam firman Allah swt : 

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: "Katakanlah, Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (Q.S. Al-An'am (6): 162)
Rasulullah bersabda : "Allah tidak mendapatkan amal, melainkan amalnya yang lapang dada mencari keridaan Allah" (H.R. Ibnu Majah)

Ikhlas yakni dasar suatu amal yang diterima, selain itu amalan juga harus sesuai dengan yang disyariatkan. Amalan yang tidak disertai dengan lapang dada maka akan sia-sia saja.

Lalu apakah perbuatan baik itu merupakan amal saleh?

Tidak, lantaran perbuatan baik yang dilakukan tidak disadari niat dan keikhlasan lantaran Allah maka amalnya sia-sia saja. Adapun perbuatan yang dilakukan dengan lapang dada semata-mata ditunjukkan untuk Allah swt.

Contoh Amal Saleh

  1. Berbakti kepada orang tua.
  2. Saling membantu dan mengurangi penderitaan orang lain lantaran Allah.
  3. Rajin dan semangat dalam belajar.

Membiasakan Perilaku Amal Saleh

Membiasakan berperilaku amal saleh sanggup dilakukan dengan beberapa hal :
  1. Selalu berdzikir dan berdoa kepada Allah sehabis berusaha dan berikhtiar.
  2. Tidak membiarkan diri jatuh ke dalam dosa, kebinasaan, kehancuran.
  3. Menjauhkan sikap tercela ibarat buruk sangka, iri, dengki, kikir, boros, mencerai-beraikan dalam bergaul sesama manusia.
  4. Menjauhkan sikap malas belajar, malas bekerja, pesimis, penakut, tergesa-gesa dan sikap atau sifat yang buruk lainnya.

Manfaat Amal Saleh

Bagi orang mukmin dengan berinfak saleh maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah swt, selain itu akan menambah dan mempererat persaudaraan antara sesama manusia.

Nah itulah pembahasan tentang Pengertian, Contoh, dan Manfaat Amal Saleh semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda.
√ Hari Selesai Sebagai Hari Pembalasan Yang Hakiki
Lihat Detail

√ Hari Selesai Sebagai Hari Pembalasan Yang Hakiki

Allah telah tetapkan bahwa kehidupan dunia ini akan rusak (fana). Tidak ada yang awet di dunia ini, termasuk manusia.

Kita niscaya pernah melihat dalam tayangan televisi perihal tsunami, gempa bumi, meletusnya gunung berapi yang dahsyat, bahkan hingga memporak-porandakan dan meluluhkan bangunan atau menghilangkan nyawa insan di alam sekitarnya.

Itu merupakan insiden kecil yang selalu ada di belahan bumi ini. Itu merupakan teladan dari simpulan zaman sugra, teladan tersebut sanggup kita jadikan plajaran bahwa hari simpulan niscaya akan datang.

Kita harus benar-benar mempersiapkan diri dengan bekal bertakwa dan beriman kepada Allah dengan seutuhnya.

Allah telah tetapkan bahwa kehidupan dunia ini akan rusak  √ Hari Akhir sebagai Hari Pembalasan Yang Hakiki

1. Pengertian Hari Akhir

Hari simpulan ialah hari hancurnya dunia dan alam semesta serta seluruh kehidupan di dalamnya. Dengan kehendak Allah, bumi, langit, dan seluruh isinya akan hancur lebur.

Tidak ada yang tersisa kecuali Allah yang tetap ada dan berkuasa, alasannya ialah Allah ialah kekal sedangkan alam dan semua kehidupan ciptaan Allah akan berakhir.

Beriman kepada hari Akhir maksudnya mempercayai adanya kehidupan yang kekal sehabis kehidupan di dunia. Beriman kepada hari simpulan merupakan ciri muttaqin (orang-orang yang bertakwa) dan orang-orang yang beriman.

Firman Allah swt yang artinya: "Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat."(Q.S. Al-Baqarah (2):4)

2. Hari Kiamat Menurut Al-Qur'an

Hari Kiamat niscaya terjadi dan kejadiannya merupakan proses yang sangat panjang. Dari rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi niscaya akan dialami oleh semua insan semenjak ia dilahirkan hingga dengan hari pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah swt.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيْهَا وَأَنَّ اللّٰـهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُوْرِ

 Artinya: "Sesungguhnya hari simpulan zaman itu niscaya datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Q.S. Al-Hajj (22):7)

a. Kiamat Sugra

Kiamat sugra artinya kerusakan kecil, contohnya mati dan tragedi alam.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati, kemudian kepada kami-lah kau dikembalikan." (Q.S. Al-'Ankabut (29):57)

b. Kiamat Kubra

Kiamat kubra (kerusakan besar) ialah hancurnya alam semesta dengan segala isinya. Ketika Allah tetapkan detik-detik terjadinya hari Kiamat, Malaikat Israfil meniup sangkakala yang pertama, maka terjadilah Kiamat kubra.

Bumi berguncang-guncang sehebat-hebatnya. Semua isinya dimuntahkan keluar, insan menyerupai anai-anai yang bertebaran, gunung-gunung terlepas dari tempatnya dan beterbangan menyerupai kapas yang dihembus angin.

Sebagaimana diterangkan dalam ayat Al-Qur'an yang artinya: "Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, kemudian dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, alasannya ialah pada hari itu langit menjadi lemah." (Q.S. Al-Haqqah (69):13-16)

Setelah seluruh insan dibangkitkan dari kuburnya masing-masing mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar. Maksud dari dikumpulkannya insan di Mahsyar ialah untuk dihisab atau diperhitungkan amal perbuatan mereka ketika di dunia dengan seadil-adilnya.

3. Hari Kiamat Menurut Tinjauan Ilmu Pengetahuan

Pemikiran perihal terjadinya Kiamat berdasarkan sains (ilmu pengetahuan) dibahas dalam beberapa teori menyerupai berikut.

a. Sir James Jeinz

Astronom ini beropini dalam buku Bintang-Bintang dalam Perjalanannya bahwa bulan itu akan mendekati bumi sedikit demi sedikit, hingga kedekatan itu mengancam keselamatan bumi. Pada ketika itu hari pembalasan akan segera tampak dan bulan akan terbelah.

b. Prof. Achmad Baiquni Msc. Ph. D

Dalam buku Al-Qur'an, ilmu pengetahuan dan teknologi dia mengemukakan bahwa ada beberapa skenario perihal terjadinya Kiamat berdasarkan sains yaitu:

Pertama:

  1. Menggambarkan habisnya materi bakar termonuklir, yaitu hidrogen di dalam mata-hari.
  2. Menjadikan reaksi nuklir menjadi berkurang., matahari akan menjadi dingin, dan bumi akan membeku.
  3. Bila begitu tidak ada tanaman yang bisa tumbuh dan kehidupan di bumi akan berakhir. Waktu yang diharapkan matahari untuk menghabiskan materi bakarnya sekitar lima miliar tahun.

Kedua:

  1. Menggambarkan habisnya hidrogen di bumi.
  2. Semua makhluk hidup akan mati membeku menyerupai skenario pertama.

Ketiga:

  1. Menggambarkan mengembangnya matahari.
  2. Matahari ialah salah satu bintang dalam galaksi kita yang letaknya paling bersahabat dengan bumi, yang intinya merupakan satelit matahari.
  3. Evolusi matahari akan mengikuti kehidupan bintang-bintang lainnya, yaitu bila ia telah padam ia akan menyusut terus menjadi kecil hingga pada suatu ketika ketika energi gravitasi bermetamorfosis panas dan mengubahnya menjadi bintang raksasa merah.
  4. Pada kondisi itu sistem tata surya sebagian (termasuk bumi kita) akan tertelan oleh apinya.
  5. Semua makhluk hidup akan mati terbakar.


4. Keadaan Surga dan Neraka

a. Surga

Surga ialah taman yang tidak ada bandingannya di dunia. Dalam firman-Nya, Allah menggambarkan nirwana dalam Surah Al-Kahfi ayat 30-31 yang artinya, "Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.

Mereka itulah yang memperoleh nirwana 'Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dalam nirwana itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka menggunakan pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baiknya pahala, dan kawasan istirahat yang indah.

b. Neraka

Neraka dalam bahasa Arab disebut an-Nar, artinya api. Neraka ialah suatu kawasan yang disediakan Allah untuk orang-orang kafir, durhaka, maksiat, suka berdusta, dan lain-lain.

Ada di antara orang yang masuk neraka itu ditanya, mengapa mereka masuk neraka?

Mereka menjawab, "Karena kami di dunia dulu tidak pernah mengerjakan salat, tidak mau menunjukkan makan orang miskin, suka berkata bohong dan tidak percaya akan datangnya hari Kiamat."

Di neraka, insan juga diberi makan dan minum, makanan mereka ialah zaqqum yaitu buah yang paling buruk, rasanya sangat pahit, baunya tidak enak, dan berduri. Setelah memakan buah zaqqum mereka akan mendapat minuman yang sangat panas.

Hal ini dikemukakan Allah swt dalam surah Al-Waqi'ah (56) ayat 51-54 yang artinya: "Kemudian bekerjsama kamu, wahai orang yang sesat lagi mendustakan! niscaya akan memakan pohon zaqqun, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu, kau akan meminum air yang sangat panas."

5. Fungsi Iman kepada Hari Akhir

Fungsi dogma kepada hari akhir, yaitu:
  1. Memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Adil.
  2. Kuasa menghancurkan alam semesta dengan segala isinya (terjadinya simpulan zaman kubra).
  3. Kuasa mengadili makhluk dengan seadil-adilnya, berdasarkan perbuatan insan di dunia, pada Yaumul Hisab.
  4. Mendorong untuk berdisiplin menjalankan ibadah, menyerupai salat lima waktu.
  5. Memberi dorongan untuk membiasakan diri dengan sikap dan sikap terpuji (akhlaku karimah) dan menjauhkan dari sikap tercela (akhlakul mazmumah).
  6. Memberi dorongan untuk bersikap optimis dalam hidup.

Nasihat Rasulullah saw. perihal dogma kepada hari akhir, yaitu bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya:
  1. Tidak ikut duduk-duduk di kawasan jamuan makan yang di situ dibagi-bagikan minuman keras.
  2. Menghormati tamunya.
  3. Berlaku baik kepada tetangga.
  4. Berkata baik.

6. Tanda-Tanda Hari Kiamat

Dalam hadis diriwayatkan bahwa Jibril bertanya kepada Rasulullah saw. perihal tibanya hari Kiamat. Pertanyaan itu dijawab oleh beliau, bahwa yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.

Kemudian Jibril berkata lagi "Beritahukanlah kepada saya tanda-tandanya."

Rasulullah saw. menjawab: "Apabila hamba sahaya (budak) perempuan melahirkan tuannya, dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, serta para penggembala kambing hidup bermegah-megahan dalam gedung yang besar." (H.R. Ibnu Majah).

7. Hikmah Beriman kepada Hari Akhir

Beberapa pesan yang tersirat yang sanggup diambil dari dogma kepada hari akhir, antara lain:
  • Memperkuat keyakinan bahwa Allah swt. ialah satu-satunya Dzat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu dan Maha adil. Allah swt. berkuasa atas segala ciptaan-Nya dan Dia ialah hakim yang seadil-adilnya.
  • Memberikan motivasi kepada orang yang beriman untuk senantiasa menghiasi hidupnya dengan amalan-amalan yang sanggup mengantarkannya kepada kebahagiaan di kelak kemudian hari.
  • Mencegah orang berbuat maksiat atau ingkar kepada Allah alasannya ialah sadar bahwa setiap apa yang diperbuat tidak akan lepas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.
  • Menambahkan rasa optimis dalam hidup seorang mukmin mempunyai satu tujuan hidup mencari rida Allah.

Nah itu pembahasan perihal Hari Akhir sebagai Hari Pembalasan yang Hakiki, agar pembahasan ini bisa membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran dan menambahkan keimanan kita kepada Allah SWT.
Allah telah tetapkan bahwa kehidupan dunia ini akan rusak (fana). Tidak ada yang awet di dunia ini, termasuk manusia.

Kita niscaya pernah melihat dalam tayangan televisi perihal tsunami, gempa bumi, meletusnya gunung berapi yang dahsyat, bahkan hingga memporak-porandakan dan meluluhkan bangunan atau menghilangkan nyawa insan di alam sekitarnya.

Itu merupakan insiden kecil yang selalu ada di belahan bumi ini. Itu merupakan teladan dari simpulan zaman sugra, teladan tersebut sanggup kita jadikan plajaran bahwa hari simpulan niscaya akan datang.

Kita harus benar-benar mempersiapkan diri dengan bekal bertakwa dan beriman kepada Allah dengan seutuhnya.

Allah telah tetapkan bahwa kehidupan dunia ini akan rusak  √ Hari Akhir sebagai Hari Pembalasan Yang Hakiki

1. Pengertian Hari Akhir

Hari simpulan ialah hari hancurnya dunia dan alam semesta serta seluruh kehidupan di dalamnya. Dengan kehendak Allah, bumi, langit, dan seluruh isinya akan hancur lebur.

Tidak ada yang tersisa kecuali Allah yang tetap ada dan berkuasa, alasannya ialah Allah ialah kekal sedangkan alam dan semua kehidupan ciptaan Allah akan berakhir.

Beriman kepada hari Akhir maksudnya mempercayai adanya kehidupan yang kekal sehabis kehidupan di dunia. Beriman kepada hari simpulan merupakan ciri muttaqin (orang-orang yang bertakwa) dan orang-orang yang beriman.

Firman Allah swt yang artinya: "Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat."(Q.S. Al-Baqarah (2):4)

2. Hari Kiamat Menurut Al-Qur'an

Hari Kiamat niscaya terjadi dan kejadiannya merupakan proses yang sangat panjang. Dari rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi niscaya akan dialami oleh semua insan semenjak ia dilahirkan hingga dengan hari pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah swt.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيْهَا وَأَنَّ اللّٰـهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُوْرِ

 Artinya: "Sesungguhnya hari simpulan zaman itu niscaya datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Q.S. Al-Hajj (22):7)

a. Kiamat Sugra

Kiamat sugra artinya kerusakan kecil, contohnya mati dan tragedi alam.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati, kemudian kepada kami-lah kau dikembalikan." (Q.S. Al-'Ankabut (29):57)

b. Kiamat Kubra

Kiamat kubra (kerusakan besar) ialah hancurnya alam semesta dengan segala isinya. Ketika Allah tetapkan detik-detik terjadinya hari Kiamat, Malaikat Israfil meniup sangkakala yang pertama, maka terjadilah Kiamat kubra.

Bumi berguncang-guncang sehebat-hebatnya. Semua isinya dimuntahkan keluar, insan menyerupai anai-anai yang bertebaran, gunung-gunung terlepas dari tempatnya dan beterbangan menyerupai kapas yang dihembus angin.

Sebagaimana diterangkan dalam ayat Al-Qur'an yang artinya: "Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, kemudian dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, alasannya ialah pada hari itu langit menjadi lemah." (Q.S. Al-Haqqah (69):13-16)

Setelah seluruh insan dibangkitkan dari kuburnya masing-masing mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar. Maksud dari dikumpulkannya insan di Mahsyar ialah untuk dihisab atau diperhitungkan amal perbuatan mereka ketika di dunia dengan seadil-adilnya.

3. Hari Kiamat Menurut Tinjauan Ilmu Pengetahuan

Pemikiran perihal terjadinya Kiamat berdasarkan sains (ilmu pengetahuan) dibahas dalam beberapa teori menyerupai berikut.

a. Sir James Jeinz

Astronom ini beropini dalam buku Bintang-Bintang dalam Perjalanannya bahwa bulan itu akan mendekati bumi sedikit demi sedikit, hingga kedekatan itu mengancam keselamatan bumi. Pada ketika itu hari pembalasan akan segera tampak dan bulan akan terbelah.

b. Prof. Achmad Baiquni Msc. Ph. D

Dalam buku Al-Qur'an, ilmu pengetahuan dan teknologi dia mengemukakan bahwa ada beberapa skenario perihal terjadinya Kiamat berdasarkan sains yaitu:

Pertama:

  1. Menggambarkan habisnya materi bakar termonuklir, yaitu hidrogen di dalam mata-hari.
  2. Menjadikan reaksi nuklir menjadi berkurang., matahari akan menjadi dingin, dan bumi akan membeku.
  3. Bila begitu tidak ada tanaman yang bisa tumbuh dan kehidupan di bumi akan berakhir. Waktu yang diharapkan matahari untuk menghabiskan materi bakarnya sekitar lima miliar tahun.

Kedua:

  1. Menggambarkan habisnya hidrogen di bumi.
  2. Semua makhluk hidup akan mati membeku menyerupai skenario pertama.

Ketiga:

  1. Menggambarkan mengembangnya matahari.
  2. Matahari ialah salah satu bintang dalam galaksi kita yang letaknya paling bersahabat dengan bumi, yang intinya merupakan satelit matahari.
  3. Evolusi matahari akan mengikuti kehidupan bintang-bintang lainnya, yaitu bila ia telah padam ia akan menyusut terus menjadi kecil hingga pada suatu ketika ketika energi gravitasi bermetamorfosis panas dan mengubahnya menjadi bintang raksasa merah.
  4. Pada kondisi itu sistem tata surya sebagian (termasuk bumi kita) akan tertelan oleh apinya.
  5. Semua makhluk hidup akan mati terbakar.


4. Keadaan Surga dan Neraka

a. Surga

Surga ialah taman yang tidak ada bandingannya di dunia. Dalam firman-Nya, Allah menggambarkan nirwana dalam Surah Al-Kahfi ayat 30-31 yang artinya, "Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.

Mereka itulah yang memperoleh nirwana 'Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dalam nirwana itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka menggunakan pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baiknya pahala, dan kawasan istirahat yang indah.

b. Neraka

Neraka dalam bahasa Arab disebut an-Nar, artinya api. Neraka ialah suatu kawasan yang disediakan Allah untuk orang-orang kafir, durhaka, maksiat, suka berdusta, dan lain-lain.

Ada di antara orang yang masuk neraka itu ditanya, mengapa mereka masuk neraka?

Mereka menjawab, "Karena kami di dunia dulu tidak pernah mengerjakan salat, tidak mau menunjukkan makan orang miskin, suka berkata bohong dan tidak percaya akan datangnya hari Kiamat."

Di neraka, insan juga diberi makan dan minum, makanan mereka ialah zaqqum yaitu buah yang paling buruk, rasanya sangat pahit, baunya tidak enak, dan berduri. Setelah memakan buah zaqqum mereka akan mendapat minuman yang sangat panas.

Hal ini dikemukakan Allah swt dalam surah Al-Waqi'ah (56) ayat 51-54 yang artinya: "Kemudian bekerjsama kamu, wahai orang yang sesat lagi mendustakan! niscaya akan memakan pohon zaqqun, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu, kau akan meminum air yang sangat panas."

5. Fungsi Iman kepada Hari Akhir

Fungsi dogma kepada hari akhir, yaitu:
  1. Memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Adil.
  2. Kuasa menghancurkan alam semesta dengan segala isinya (terjadinya simpulan zaman kubra).
  3. Kuasa mengadili makhluk dengan seadil-adilnya, berdasarkan perbuatan insan di dunia, pada Yaumul Hisab.
  4. Mendorong untuk berdisiplin menjalankan ibadah, menyerupai salat lima waktu.
  5. Memberi dorongan untuk membiasakan diri dengan sikap dan sikap terpuji (akhlaku karimah) dan menjauhkan dari sikap tercela (akhlakul mazmumah).
  6. Memberi dorongan untuk bersikap optimis dalam hidup.

Nasihat Rasulullah saw. perihal dogma kepada hari akhir, yaitu bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya:
  1. Tidak ikut duduk-duduk di kawasan jamuan makan yang di situ dibagi-bagikan minuman keras.
  2. Menghormati tamunya.
  3. Berlaku baik kepada tetangga.
  4. Berkata baik.

6. Tanda-Tanda Hari Kiamat

Dalam hadis diriwayatkan bahwa Jibril bertanya kepada Rasulullah saw. perihal tibanya hari Kiamat. Pertanyaan itu dijawab oleh beliau, bahwa yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.

Kemudian Jibril berkata lagi "Beritahukanlah kepada saya tanda-tandanya."

Rasulullah saw. menjawab: "Apabila hamba sahaya (budak) perempuan melahirkan tuannya, dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, serta para penggembala kambing hidup bermegah-megahan dalam gedung yang besar." (H.R. Ibnu Majah).

7. Hikmah Beriman kepada Hari Akhir

Beberapa pesan yang tersirat yang sanggup diambil dari dogma kepada hari akhir, antara lain:
  • Memperkuat keyakinan bahwa Allah swt. ialah satu-satunya Dzat Yang Maha kuasa atas segala sesuatu dan Maha adil. Allah swt. berkuasa atas segala ciptaan-Nya dan Dia ialah hakim yang seadil-adilnya.
  • Memberikan motivasi kepada orang yang beriman untuk senantiasa menghiasi hidupnya dengan amalan-amalan yang sanggup mengantarkannya kepada kebahagiaan di kelak kemudian hari.
  • Mencegah orang berbuat maksiat atau ingkar kepada Allah alasannya ialah sadar bahwa setiap apa yang diperbuat tidak akan lepas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.
  • Menambahkan rasa optimis dalam hidup seorang mukmin mempunyai satu tujuan hidup mencari rida Allah.

Nah itu pembahasan perihal Hari Akhir sebagai Hari Pembalasan yang Hakiki, agar pembahasan ini bisa membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran dan menambahkan keimanan kita kepada Allah SWT.
√ Ketentuan Janji Nikah Berdasarkan Perundang-Undangan Di Indonesia
Lihat Detail

√ Ketentuan Janji Nikah Berdasarkan Perundang-Undangan Di Indonesia

Pernikahan yaitu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang senang dan infinit berdasarkan ketuhanan yang maha Esa (UUP pasal 1).

Pernikahan yaitu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri √ Ketentuan Pernikahan Menurut Perundang-Undangan di Indonesia

1. Tujuan Pernikahan

Tujuannya yaitu membentuk keluarga yang senang dan infinit berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UUP pasal 1).

2. Sahnya Pernikahan

Tujuannya yaitu sah, apabila dilakukan berdasarkan aturan masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu (UUP pasal 2 (1)).

3. Hak da Kewajiban Suami Istri

Hak dan kewajiban suami istri antara lain.
  1. Suami wajib melindungi istrinya dan memperlihatkan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai kemampuannya.
  2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.
  3. Jika suami/istri melaksanakan kewajiban masing-masing dapa mengajukan somasi kepada pengadilan (UUP Ps 34).

4. Larangan Pernikahan

Pernikahn di larang antara dua orang yang:
  1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun faktor.
  2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, dengan saudara orang renta dan antara seorang dengan saudara neneknya.
  3. Berhubungan saudara yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau bapak tiri.
  4. Berhubungan susuan yaitu orang renta susuan, anak susuan, saudara, sudan, dan bibi/paman susuan.
  5. Berhubungan dengan istri/sebagai bibi/kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.
  6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya/perbuatan lain yang berlaku tidak boleh nikah (UUP pasal 8).

5. Putusan Pernikahan

Adanya putusan pernikahan ada 3 yakni:
  1. Kematian
  2. Perceraian
  3. Atas keputusan pengadilan (UUP pasal 38)

6. Larangan Pernikahan Menurut KHI Pasal 39:1

a. Pertalian Nasab

  1. Dengan seorang perempuan yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya (ibu).
  2. Dengan seorang perempuan keturunan ayah atau ibu (anaknya ayah atau anaknya ibu).
  3. Dengan saudara perempuan yang melahirkan (bibi dari pihak ibu).

b. Karena Pertalian Kerabat Semenda

  1. Dengan seorang perempuan yang melahirkan istrinya atau bekas istrinya (mertua).
  2. Dengan seorang perempuan bekas istri orang yang menurunkannya (bekas istri ayah).
  3. Dengan seorang perempuan keturunan istri atau bekas istrinya (anaknya istri), kecuali putusnya hubungan pernikahan dengan bekas istrinya itu qabla ad dukhul.
  4. Dengan seorang perempuan bekas istri keturunannya (bekas istri anaknya).

c. Karena Pertalian Susuan

  1. Dengan perempuan yang menyusuinya dan seterusnya berdasarkan garis ke atas.
  2. Dengan seorang perempuan sesusuan dan seterusnya berdasarkan garis lurus ke bawah.
  3. Dengan seorang perempuan saudara sesusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah.
  4. Dengan seorang perempuan bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas.
  5. Dengan anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya.

Pasal 40 KHI, tidak boleh melangsungkan pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan alasannya yaitu keadaan tertentu:
  1. Karena perempuan yang bersangkutan masih terikat satu pernikahan dengan laki-laki lain.
  2. Seorang perempuan yang masih berada dalam masa iddah dengan laki-laki lain.
  3. Seorang perempuan yang tidak beragama islam.

7. Putusnya Pernikahan

Pasal 113 KHI, pernikahan sanggup putus karena: kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan. Pasal 116 KHI, perceraian sanggup terjadi alasannya yaitu alasan atau alasan-alasan:
  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemab*k, pemadat, penj*di, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau alasannya yaitu hal lain di luar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak menerima eksekusi penjara 5 (lima) tahun atau eksekusi yang lebih berat sehabis pernikahan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melaksanakan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak menerima cacat tubuh atau penyakit dengan jawaban tidak sanggup menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
  6. Antara suami atau istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada cita-cita akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak.
  8. Peralihan agama atau murtad yang mengakibatkan ketidakrukunan dalam rumah tangga,

Menurut jumlahnya talak dibagi menjadi 2, yaitu:
  1. Talak raj'i yaitu talak ke satu dan kedua, dimana suami berhak rujuk selama istri dalam masa iddah. (Pasal 116 KHI).
  2. Talak ba'in nirwana yaitu talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh ijab kabul  baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah (Pasal 119 ayat (1) KHI).
  3. Talak ba'in kubra yaitu talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak sanggup dirujuk dan tidak sanggup dinikahkan kembali, kecuali apabila pernikahan itu dilakukan sehabis bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da ad-dukhul dan habis masa iddahnya.

Yang termasuk talak ba'in sugra, yaitu (Pasal 119 ayat (2) KHI):
  1. Talak yang terjadi qabla ad-dukhul.
  2. Talak dengan tebusan (khuluk).
  3. Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.

Menurut tidak boleh atau tidaknya, talak juga dibagi 2 (dua) yaitu:
  1. Talak sunny yaitu talak yang dibolehkan, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut. (Pasal 121 KHI).
  2. Talak bid'i yaitu talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan haid, atau istri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut. (Pasal 122 KHI).

8. Akibat Putusnya Pernikahan

Pasal 149 KHI, bilamana pernikahan putus alasannya yaitu talak maka bekas suami wajib:
  1. Memberikan mut'ah yang layak kepada bekas istrinya baik berupa uang atau benda, kecuali jikalau istri tersebut qabla ad-dukhul.
  2. Memberi nafkah maskan dan kiswah kepada bekas istri selama masa iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba'in atau nusyu dan dalam keadaan tidak hamil.
  3. Melunasi mahar yang masih terutang seluruhnya, dan separuh apabila qabla ad-dukhul.
  4. Memberikan biaya hadanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun/

Berikut ini isi Pasal 153 KHI:
  1. Bila seorang istri yang putus pernikahan berlalu waktu tunggu atau iddah, kecuali qabla ad-dukhul dan pernikahannya putus bukan alasannya yaitu kematian suami.
  2. Waktu tunggu bagi janda ditentukan sebagai berikut: a). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu kematian walaupun qabla ad-dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh hari). b). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu perceraian, waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan tiga kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 hari. c). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu kematian, sedangkan janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan hingga melahirkan.
  3. Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus pernikahan alasannya yaitu perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qabla ad-dukhul.

Nah itu lah pembahasan wacana Ketentuan Pernikahan Menurut Perundang-Undangan di Indonesia, biar pembahasan ini bisa menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Pernikahan yaitu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang senang dan infinit berdasarkan ketuhanan yang maha Esa (UUP pasal 1).

Pernikahan yaitu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri √ Ketentuan Pernikahan Menurut Perundang-Undangan di Indonesia

1. Tujuan Pernikahan

Tujuannya yaitu membentuk keluarga yang senang dan infinit berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UUP pasal 1).

2. Sahnya Pernikahan

Tujuannya yaitu sah, apabila dilakukan berdasarkan aturan masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu (UUP pasal 2 (1)).

3. Hak da Kewajiban Suami Istri

Hak dan kewajiban suami istri antara lain.
  1. Suami wajib melindungi istrinya dan memperlihatkan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai kemampuannya.
  2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.
  3. Jika suami/istri melaksanakan kewajiban masing-masing dapa mengajukan somasi kepada pengadilan (UUP Ps 34).

4. Larangan Pernikahan

Pernikahn di larang antara dua orang yang:
  1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun faktor.
  2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, dengan saudara orang renta dan antara seorang dengan saudara neneknya.
  3. Berhubungan saudara yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau bapak tiri.
  4. Berhubungan susuan yaitu orang renta susuan, anak susuan, saudara, sudan, dan bibi/paman susuan.
  5. Berhubungan dengan istri/sebagai bibi/kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.
  6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya/perbuatan lain yang berlaku tidak boleh nikah (UUP pasal 8).

5. Putusan Pernikahan

Adanya putusan pernikahan ada 3 yakni:
  1. Kematian
  2. Perceraian
  3. Atas keputusan pengadilan (UUP pasal 38)

6. Larangan Pernikahan Menurut KHI Pasal 39:1

a. Pertalian Nasab

  1. Dengan seorang perempuan yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya (ibu).
  2. Dengan seorang perempuan keturunan ayah atau ibu (anaknya ayah atau anaknya ibu).
  3. Dengan saudara perempuan yang melahirkan (bibi dari pihak ibu).

b. Karena Pertalian Kerabat Semenda

  1. Dengan seorang perempuan yang melahirkan istrinya atau bekas istrinya (mertua).
  2. Dengan seorang perempuan bekas istri orang yang menurunkannya (bekas istri ayah).
  3. Dengan seorang perempuan keturunan istri atau bekas istrinya (anaknya istri), kecuali putusnya hubungan pernikahan dengan bekas istrinya itu qabla ad dukhul.
  4. Dengan seorang perempuan bekas istri keturunannya (bekas istri anaknya).

c. Karena Pertalian Susuan

  1. Dengan perempuan yang menyusuinya dan seterusnya berdasarkan garis ke atas.
  2. Dengan seorang perempuan sesusuan dan seterusnya berdasarkan garis lurus ke bawah.
  3. Dengan seorang perempuan saudara sesusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah.
  4. Dengan seorang perempuan bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas.
  5. Dengan anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya.

Pasal 40 KHI, tidak boleh melangsungkan pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan alasannya yaitu keadaan tertentu:
  1. Karena perempuan yang bersangkutan masih terikat satu pernikahan dengan laki-laki lain.
  2. Seorang perempuan yang masih berada dalam masa iddah dengan laki-laki lain.
  3. Seorang perempuan yang tidak beragama islam.

7. Putusnya Pernikahan

Pasal 113 KHI, pernikahan sanggup putus karena: kematian, perceraian, dan atas putusan pengadilan. Pasal 116 KHI, perceraian sanggup terjadi alasannya yaitu alasan atau alasan-alasan:
  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemab*k, pemadat, penj*di, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau alasannya yaitu hal lain di luar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak menerima eksekusi penjara 5 (lima) tahun atau eksekusi yang lebih berat sehabis pernikahan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melaksanakan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak menerima cacat tubuh atau penyakit dengan jawaban tidak sanggup menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
  6. Antara suami atau istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada cita-cita akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak.
  8. Peralihan agama atau murtad yang mengakibatkan ketidakrukunan dalam rumah tangga,

Menurut jumlahnya talak dibagi menjadi 2, yaitu:
  1. Talak raj'i yaitu talak ke satu dan kedua, dimana suami berhak rujuk selama istri dalam masa iddah. (Pasal 116 KHI).
  2. Talak ba'in nirwana yaitu talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh ijab kabul  baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah (Pasal 119 ayat (1) KHI).
  3. Talak ba'in kubra yaitu talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak sanggup dirujuk dan tidak sanggup dinikahkan kembali, kecuali apabila pernikahan itu dilakukan sehabis bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da ad-dukhul dan habis masa iddahnya.

Yang termasuk talak ba'in sugra, yaitu (Pasal 119 ayat (2) KHI):
  1. Talak yang terjadi qabla ad-dukhul.
  2. Talak dengan tebusan (khuluk).
  3. Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.

Menurut tidak boleh atau tidaknya, talak juga dibagi 2 (dua) yaitu:
  1. Talak sunny yaitu talak yang dibolehkan, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut. (Pasal 121 KHI).
  2. Talak bid'i yaitu talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan haid, atau istri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut. (Pasal 122 KHI).

8. Akibat Putusnya Pernikahan

Pasal 149 KHI, bilamana pernikahan putus alasannya yaitu talak maka bekas suami wajib:
  1. Memberikan mut'ah yang layak kepada bekas istrinya baik berupa uang atau benda, kecuali jikalau istri tersebut qabla ad-dukhul.
  2. Memberi nafkah maskan dan kiswah kepada bekas istri selama masa iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba'in atau nusyu dan dalam keadaan tidak hamil.
  3. Melunasi mahar yang masih terutang seluruhnya, dan separuh apabila qabla ad-dukhul.
  4. Memberikan biaya hadanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun/

Berikut ini isi Pasal 153 KHI:
  1. Bila seorang istri yang putus pernikahan berlalu waktu tunggu atau iddah, kecuali qabla ad-dukhul dan pernikahannya putus bukan alasannya yaitu kematian suami.
  2. Waktu tunggu bagi janda ditentukan sebagai berikut: a). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu kematian walaupun qabla ad-dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh hari). b). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu perceraian, waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan tiga kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 hari. c). Apabila pernikahan putus alasannya yaitu kematian, sedangkan janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan hingga melahirkan.
  3. Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus pernikahan alasannya yaitu perceraian sedang antara janda tersebut dengan bekas suaminya qabla ad-dukhul.

Nah itu lah pembahasan wacana Ketentuan Pernikahan Menurut Perundang-Undangan di Indonesia, biar pembahasan ini bisa menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
√ Sejarah Peranan Umat Islam Di Indonesia
Lihat Detail

√ Sejarah Peranan Umat Islam Di Indonesia

Agama dan umat islam sangat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia diberbagai bidang khususnya di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Secara rincian akan di jelaskan sebagai berikut.

Agama dan umat islam sangat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia diberbagai bidang khus √ Sejarah Peranan Umat Islam di Indonesia 

1. Sosial, Politik, dan Ekonomi

Di antara peranan umat Islam dalam bidang ini adalah:
  1. Pada masa pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam hal pemerintahan. Raja Samudera Pasai (Sultan Nazimuddin Al-Kamil) meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai dengan landasan aturan Islam.
  2. Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai ditunjang dengan diberlakukannya aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
  3. Masyarakat Aceh hidup dengan dua dasar aturan kemasyarakatan yaitu budbahasa istiadat dan aliran Islam.
  4. Demak menjadi sentra penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah bab Timur.
  5. Demak menyerang Malaka dari Selat Sunda, pantai barat Sumatra, Aceh, dan Selat Malaka.
  6. Kehidupan masyarakat Demak tetap diatur oleh aturan Islam yang berlaku dan sebagian lainnya tetap bertahan dengan budaya sebelumnya.
  7. Demak membangun basis perekonomian di bidang pertanian yang menghasilkan beras. Demak menjalin kekerabatan dengan kota-kota pelabuhan menyerupai Malaka dan Makasar.
  8. Sejak berkembangnya Islam di Banten, masyarakat Banten menganut tatanan Islam. Kelompok masyarakat yang menolak tatanan Islam tersebut menyingkir ke pedalaman Banten Selatan yang lalu dikenal dengan suku Badui.
  9. Sebagaimana kerajaan Islam yang lain, Kerajaan Makassar menerapkan aturan Islam.

2. Kebudayaan

Berdasarkan peninggalan-peninggalan sejarah Islam di Indonesia, sanggup diketahui bahwa umat islam berperan besar dalam kehidupan berbudaya. Hal tersebut sanggup dilihat dari majemuk bentuk peninggalan budayanya, antara lain:
  1. Dalam bentuk masjid yang umumnya merupakan perpaduan kebudayaan Islam dengan kebudayaan setempat. Masjid yang terbesar di wilayah Indonesia ialah Masjid Demak di Demak (Jawa Tengah), Masjid Indraputra di Aceh, Masjid Sunan Kudus di Kudus (Jawa Tengah), dan Masjid Sunan Ampel di Ampel.
  2. Dalam bentuk keraton, menyerupai Keraton Kaibon di Banten, Kasepuhan Cirebon di Cirebon (Jawa Barat), Keraton Solo di Solo, dan Keraton Kasultanan di Yogyakarta.
  3. Dalam bentuk makam, menyerupai Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik (Jawa Timur), komplek makam di Mesjid Demak, makam Islam di Tallo, dan lain-lain.
  4. Dalam bentuk karya sastra. 

Di antara karya sastra tersebut adalah:
  1. Karya sastra berupa syair (Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri), syair sejarah (Syair Kompeni Walanda), syair Perang Banjarmasin, syair fiksi (Syair Ken Tambunan, ikan Terubuk, dan Syair Abdul muluk).
  2. Kitab, yang memuat aliran kebijaksanaan pekerti (nitisastra). Niti Sruti, Kitab Manik Maya, Kitab Anbia Astabrata, Kitab Susana Sunu, dan Kitab perihal pemerintahan.
  3. Hikayat, yang memuat hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bayan Bakhtiar, dan Hikayat Jauhar Manikam.
  4. Bidang seni, yaitu seni pertunjukan wayang kulit, seni huruf goresan pena Arab-Melayu (tidak menggunakan harakat), seni kaligrafi, seni pahat, dan seni ukir.
  5. Akulturasi dan akumulasi kebudayaan, antara lain kebudayaan Islam dan kebudayaan masyarakat setempat.

Nah itu lah pembahasan perihal Sejarah Peranan Umat Islam di Indonesia, biar pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
Agama dan umat islam sangat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia diberbagai bidang khususnya di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Secara rincian akan di jelaskan sebagai berikut.

Agama dan umat islam sangat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia diberbagai bidang khus √ Sejarah Peranan Umat Islam di Indonesia 

1. Sosial, Politik, dan Ekonomi

Di antara peranan umat Islam dalam bidang ini adalah:
  1. Pada masa pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam hal pemerintahan. Raja Samudera Pasai (Sultan Nazimuddin Al-Kamil) meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai dengan landasan aturan Islam.
  2. Perkembangan Kerajaan Samudera Pasai ditunjang dengan diberlakukannya aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
  3. Masyarakat Aceh hidup dengan dua dasar aturan kemasyarakatan yaitu budbahasa istiadat dan aliran Islam.
  4. Demak menjadi sentra penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah bab Timur.
  5. Demak menyerang Malaka dari Selat Sunda, pantai barat Sumatra, Aceh, dan Selat Malaka.
  6. Kehidupan masyarakat Demak tetap diatur oleh aturan Islam yang berlaku dan sebagian lainnya tetap bertahan dengan budaya sebelumnya.
  7. Demak membangun basis perekonomian di bidang pertanian yang menghasilkan beras. Demak menjalin kekerabatan dengan kota-kota pelabuhan menyerupai Malaka dan Makasar.
  8. Sejak berkembangnya Islam di Banten, masyarakat Banten menganut tatanan Islam. Kelompok masyarakat yang menolak tatanan Islam tersebut menyingkir ke pedalaman Banten Selatan yang lalu dikenal dengan suku Badui.
  9. Sebagaimana kerajaan Islam yang lain, Kerajaan Makassar menerapkan aturan Islam.

2. Kebudayaan

Berdasarkan peninggalan-peninggalan sejarah Islam di Indonesia, sanggup diketahui bahwa umat islam berperan besar dalam kehidupan berbudaya. Hal tersebut sanggup dilihat dari majemuk bentuk peninggalan budayanya, antara lain:
  1. Dalam bentuk masjid yang umumnya merupakan perpaduan kebudayaan Islam dengan kebudayaan setempat. Masjid yang terbesar di wilayah Indonesia ialah Masjid Demak di Demak (Jawa Tengah), Masjid Indraputra di Aceh, Masjid Sunan Kudus di Kudus (Jawa Tengah), dan Masjid Sunan Ampel di Ampel.
  2. Dalam bentuk keraton, menyerupai Keraton Kaibon di Banten, Kasepuhan Cirebon di Cirebon (Jawa Barat), Keraton Solo di Solo, dan Keraton Kasultanan di Yogyakarta.
  3. Dalam bentuk makam, menyerupai Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik (Jawa Timur), komplek makam di Mesjid Demak, makam Islam di Tallo, dan lain-lain.
  4. Dalam bentuk karya sastra. 

Di antara karya sastra tersebut adalah:
  1. Karya sastra berupa syair (Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri), syair sejarah (Syair Kompeni Walanda), syair Perang Banjarmasin, syair fiksi (Syair Ken Tambunan, ikan Terubuk, dan Syair Abdul muluk).
  2. Kitab, yang memuat aliran kebijaksanaan pekerti (nitisastra). Niti Sruti, Kitab Manik Maya, Kitab Anbia Astabrata, Kitab Susana Sunu, dan Kitab perihal pemerintahan.
  3. Hikayat, yang memuat hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bayan Bakhtiar, dan Hikayat Jauhar Manikam.
  4. Bidang seni, yaitu seni pertunjukan wayang kulit, seni huruf goresan pena Arab-Melayu (tidak menggunakan harakat), seni kaligrafi, seni pahat, dan seni ukir.
  5. Akulturasi dan akumulasi kebudayaan, antara lain kebudayaan Islam dan kebudayaan masyarakat setempat.

Nah itu lah pembahasan perihal Sejarah Peranan Umat Islam di Indonesia, biar pembahasan ini sanggup menambah wawasan dan membantu teman-teman untuk memudahkan pembelajaran.
√ Sifat-Sifat Yang Dimiliki Para Nabi Dan Rasul Beserta Artinya
Lihat Detail

√ Sifat-Sifat Yang Dimiliki Para Nabi Dan Rasul Beserta Artinya

Meskipun para nabi itu yaitu insan biasa yang makan dan minum, sehat dan sakit, menikah dengan wanita, berjalan di pasar-pasar, mengalami aneka macam hal yang lazim dialami oleh manusia, ibarat lemah, tua, mati, dan sebagainya.

Mereka mempunyai keistimewaan dan mempunyai sifat-sifat luhur dan agung sesuai dengan kedudukannya. Sifat-sifat tersebut yaitu sebagai berikut.

Meskipun para nabi itu yaitu insan biasa yang makan dan minum √ Sifat-Sifat Yang dimiliki Para Nabi dan Rasul Beserta Artinya

1. Ash-Shiddiq (benar, jujur)

Sifat ini merupakan kelaziman bagi seorang nabi, meskipun sifat ini harus dimiliki setiap orang. Namun, melihat kaitannya dengan kiprah dakwah para nabi, sifat ini merupakan sifat yang menempel pada mereka, bahkan merupakan sifat fitriyah mereka.

Oleh alasannya yaitu itu, mustahil ada seorang nabi pun yang melaksanakan perbuatan yang sanggup menurunkan derajatnya, ibarat berdusta, berkhianat, berbuat curang, makan harta orang lain secara batil, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Sifat-sifat tercela ibarat itu tidak layak terdapat pada orang biasa apalagi terhadap seorang nabi yang selalu akrab dengan Allah atau dimiliki oleh seorang rasul yang sangat terhormat.

Seandainya para Nabi pernah berbuat dusta, pasti wahyu yang dibawanya tidak akan dipercayai oleh umatnya atau apapun yang dikatakannya tiba dari Allah SWT. tidak akan dipercayai oleh umat insan alasannya yaitu insan pasti akan berasumsi bahwa semua itu hanya dari dirinya sendiri atau dari buah pikirannya sendiri. Sungguh mereka telah benar-benar dibersihkan Allah dari perbuatan dosa dan mengada-ada.

Dalam firman-Nya di bawah ini, Allah menjelaskan:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ ٱلْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِٱلْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ ٱلْوَتِينَ (46) فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَٰجِزِينَ (47) وَإِنَّهُۥ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ (48

Artinya:
"Seandainya dia (Muhamad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali tidak ada seorang pun dari kau yang sanggup menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. Dan bahwasanya Al-Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Al-Haaqah: 44-48)

Al-Imam Asy-Syahid Sayid Quttub rahimahullah di dalam tafsirnya Fi Sdhilalil Qur'an, menyampaikan bahwa pada balasannya datanglah ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang mengada-adakan dusta atas nama Allah dalam bidang dogma tanpa sedikit pun mengenal kompromi dan belas kasihan.

Ancaman ini memperlihatkan adanya satu ketetapan pasti yang tidak sanggup disangkal lagi, yang benar-benar sanggup mengemban amanah bahwa Rasulullah SAW. tiba memberikan risalah Allah SWT.

Andaikata ia suka mengada-adakan perkataan yang tidak diwahyukan kepadanya atas nama Allah, pasti Allah sudah menyiksa dan mmbnh ia sebagaimana yang tertera dalam ayat-ayat diatas. Namun alasannya yaitu ancaman ini tidak terwujud pada diri beliau, hal ini memperlihatkan bahwa ia yaitu orang yang benar.

2. Al-Amanah (Dapat dipercaya)

Nabi yaitu orang yang sanggup mengemban amanah dalam mengemban wahyu, memberikan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tanpa menambah atau mengurangi, tanpa mengubah atau mengganti, untuk merealisasikan firman Allah SWT.:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya:
"(yaitu) orang-orang yang memberikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada mencicipi takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan." (Q.S. Al-Ahzab: 39)

Para Nabi yaitu orang yang sanggup mengemban amanah untuk mengemban wahyu dan memberikan perintah-perintah Allah sebagaimana halnya saat diturunkan. Sehingga, mustahil mereka berkhianat atau menyembunyikan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.

Mereka benar-benar memahami bahwa khianat akan menghilangkan kepercayaan. Karena itu, patutkah seorang nabi mengkhianati amanat yang diberikan kepadanya, lantas ia menawarkan nasehat kepada umat dan tidak memberikan risalah?

Semua nabi yang mulia telah menunaikan kiprah yang dipikulkan ke pundaknya dengan sebaik-baiknya. Setiap nabi menyampaikan kepada kaumnya, firman Allah SWT.:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

Artinya:
"Aku memberikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan saya hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." (Q.S. At-Takwiir: 240)

Ayat ini membuktikan bahwa nabi Muhammad SAW. bukan merupakan orang yang pelit untuk memberikan wahyu dan keterangan perkara-perkara mistik dari Allah SWT. Seandainya para nabi itu tidak percaya, pasti risalah ini akan berubah dan insan pun tidak akan merasa hening mendapatkan wahyu yang diturunkan Allah. Aisyah r.a berkata, "Apabila Nabi Muhammad SAW. pernah menyembunyikan wahyu yang diturunkan kepadanya, pasti disembunyikanlah ayat ini:

...وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ... 

Artinya:
"Sedang kau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kau takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kau takuti." (Q.S. Al-Ahzab: 37)

Oleh alasannya yaitu itu, pastilah setiap nabi dan rasul mempunyai sifat amanah supaya hati insan merasa hening mempercayai keselamatan dan terpeliharanya wahyu serta percaya bahwa semua yang disampaikan mereka benar-benar dari Allah SWT. Maha benar Allah yang telah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (Q.S. An-Najm: 3-4)

3. Tabligh (Menyampaikan)

Sifat ini hanya dikhususkan bagi para rasul. Yang dimaksudkan dengan tabligh yaitu kiprah para rasul untuk memberikan hukum-hukum Allah dan memberikan wahyu yang diturunkan kepada mereka dari langit.

Oleh alasannya yaitu itu, tidak ada sedikit pun wahyu Allah yang mereka sembunyikan meskipun dalam penyampaiannya itu, mereka menghadapi risiko dan tantangan dari orang-orang jahat dan durhaka.

Al-Qur'an merekam perkataan Nabi Nuh a.s. sebagai berikut:

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ . أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
"Nuh menjawab, "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi saya yaitu utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan saya memberi nasehat kepadamu, dan saya mengetahui dari Allah, apa yang tidak kami ketahui." (Q.S. Al-A'raaf:79)


Mengenai Nabi Syu'aib a.s., Al-Qur'an juga menceritakan:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ


Artinya:
"Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata. "Hai kaumku, bahwasanya saya telah memberikan kepada mu amanat-amanat Tuhanku dan saya telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana saya akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kfr?" (Q.S. Al.A'raaf:93)

Demikianlah, kita dapati semua kisah pada rasul dalam Al-Qur'an. Semua rasul mengumumkan secara tegas dan terperinci bahwa mereka telah memberikan risalah (amanat) Allah dan telah menawarkan nasehat kepada umatnya. Rasul terakhir, Muhammad SAW. pun diperintahkan oleh Allah untuk memberikan risalah-Nya. Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya:
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan bila tidak kau kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kau tidak memberikan amanat-Nya. Allah memelihara kau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kfr." (Q.S. Al-Maidah:67)

Kaprikornus setiap rasul dibebani kiprah memberikan dakwah (seruan) dan risalah. Tidak mungkin ada seorang pun dari mereka yang menambah atau mengurangi satu abjad pun dari apa yang diturunkan kepadanya.

Jika dia melaksanakan hal itu berarti dia telah menentang perintah Allah dan mengkhianati amanat yang dipikulkan diatas pundaknya. Karena itulah, kita dapati sebagian surat atau ayat-ayat Al-Qur'an yang diawali dengan kata-kata (Katakanlah) yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW.  agar memberikan kepada umatnya. Maka disampaikan lah apa yang diturunkan itu oleh ia tanpa dikurangi atau ditambah.

4. Al-Fathanah (cerdas)

Setiap Nabi yang diutus oleh Allah pasti mempunyai kecerdasan yang tinggi, pikiran yang tepat dan lurus, cerdik dan cendikia. Marilah kita perhatikan firman Allah SWT. dalam menyikapi kekasih-Nya, Ibrahim a.s.:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

Artinya:
"Dan bahwasanya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan yaitu Kami mengetahui (keadaan) nya." (Q.S. Al-Anbiya: 51)


Marilah kita perhatikan obrolan yang terjadi antara nabi Ibrahim a.s. dengan kaum nya yang musyrik. Dari obrolan ini akan kita lihat betapa cerdas dan cendekianya beliau. Firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 58-67 mengisahkan sebagai berikut:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ . قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ . قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ . قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ . قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

Artinya:
"Maka Ibrahim menciptakan berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; supaya mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melaksanakan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, bahwasanya dia termasuk orang-orang yang zalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang cowok yang mencela berhala-berhala ini yang berjulukan Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang sanggup dilihat orang banyak, supaya mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melaksanakan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?". Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, bila mereka sanggup berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan kemudian berkata: "Sesungguhnya kau sekalian yaitu orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak sanggup berbicara". Ibrahim berkata: Maka mengapakah kau menyembah selain Allah sesuatu yang tidak sanggup memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kau dan apa yang kau sembah selain Allah. Maka apakah kau tidak memahami?"

Ini merupakan kecerdikan dan kecerdasan (intelektualitas) yang tinggi yang tampak dalam diri nabi Ibrahim a.s. Dihancurkannya berhala-berhala dengan tangannya kemudian dikalungkannya kapak di leher berhala yang paling besar. Berhala itu akan dipakai sebagai alasan untuk mematahkan argumentasi kaumnya yang musyrik.

Ketika kaumnya membawa dia ke pengadilan dan mengemukakan pertanyaan kepadanya ihwal siapa yang menghancurkan berhala-berhala sesembahan itu, Ibrahim menjawab, "Bukan saya yang melakukannya tetapi berhala yang paling besar yang kau anggap sebagai Tuhan Yang maha agung itulah yang melakukannya alasannya yaitu ia tidak rela berhala-berhala lain disembah bersamanya. Kalau tidak percaya tanyakan lah hal ini kepada berhala-berhala itu."

Perkataannya telah mengenai target yang tepat. Dipertahankannya argumentasi ia dan disadarkannya kebijaksanaan mereka sehabis mereka bergelimang dalam kebodohan. Demikianlah kebijaksanaan para nabi.

5. As-Salamah Minal U'yubi Munaffirah (Selamat dari Cacat yang Menyebabkan Orang Lain Lari darinya)

Ini merupakan keistimewaan para nabi yang mulia. Mereka mustahil menyandang cacat mental dan jasmani sehingga orang lain menjauhinya atau tidak mengikutinya dan mendengarkan dakwahnya.

Misalnya, ibarat penyakit sopak dan kusta atau penyakit-penyakit lain yang menyebabkan orang lain lari darinya. Semua itu mustahil terjadi pada diri seorang rasul.

Memang, para rasul yaitu insan biasa yang menghadapi problem sebagaimana layaknya manusia. Tetapi Allah SWT. melindungi mereka dari cacat dan penyakit yang menjijikan yang menyebabkan orang lain lari menjauhinya.

Adapun dongeng yang menyampaikan bahwa Nabi Ayub a.s. pernah ditimpa penyakit yang sangat berat (sehingga tubuhnya membusuk dan keluar ulat dan istrinya membenci dan menjauhinya), ini semua hanya kebatilan dan kebohongan dari cerita-cerita Israilliyat (Yhdi). 

Yang demikian itu bertentangan dengan sifat-sifat seorang nabi. Al-Qur'an pun tidak menyebutkan sedikitpun mengenai problem ini kepada kita. Yang ada dalam Al-Quran hanya keterangan bahwa ia ditimpa penyakit lantas ia berdoa memohon kepada Rabbnya sehabis penyakit tersebut dirasakannya berat dan membahayakan, kemudian Allah SWT. melenyapkan penyakit dan kesusahan yang menimpa itu. Firman Allah SWT.:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Artinya:
"dan (ingatlah kisah) Ayub, saat ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), bahwasanya saya telah ditimpa penyakit dan Engkau yaitu Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, kemudian Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (Q.S. Al-Anbiya: 83-84)

6. Al-Ishmah (Terpelihara dari dosa-dosa)

Diantara keistimewaan nabi yaitu dijauhkannya mereka dari harapan untuk melaksanakan maksiat dan mengikuti kehendak hawa nafsu. Mereka juga dijauhkan dari segala sikap dan sikap yang sanggup menurunkan harkat dan martabatnya.

Mereka yaitu orang-orang yang paling mulia akhlaknya, paling higienis amalannya, paling suci jiwanya, dan paling harum perjalanan hidupnya, alasannya yaitu mereka yaitu pemimpin dan teladan bagi insan dan kemanusiaan.

Karena itulah Allah memerintahkan insan untuk mengikuti mereka, mencontoh budpekerti mereka menempuh jalan hidup sebagaimana yang ditempuh mereka. Mereka terpelihara dari dosa-dosa.

Nah itulah enam sifat yang dimiliki para Nabi dan Rasul yang patut kita teladani, semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan anda.
Meskipun para nabi itu yaitu insan biasa yang makan dan minum, sehat dan sakit, menikah dengan wanita, berjalan di pasar-pasar, mengalami aneka macam hal yang lazim dialami oleh manusia, ibarat lemah, tua, mati, dan sebagainya.

Mereka mempunyai keistimewaan dan mempunyai sifat-sifat luhur dan agung sesuai dengan kedudukannya. Sifat-sifat tersebut yaitu sebagai berikut.

Meskipun para nabi itu yaitu insan biasa yang makan dan minum √ Sifat-Sifat Yang dimiliki Para Nabi dan Rasul Beserta Artinya

1. Ash-Shiddiq (benar, jujur)

Sifat ini merupakan kelaziman bagi seorang nabi, meskipun sifat ini harus dimiliki setiap orang. Namun, melihat kaitannya dengan kiprah dakwah para nabi, sifat ini merupakan sifat yang menempel pada mereka, bahkan merupakan sifat fitriyah mereka.

Oleh alasannya yaitu itu, mustahil ada seorang nabi pun yang melaksanakan perbuatan yang sanggup menurunkan derajatnya, ibarat berdusta, berkhianat, berbuat curang, makan harta orang lain secara batil, dan sifat-sifat tercela lainnya.

Sifat-sifat tercela ibarat itu tidak layak terdapat pada orang biasa apalagi terhadap seorang nabi yang selalu akrab dengan Allah atau dimiliki oleh seorang rasul yang sangat terhormat.

Seandainya para Nabi pernah berbuat dusta, pasti wahyu yang dibawanya tidak akan dipercayai oleh umatnya atau apapun yang dikatakannya tiba dari Allah SWT. tidak akan dipercayai oleh umat insan alasannya yaitu insan pasti akan berasumsi bahwa semua itu hanya dari dirinya sendiri atau dari buah pikirannya sendiri. Sungguh mereka telah benar-benar dibersihkan Allah dari perbuatan dosa dan mengada-ada.

Dalam firman-Nya di bawah ini, Allah menjelaskan:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ ٱلْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِٱلْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ ٱلْوَتِينَ (46) فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَٰجِزِينَ (47) وَإِنَّهُۥ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ (48

Artinya:
"Seandainya dia (Muhamad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali tidak ada seorang pun dari kau yang sanggup menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. Dan bahwasanya Al-Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Al-Haaqah: 44-48)

Al-Imam Asy-Syahid Sayid Quttub rahimahullah di dalam tafsirnya Fi Sdhilalil Qur'an, menyampaikan bahwa pada balasannya datanglah ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang mengada-adakan dusta atas nama Allah dalam bidang dogma tanpa sedikit pun mengenal kompromi dan belas kasihan.

Ancaman ini memperlihatkan adanya satu ketetapan pasti yang tidak sanggup disangkal lagi, yang benar-benar sanggup mengemban amanah bahwa Rasulullah SAW. tiba memberikan risalah Allah SWT.

Andaikata ia suka mengada-adakan perkataan yang tidak diwahyukan kepadanya atas nama Allah, pasti Allah sudah menyiksa dan mmbnh ia sebagaimana yang tertera dalam ayat-ayat diatas. Namun alasannya yaitu ancaman ini tidak terwujud pada diri beliau, hal ini memperlihatkan bahwa ia yaitu orang yang benar.

2. Al-Amanah (Dapat dipercaya)

Nabi yaitu orang yang sanggup mengemban amanah dalam mengemban wahyu, memberikan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tanpa menambah atau mengurangi, tanpa mengubah atau mengganti, untuk merealisasikan firman Allah SWT.:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya:
"(yaitu) orang-orang yang memberikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada mencicipi takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan." (Q.S. Al-Ahzab: 39)

Para Nabi yaitu orang yang sanggup mengemban amanah untuk mengemban wahyu dan memberikan perintah-perintah Allah sebagaimana halnya saat diturunkan. Sehingga, mustahil mereka berkhianat atau menyembunyikan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.

Mereka benar-benar memahami bahwa khianat akan menghilangkan kepercayaan. Karena itu, patutkah seorang nabi mengkhianati amanat yang diberikan kepadanya, lantas ia menawarkan nasehat kepada umat dan tidak memberikan risalah?

Semua nabi yang mulia telah menunaikan kiprah yang dipikulkan ke pundaknya dengan sebaik-baiknya. Setiap nabi menyampaikan kepada kaumnya, firman Allah SWT.:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

Artinya:
"Aku memberikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan saya hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu." (Q.S. At-Takwiir: 240)

Ayat ini membuktikan bahwa nabi Muhammad SAW. bukan merupakan orang yang pelit untuk memberikan wahyu dan keterangan perkara-perkara mistik dari Allah SWT. Seandainya para nabi itu tidak percaya, pasti risalah ini akan berubah dan insan pun tidak akan merasa hening mendapatkan wahyu yang diturunkan Allah. Aisyah r.a berkata, "Apabila Nabi Muhammad SAW. pernah menyembunyikan wahyu yang diturunkan kepadanya, pasti disembunyikanlah ayat ini:

...وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ... 

Artinya:
"Sedang kau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kau takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kau takuti." (Q.S. Al-Ahzab: 37)

Oleh alasannya yaitu itu, pastilah setiap nabi dan rasul mempunyai sifat amanah supaya hati insan merasa hening mempercayai keselamatan dan terpeliharanya wahyu serta percaya bahwa semua yang disampaikan mereka benar-benar dari Allah SWT. Maha benar Allah yang telah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Artinya:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (Q.S. An-Najm: 3-4)

3. Tabligh (Menyampaikan)

Sifat ini hanya dikhususkan bagi para rasul. Yang dimaksudkan dengan tabligh yaitu kiprah para rasul untuk memberikan hukum-hukum Allah dan memberikan wahyu yang diturunkan kepada mereka dari langit.

Oleh alasannya yaitu itu, tidak ada sedikit pun wahyu Allah yang mereka sembunyikan meskipun dalam penyampaiannya itu, mereka menghadapi risiko dan tantangan dari orang-orang jahat dan durhaka.

Al-Qur'an merekam perkataan Nabi Nuh a.s. sebagai berikut:

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ . أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
"Nuh menjawab, "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi saya yaitu utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan saya memberi nasehat kepadamu, dan saya mengetahui dari Allah, apa yang tidak kami ketahui." (Q.S. Al-A'raaf:79)


Mengenai Nabi Syu'aib a.s., Al-Qur'an juga menceritakan:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ


Artinya:
"Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata. "Hai kaumku, bahwasanya saya telah memberikan kepada mu amanat-amanat Tuhanku dan saya telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana saya akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kfr?" (Q.S. Al.A'raaf:93)

Demikianlah, kita dapati semua kisah pada rasul dalam Al-Qur'an. Semua rasul mengumumkan secara tegas dan terperinci bahwa mereka telah memberikan risalah (amanat) Allah dan telah menawarkan nasehat kepada umatnya. Rasul terakhir, Muhammad SAW. pun diperintahkan oleh Allah untuk memberikan risalah-Nya. Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya:
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan bila tidak kau kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kau tidak memberikan amanat-Nya. Allah memelihara kau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kfr." (Q.S. Al-Maidah:67)

Kaprikornus setiap rasul dibebani kiprah memberikan dakwah (seruan) dan risalah. Tidak mungkin ada seorang pun dari mereka yang menambah atau mengurangi satu abjad pun dari apa yang diturunkan kepadanya.

Jika dia melaksanakan hal itu berarti dia telah menentang perintah Allah dan mengkhianati amanat yang dipikulkan diatas pundaknya. Karena itulah, kita dapati sebagian surat atau ayat-ayat Al-Qur'an yang diawali dengan kata-kata (Katakanlah) yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW.  agar memberikan kepada umatnya. Maka disampaikan lah apa yang diturunkan itu oleh ia tanpa dikurangi atau ditambah.

4. Al-Fathanah (cerdas)

Setiap Nabi yang diutus oleh Allah pasti mempunyai kecerdasan yang tinggi, pikiran yang tepat dan lurus, cerdik dan cendikia. Marilah kita perhatikan firman Allah SWT. dalam menyikapi kekasih-Nya, Ibrahim a.s.:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

Artinya:
"Dan bahwasanya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan yaitu Kami mengetahui (keadaan) nya." (Q.S. Al-Anbiya: 51)


Marilah kita perhatikan obrolan yang terjadi antara nabi Ibrahim a.s. dengan kaum nya yang musyrik. Dari obrolan ini akan kita lihat betapa cerdas dan cendekianya beliau. Firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 58-67 mengisahkan sebagai berikut:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ . قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ . قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ . قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ . قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ . قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ . ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ . قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ . أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

Artinya:
"Maka Ibrahim menciptakan berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; supaya mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melaksanakan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, bahwasanya dia termasuk orang-orang yang zalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang cowok yang mencela berhala-berhala ini yang berjulukan Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang sanggup dilihat orang banyak, supaya mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melaksanakan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?". Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, bila mereka sanggup berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan kemudian berkata: "Sesungguhnya kau sekalian yaitu orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak sanggup berbicara". Ibrahim berkata: Maka mengapakah kau menyembah selain Allah sesuatu yang tidak sanggup memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" Ah (celakalah) kau dan apa yang kau sembah selain Allah. Maka apakah kau tidak memahami?"

Ini merupakan kecerdikan dan kecerdasan (intelektualitas) yang tinggi yang tampak dalam diri nabi Ibrahim a.s. Dihancurkannya berhala-berhala dengan tangannya kemudian dikalungkannya kapak di leher berhala yang paling besar. Berhala itu akan dipakai sebagai alasan untuk mematahkan argumentasi kaumnya yang musyrik.

Ketika kaumnya membawa dia ke pengadilan dan mengemukakan pertanyaan kepadanya ihwal siapa yang menghancurkan berhala-berhala sesembahan itu, Ibrahim menjawab, "Bukan saya yang melakukannya tetapi berhala yang paling besar yang kau anggap sebagai Tuhan Yang maha agung itulah yang melakukannya alasannya yaitu ia tidak rela berhala-berhala lain disembah bersamanya. Kalau tidak percaya tanyakan lah hal ini kepada berhala-berhala itu."

Perkataannya telah mengenai target yang tepat. Dipertahankannya argumentasi ia dan disadarkannya kebijaksanaan mereka sehabis mereka bergelimang dalam kebodohan. Demikianlah kebijaksanaan para nabi.

5. As-Salamah Minal U'yubi Munaffirah (Selamat dari Cacat yang Menyebabkan Orang Lain Lari darinya)

Ini merupakan keistimewaan para nabi yang mulia. Mereka mustahil menyandang cacat mental dan jasmani sehingga orang lain menjauhinya atau tidak mengikutinya dan mendengarkan dakwahnya.

Misalnya, ibarat penyakit sopak dan kusta atau penyakit-penyakit lain yang menyebabkan orang lain lari darinya. Semua itu mustahil terjadi pada diri seorang rasul.

Memang, para rasul yaitu insan biasa yang menghadapi problem sebagaimana layaknya manusia. Tetapi Allah SWT. melindungi mereka dari cacat dan penyakit yang menjijikan yang menyebabkan orang lain lari menjauhinya.

Adapun dongeng yang menyampaikan bahwa Nabi Ayub a.s. pernah ditimpa penyakit yang sangat berat (sehingga tubuhnya membusuk dan keluar ulat dan istrinya membenci dan menjauhinya), ini semua hanya kebatilan dan kebohongan dari cerita-cerita Israilliyat (Yhdi). 

Yang demikian itu bertentangan dengan sifat-sifat seorang nabi. Al-Qur'an pun tidak menyebutkan sedikitpun mengenai problem ini kepada kita. Yang ada dalam Al-Quran hanya keterangan bahwa ia ditimpa penyakit lantas ia berdoa memohon kepada Rabbnya sehabis penyakit tersebut dirasakannya berat dan membahayakan, kemudian Allah SWT. melenyapkan penyakit dan kesusahan yang menimpa itu. Firman Allah SWT.:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Artinya:
"dan (ingatlah kisah) Ayub, saat ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), bahwasanya saya telah ditimpa penyakit dan Engkau yaitu Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, kemudian Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (Q.S. Al-Anbiya: 83-84)

6. Al-Ishmah (Terpelihara dari dosa-dosa)

Diantara keistimewaan nabi yaitu dijauhkannya mereka dari harapan untuk melaksanakan maksiat dan mengikuti kehendak hawa nafsu. Mereka juga dijauhkan dari segala sikap dan sikap yang sanggup menurunkan harkat dan martabatnya.

Mereka yaitu orang-orang yang paling mulia akhlaknya, paling higienis amalannya, paling suci jiwanya, dan paling harum perjalanan hidupnya, alasannya yaitu mereka yaitu pemimpin dan teladan bagi insan dan kemanusiaan.

Karena itulah Allah memerintahkan insan untuk mengikuti mereka, mencontoh budpekerti mereka menempuh jalan hidup sebagaimana yang ditempuh mereka. Mereka terpelihara dari dosa-dosa.

Nah itulah enam sifat yang dimiliki para Nabi dan Rasul yang patut kita teladani, semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan anda.
√ Dongeng Lengkap Nabi Adam A.S Dan Siti Hawa
Lihat Detail

√ Dongeng Lengkap Nabi Adam A.S Dan Siti Hawa

Sebelum membuat Nabi Adam, Allah SWT. terlebih dahulu telah menimbulkan dua makhluk yang berakal, yaitu:
  1. Makhluk yang berupa malaikat.
  2. Makhluk yang berupa Banuljan/Iblis.

Adapun asal mula insiden kedua makhluk itu adalah:
  1. Malaikat dijadikan dari Nur (cahaya) suci yang berupa roh dan akal, namun tidak mempunyai nafsu. Oleh lantaran itu, malaikat tidak makan, minum, tidak beristri dan hidupnya semata-mata hanyalah melakukan perintah Allah SWT., yaitu ibadah.
  2. Banuljan dijadikan dari api, berbentuk sebagai manusia. Ia membutuhkan makanan, minuman dan beristri dan juga mempunyai keturunan yang banyak sekali.

Adapun Adam diyakini umat Islam sebagai salah satu dari para rasul Allah. Dalam Ensiklopedia Islam Indonesia susunan Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1992) dikatakan bahwa umat Yhdi, Krstn, dan sebagian umat Islam memandang Adam sebagai insan pertama yang diciptakan Tuhan di permukaan bumi ini. Ia digelari sebagai bapak insan (abu al-basyar).

 terlebih dahulu telah menimbulkan dua makhluk yang berakal √ Kisah Lengkap Nabi Adam A.S dan Siti Hawa

Menurut pendapat itu, setelah Allah membentuknya dari tanah dan kemudian meniupkan nafas kehidupan kepadanya maka jadilah ia sebagai insan pertama.

Firman Allah SWT.:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

Artinya:
"Dialah Yang membuat kau dari tanah, setelah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kau masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)." (Q.S. Al-an'am: 2)


Sesudah Nabi Adam terwujud, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam. Semua malaikat bersujud, kecuali iblis yang merasa takabur, sombong, dan merasa lebih mulia daripadanya, lantaran iblis merasa bahwa dirinya dijadikan dari api, sedangkan Nabi Adam dijadikan dari tanah. Oleh lantaran itu iblis termasuk golongan kfr dan Allah AWT. mengusir Iblis dari surga.

Setelah terusir dari nirwana dan menerima kutukan dari Allah SWT., Iblis pun memohon kepada Allah supaya diberi kesempatan (minta dipanjangkan umurnya) untuk membalas sakit hatinya terhadap Adam. Dia beropini bahwa dirinya terusir dari nirwana lantaran Adam. Maka Allah SWT. mengabulkan ajakan Iblis itu sebagaimana difirmankan-Nya dalam surat Al-Hijr ayat 36-40 sebagai berikut:


قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ . إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ . قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ .

Artinya:
"Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku hingga hari (manusia) dibangkitkan," Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sebetulnya kau termasuk orang-orang yang diberi tangguh, hingga hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh lantaran Engkau telah tetapkan bahwa saya sesat, pasti saya akan menimbulkan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti saya akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."

Adapun sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam bukanlah sebagaimana sujudnya orang salat, tetapi sebagai bentuk ketaatan untuk memuliakan atau menghormati Nabi Adam.

Firman Allah SWT.:


إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya:
"(Ingatlah) saat Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan membuat insan dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kau tersungkur dengan bersujud kepadanya"." (Q.S. Shaad:71-72)

Nabi Adam Sebagai Khalifah di Bumi

Adapun Adam sebagai khalifah di muka bumi, disebutkan dalam Al-Qur'an firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
"Ingatlah saat Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menimbulkan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menimbulkan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui"." (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Ketika Allah SWT. memberitahukan kepada para malaikat-Nya bahwa Dia akan menjadi Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi, maka para malaikat itu bertanya, "Mengapa Adam a.s yang akan diangkat menjadi khalifah di muka bumi, padahal ia dan keturunannya kelak akan berbuat kerusakan dan menumpahkan dari di bumi.

Para malaikat menganggap bahwa diri mereka patut memangku jabatan itu lantaran mereka selalu bertasbih, memuji, dan menyucikan Allah SWT."

Allah SWT. tidak membenarkan anggapan mereka dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat itu. Apa yang akan dilakukan Allah SWT. ialah menurut pengetahuan dan hikmah-Nya yang Maha Tinggi walaupun tak sanggup diketahui oleh para malaikat, termasuk pengangkat Adam a.s. menimbulkan khalifah di bumi.

Yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam di bumi ialah kedudukannya sebagai khalifah atau wakil Allah SWT. di bumi ini untuk melakukan perintah-perintah-Nya dan memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya.

Dari pengertian ini, lahir lah ungkapan "manusia ialah Khalifatullah di bumi." Pengertian ini dikuatkan oleh firman Allah :

....يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ 

Artinya:
"Hai Daud, sebetulnya Kami menimbulkan kau khalifah (penguasa) di muka bumi,"


Sebagaimana kita ketahui bahwa Daud a.s. disamping menjadi nabi, Daud juga menjadi raja bagi kaumnya. Ayat ini merupakan dalil perihal wajibnya kaum muslimin untuk menentukan dan mengangkat pimpinan tertinggi sebagai tokoh pemersatu bagi seluruh kaum muslimin yang sanggup memimpin umat untuk melakukan hukum-hukum Allah di bumi ini.

Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh tokoh pemimpin yang dimaksudkan itu, antara lain ialah adil serta berpengetahuan yang memungkinkannya untuk bertindak sebagai hakim dan mujtahid, tidak mempunyai cacat jasmani, serta berpengalaman cukup dalam menjalankan hukum-hukum Allah SWT.

Adam Beristrikan Hawa

Karena Adam merasa kesepian, Allah membuat seorang insan (wanita) untuk menimbulkan taman Adam, yaitu Hawa. Setelah Hawa dijadikan sebagai istri Adam, Allah memerintahkan supaya Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga, sebagaimana firman-Nya:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya:
"Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kau dan isterimu nirwana ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kau sukai, dan janganlah kau dekati pohon ini, yang mengakibatkan kau termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-Baqarah: 35)

Di daerah itu (surga), Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memakan masakan apa saja yang disukainya, kecuali mendekati dan memakan sebuah pohon kayu (pohon khuldi). Jika Adam dan Hawa melanggar larangan itu, mereka akan menjadi orang-orang yang aniaya.

Setan yang mendendam terhadap Adam berdaya upaya untuk menarik hati Adam. Ia berkata, "Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian tidak sanggup menjadi malaikat dan supaya kalian tidak betah tinggal di dalam surga." Untuk mengukuhkan tipu dayanya, setan bersumpah atas nama Allah sehingga tergelincirlah Adam dan Hawa terbujuk tipu dayanya.

Maka terbukalah bagi keduanya aib yang tersembunyi setelah menyadari kesalahannya, Adam dan Hawa pun menangis memohon ampunana, "Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri kami. Jika engkau tidak mengampuni dan menawarkan rahmat kepada kami, pasti masuklah kami ke dalam golongan orang-orang yang merugi."

Allah mengampuni keduanya dengan menawarkan beberapa doa (petunjuk) kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha peserta tobat dan penyayang. Dan sesuai dengan rencana Allah untuk menimbulkan Adam sebagai khalifah di muka bumi, maka keduanya pun diturunkan ke bumi dengan berlainan daerah dan jaraknya pun sangat jauh.

Merekapun saling mencari, kemudian bertemu setelah usang sekali berpisah, yaitu di Padang Arafah. Sampai sekarang, para jamaah haji diwajibkan untuk wuquf (berhenti) di daerah tersebut sebagai salah satu rukun haji.

Cerita Anak Adam, Qabil, dan Habil

Hawa melahirkan sebanyak dua puluh satu kali dan setiap kali melahirkan anaknya selalu kembar, yang terdiri atas seorang anak pria dan seorang anak perempuan, kecuali anak yang terakhir yang kemudian menjadi Nabi Syits.

Adapun anak nabi Adam yang tertua berjulukan Qabil dan saudara perempuannya Iklima. Yang kedua berjulukan Habil dan saudara perempuannya berjulukan Labuda.

Qabil mempunyai bentuk badan, wajah dan kulit yang anggun demikian pula saudara perempuannya Iklima. Sedangkan Habil dan Labuda berwajah buruk. Qabil dijodohkan dengan saudara kembarnya Habil, sedangkan Habil dijodohkan dengan saudara kembarnya Qabil. Akan tetapi, Qabil tidak mau mendapatkan perjodohan itu, dan memaksa untuk menikah dengan Iklima.

Untuk tetapkan kasus jodoh itu, Nabi Adam memerintahkan kedua anaknya berkurban untuk Allah. Siapa yang diterima kurbannya oleh Allah, dialah yang berhak menikahi Iklima.

Qabil berkurban dengan tanamannya lantaran ia seorang peladang, sedangkan Habil berkurban dengan kambingnya lantaran ia ialah seorang peternak.

Dari kedua kurban itu, yang diterima oleh Allah ialah kurbannya Habil. Setelah mengetahui kurbannya tidak diterima, Qabil berusaha untuk meniadakan adiknya. Ia mendatangi Habil yang sedang menggembala kambing di lereng gunung, kemudian meniadakannya.

ini diterangkan dalam Al-Qur'an:

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:
"Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap gampang membnh saudaranya, lantaran itu dibnhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi."

Setelah Qabil meniadakan Habil, ia merasa kebingungan untuk menguburkan mayit adiknya itu. Ketika itu Allah menunjukkan dua ekor burung gagak berkeliaran dan seekor di antaranya mati terbnh.

Gagak yang masih hidup itu menggali tanah kemudian menguburkan bangkai kawannya itu kemudian menimbunnya dengan tanah. Demikianlah, riwayat Qabil hingga sanggup menguburkan mayit saudaranya yang ditiadakan itu.

Menurut riwayat yang mashur, Nabi Adam mula-mula diturunkan di tanah Hidustan, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Keduanya bertemu kembali di Muzdalifah.

Adam meninggal di tanah Hindustan dalam usia 1000 tahun dan dikuburkan di sana. Satu tahun kemudian, wafatlah Hawa di Jeddah dan dikuburkan pula di sana.

Menurut hadis-hadis yang sahih, Nabi Adam dijadikan pada hari jumat dan diwafatkan pada hari jumat pula, mirip diturunkannya dia ke bumi. Beliau bertobat kepada Allah SWT. atas dosanya memakan buah khuldi itu pada hari jumat.

Nabi Adam a.s. Pecinta Ilmu Pengetahuan

Bila seorang akan menjadi pemimpin (khalifah), tentu saja ia harus mempunyai pengetahuan yang banyak lantaran pengetahuan inilah yang merupakan modal dasar untuk berbuat sesuatu untuk kemaslahatan yang dipimpinnya.

Demikian pula, Nabi Adam diberikan oleh Allah SWT. beberapa pengetahuan dan petunjuk hingga ia andal dalam banyak sekali aspek ilmu pengetahuan.

Tetapi ingatlah! sepandai-pandainya seseorang, tetapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu tentu ada batasnya. Apabila dibandingkan dengan ilmu Allah, hal ini diibaratkan setetes air yang dibandingkan dengan laut, artinya ilmu Allah itu tidak terbatas dan ilmu insan sangat terbatas.

Firman Allah SWT.:

 وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:
"Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kau (manusia), kecuali sangat sedikit." (Q.S. Al-Isra: 85)

Pada ayat ini, Allah SWT. menegaskan bahwa ilmu Allah itu maha luas dan tidak sanggup dikirakan. Ilmu ini mencakup segala macam ilmu, baik ilmu perihal alam yang nyata, maupun ilmu perihal alam yang tidak nyata, baik sanggup dicapai oleh pancaindra maupun yang tidak dicapai oleh pancaindera.

Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan-Nya-lah sebagaimana ilmu itu kepada manusia, tetapi hanya sebagian kecil saja, dan sangat sedikit bila dibandingkan dengan kadar ilmu Allah yang amat luas, mirip yang telah dijelaskan di atas.

Demikian pula Adam a.s. pun diberi pengetahuan sebagai bekal untuk menjadi khalifah di bumi ini dengan cara mengetahui nama-nama segala benda yang ada di sekitarnya, namun ilmu itu sangat terbatas. Apabila seorang merasa dirinya lebih pintar dan lebih mengetahui segalanya, berarti dia sombong dan termasuk teman setan. Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan mengutuknya.

Pelajaran dan Hikmah yang Terkandung dari Kisah Nabi Adam a.s.

  1. Semua insan berasal dari Nabi Adam a.s bukan dari monyet yang selama ini banyak dikatakan.
  2. Dosa Nabi Adam a.s. lantaran makan buah khuldi telah diampuni oleh Allah SWT. lantaran dia telah meminta ampun kepada Allah SWT.
  3. Iblis dan setan ialah nama sifat, sedangkan wujudnya sanggup berupa jin atau manusia.
  4. Ilmu yang dimiliki insan sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT. tidak terbatas dan mencakup segalanya.
  5. Ilmu diberikan kepada insan sebagai bekal hidupnya didunia.
  6. Setan meminta dipanjangkan umurnya kepada Allah untuk menipu dan memperdaya manusia. Hanya orang-orang kfr saja yang akan tertipu olehnya, sedangkan orang mukmin dan takwa mustahil tertipu oleh nya.

Demikian artikel mengenai kisah Nabi Adam dan Siti Hawa ini banyak pelajaran dan pesan tersirat yang sanggup kita ambil dalam dongeng tersebut. Semoga artikel ini sanggup menambah wawasan anda.
Sebelum membuat Nabi Adam, Allah SWT. terlebih dahulu telah menimbulkan dua makhluk yang berakal, yaitu:
  1. Makhluk yang berupa malaikat.
  2. Makhluk yang berupa Banuljan/Iblis.

Adapun asal mula insiden kedua makhluk itu adalah:
  1. Malaikat dijadikan dari Nur (cahaya) suci yang berupa roh dan akal, namun tidak mempunyai nafsu. Oleh lantaran itu, malaikat tidak makan, minum, tidak beristri dan hidupnya semata-mata hanyalah melakukan perintah Allah SWT., yaitu ibadah.
  2. Banuljan dijadikan dari api, berbentuk sebagai manusia. Ia membutuhkan makanan, minuman dan beristri dan juga mempunyai keturunan yang banyak sekali.

Adapun Adam diyakini umat Islam sebagai salah satu dari para rasul Allah. Dalam Ensiklopedia Islam Indonesia susunan Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1992) dikatakan bahwa umat Yhdi, Krstn, dan sebagian umat Islam memandang Adam sebagai insan pertama yang diciptakan Tuhan di permukaan bumi ini. Ia digelari sebagai bapak insan (abu al-basyar).

 terlebih dahulu telah menimbulkan dua makhluk yang berakal √ Kisah Lengkap Nabi Adam A.S dan Siti Hawa

Menurut pendapat itu, setelah Allah membentuknya dari tanah dan kemudian meniupkan nafas kehidupan kepadanya maka jadilah ia sebagai insan pertama.

Firman Allah SWT.:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

Artinya:
"Dialah Yang membuat kau dari tanah, setelah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kau masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)." (Q.S. Al-an'am: 2)


Sesudah Nabi Adam terwujud, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam. Semua malaikat bersujud, kecuali iblis yang merasa takabur, sombong, dan merasa lebih mulia daripadanya, lantaran iblis merasa bahwa dirinya dijadikan dari api, sedangkan Nabi Adam dijadikan dari tanah. Oleh lantaran itu iblis termasuk golongan kfr dan Allah AWT. mengusir Iblis dari surga.

Setelah terusir dari nirwana dan menerima kutukan dari Allah SWT., Iblis pun memohon kepada Allah supaya diberi kesempatan (minta dipanjangkan umurnya) untuk membalas sakit hatinya terhadap Adam. Dia beropini bahwa dirinya terusir dari nirwana lantaran Adam. Maka Allah SWT. mengabulkan ajakan Iblis itu sebagaimana difirmankan-Nya dalam surat Al-Hijr ayat 36-40 sebagai berikut:


قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ . إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ . قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ .

Artinya:
"Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku hingga hari (manusia) dibangkitkan," Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sebetulnya kau termasuk orang-orang yang diberi tangguh, hingga hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh lantaran Engkau telah tetapkan bahwa saya sesat, pasti saya akan menimbulkan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti saya akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."

Adapun sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam bukanlah sebagaimana sujudnya orang salat, tetapi sebagai bentuk ketaatan untuk memuliakan atau menghormati Nabi Adam.

Firman Allah SWT.:


إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya:
"(Ingatlah) saat Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan membuat insan dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kau tersungkur dengan bersujud kepadanya"." (Q.S. Shaad:71-72)

Nabi Adam Sebagai Khalifah di Bumi

Adapun Adam sebagai khalifah di muka bumi, disebutkan dalam Al-Qur'an firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
"Ingatlah saat Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menimbulkan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menimbulkan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui"." (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Ketika Allah SWT. memberitahukan kepada para malaikat-Nya bahwa Dia akan menjadi Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi, maka para malaikat itu bertanya, "Mengapa Adam a.s yang akan diangkat menjadi khalifah di muka bumi, padahal ia dan keturunannya kelak akan berbuat kerusakan dan menumpahkan dari di bumi.

Para malaikat menganggap bahwa diri mereka patut memangku jabatan itu lantaran mereka selalu bertasbih, memuji, dan menyucikan Allah SWT."

Allah SWT. tidak membenarkan anggapan mereka dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat itu. Apa yang akan dilakukan Allah SWT. ialah menurut pengetahuan dan hikmah-Nya yang Maha Tinggi walaupun tak sanggup diketahui oleh para malaikat, termasuk pengangkat Adam a.s. menimbulkan khalifah di bumi.

Yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam di bumi ialah kedudukannya sebagai khalifah atau wakil Allah SWT. di bumi ini untuk melakukan perintah-perintah-Nya dan memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya.

Dari pengertian ini, lahir lah ungkapan "manusia ialah Khalifatullah di bumi." Pengertian ini dikuatkan oleh firman Allah :

....يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ 

Artinya:
"Hai Daud, sebetulnya Kami menimbulkan kau khalifah (penguasa) di muka bumi,"


Sebagaimana kita ketahui bahwa Daud a.s. disamping menjadi nabi, Daud juga menjadi raja bagi kaumnya. Ayat ini merupakan dalil perihal wajibnya kaum muslimin untuk menentukan dan mengangkat pimpinan tertinggi sebagai tokoh pemersatu bagi seluruh kaum muslimin yang sanggup memimpin umat untuk melakukan hukum-hukum Allah di bumi ini.

Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh tokoh pemimpin yang dimaksudkan itu, antara lain ialah adil serta berpengetahuan yang memungkinkannya untuk bertindak sebagai hakim dan mujtahid, tidak mempunyai cacat jasmani, serta berpengalaman cukup dalam menjalankan hukum-hukum Allah SWT.

Adam Beristrikan Hawa

Karena Adam merasa kesepian, Allah membuat seorang insan (wanita) untuk menimbulkan taman Adam, yaitu Hawa. Setelah Hawa dijadikan sebagai istri Adam, Allah memerintahkan supaya Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga, sebagaimana firman-Nya:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya:
"Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kau dan isterimu nirwana ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kau sukai, dan janganlah kau dekati pohon ini, yang mengakibatkan kau termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-Baqarah: 35)

Di daerah itu (surga), Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memakan masakan apa saja yang disukainya, kecuali mendekati dan memakan sebuah pohon kayu (pohon khuldi). Jika Adam dan Hawa melanggar larangan itu, mereka akan menjadi orang-orang yang aniaya.

Setan yang mendendam terhadap Adam berdaya upaya untuk menarik hati Adam. Ia berkata, "Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian tidak sanggup menjadi malaikat dan supaya kalian tidak betah tinggal di dalam surga." Untuk mengukuhkan tipu dayanya, setan bersumpah atas nama Allah sehingga tergelincirlah Adam dan Hawa terbujuk tipu dayanya.

Maka terbukalah bagi keduanya aib yang tersembunyi setelah menyadari kesalahannya, Adam dan Hawa pun menangis memohon ampunana, "Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri kami. Jika engkau tidak mengampuni dan menawarkan rahmat kepada kami, pasti masuklah kami ke dalam golongan orang-orang yang merugi."

Allah mengampuni keduanya dengan menawarkan beberapa doa (petunjuk) kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha peserta tobat dan penyayang. Dan sesuai dengan rencana Allah untuk menimbulkan Adam sebagai khalifah di muka bumi, maka keduanya pun diturunkan ke bumi dengan berlainan daerah dan jaraknya pun sangat jauh.

Merekapun saling mencari, kemudian bertemu setelah usang sekali berpisah, yaitu di Padang Arafah. Sampai sekarang, para jamaah haji diwajibkan untuk wuquf (berhenti) di daerah tersebut sebagai salah satu rukun haji.

Cerita Anak Adam, Qabil, dan Habil

Hawa melahirkan sebanyak dua puluh satu kali dan setiap kali melahirkan anaknya selalu kembar, yang terdiri atas seorang anak pria dan seorang anak perempuan, kecuali anak yang terakhir yang kemudian menjadi Nabi Syits.

Adapun anak nabi Adam yang tertua berjulukan Qabil dan saudara perempuannya Iklima. Yang kedua berjulukan Habil dan saudara perempuannya berjulukan Labuda.

Qabil mempunyai bentuk badan, wajah dan kulit yang anggun demikian pula saudara perempuannya Iklima. Sedangkan Habil dan Labuda berwajah buruk. Qabil dijodohkan dengan saudara kembarnya Habil, sedangkan Habil dijodohkan dengan saudara kembarnya Qabil. Akan tetapi, Qabil tidak mau mendapatkan perjodohan itu, dan memaksa untuk menikah dengan Iklima.

Untuk tetapkan kasus jodoh itu, Nabi Adam memerintahkan kedua anaknya berkurban untuk Allah. Siapa yang diterima kurbannya oleh Allah, dialah yang berhak menikahi Iklima.

Qabil berkurban dengan tanamannya lantaran ia seorang peladang, sedangkan Habil berkurban dengan kambingnya lantaran ia ialah seorang peternak.

Dari kedua kurban itu, yang diterima oleh Allah ialah kurbannya Habil. Setelah mengetahui kurbannya tidak diterima, Qabil berusaha untuk meniadakan adiknya. Ia mendatangi Habil yang sedang menggembala kambing di lereng gunung, kemudian meniadakannya.

ini diterangkan dalam Al-Qur'an:

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:
"Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap gampang membnh saudaranya, lantaran itu dibnhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi."

Setelah Qabil meniadakan Habil, ia merasa kebingungan untuk menguburkan mayit adiknya itu. Ketika itu Allah menunjukkan dua ekor burung gagak berkeliaran dan seekor di antaranya mati terbnh.

Gagak yang masih hidup itu menggali tanah kemudian menguburkan bangkai kawannya itu kemudian menimbunnya dengan tanah. Demikianlah, riwayat Qabil hingga sanggup menguburkan mayit saudaranya yang ditiadakan itu.

Menurut riwayat yang mashur, Nabi Adam mula-mula diturunkan di tanah Hidustan, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah. Keduanya bertemu kembali di Muzdalifah.

Adam meninggal di tanah Hindustan dalam usia 1000 tahun dan dikuburkan di sana. Satu tahun kemudian, wafatlah Hawa di Jeddah dan dikuburkan pula di sana.

Menurut hadis-hadis yang sahih, Nabi Adam dijadikan pada hari jumat dan diwafatkan pada hari jumat pula, mirip diturunkannya dia ke bumi. Beliau bertobat kepada Allah SWT. atas dosanya memakan buah khuldi itu pada hari jumat.

Nabi Adam a.s. Pecinta Ilmu Pengetahuan

Bila seorang akan menjadi pemimpin (khalifah), tentu saja ia harus mempunyai pengetahuan yang banyak lantaran pengetahuan inilah yang merupakan modal dasar untuk berbuat sesuatu untuk kemaslahatan yang dipimpinnya.

Demikian pula, Nabi Adam diberikan oleh Allah SWT. beberapa pengetahuan dan petunjuk hingga ia andal dalam banyak sekali aspek ilmu pengetahuan.

Tetapi ingatlah! sepandai-pandainya seseorang, tetapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu tentu ada batasnya. Apabila dibandingkan dengan ilmu Allah, hal ini diibaratkan setetes air yang dibandingkan dengan laut, artinya ilmu Allah itu tidak terbatas dan ilmu insan sangat terbatas.

Firman Allah SWT.:

 وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya:
"Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kau (manusia), kecuali sangat sedikit." (Q.S. Al-Isra: 85)

Pada ayat ini, Allah SWT. menegaskan bahwa ilmu Allah itu maha luas dan tidak sanggup dikirakan. Ilmu ini mencakup segala macam ilmu, baik ilmu perihal alam yang nyata, maupun ilmu perihal alam yang tidak nyata, baik sanggup dicapai oleh pancaindra maupun yang tidak dicapai oleh pancaindera.

Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan-Nya-lah sebagaimana ilmu itu kepada manusia, tetapi hanya sebagian kecil saja, dan sangat sedikit bila dibandingkan dengan kadar ilmu Allah yang amat luas, mirip yang telah dijelaskan di atas.

Demikian pula Adam a.s. pun diberi pengetahuan sebagai bekal untuk menjadi khalifah di bumi ini dengan cara mengetahui nama-nama segala benda yang ada di sekitarnya, namun ilmu itu sangat terbatas. Apabila seorang merasa dirinya lebih pintar dan lebih mengetahui segalanya, berarti dia sombong dan termasuk teman setan. Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan mengutuknya.

Pelajaran dan Hikmah yang Terkandung dari Kisah Nabi Adam a.s.

  1. Semua insan berasal dari Nabi Adam a.s bukan dari monyet yang selama ini banyak dikatakan.
  2. Dosa Nabi Adam a.s. lantaran makan buah khuldi telah diampuni oleh Allah SWT. lantaran dia telah meminta ampun kepada Allah SWT.
  3. Iblis dan setan ialah nama sifat, sedangkan wujudnya sanggup berupa jin atau manusia.
  4. Ilmu yang dimiliki insan sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT. tidak terbatas dan mencakup segalanya.
  5. Ilmu diberikan kepada insan sebagai bekal hidupnya didunia.
  6. Setan meminta dipanjangkan umurnya kepada Allah untuk menipu dan memperdaya manusia. Hanya orang-orang kfr saja yang akan tertipu olehnya, sedangkan orang mukmin dan takwa mustahil tertipu oleh nya.

Demikian artikel mengenai kisah Nabi Adam dan Siti Hawa ini banyak pelajaran dan pesan tersirat yang sanggup kita ambil dalam dongeng tersebut. Semoga artikel ini sanggup menambah wawasan anda.