Lihat Detail
√ Jenis Dan Peranan Iptek Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Apa itu lingkungan hidup ? Ok, sebelum kita mengetahui pemanfaatan iptek dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, maka harus diketahui terlebih dahulu arti dari lingkungan hidup.
Ada beberapa definisi yang berkaitan dekat dengan lingkungan hidup, yaitu.
(1). Daerah di mana suatu makhluk hidup berada.
(2). keadaan/kondisi yang melingkupi suatu makhluk hidup.
(3). Keseluruhan keadaan yang mencakup suatu makhluk hidup atau sekumpulan makhluk hidup, terutama:
(a). Kombinasi dari aneka macam kondisi fisik di luar makhluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan makhluk hidup untuk bertahan hidup.
(b). Gabungan dari kondisi sosial dan budaya yang besar lengan berkuasa pada keadaan suatu individu makhluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas makhluk hidup.
Namun dari aneka macam definisi yang disebutkan diatas definisi lingkungan hidup, lingkungan hidup dan lingkungan hidup insan acapkali dipakai silih berganti dalam pengertian yang sama.
Sehingga diambilah kesimpulan bahwa arti lingkungan hidup yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk insan dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan da kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.
Ada beberapa definisi yang berkaitan dekat dengan lingkungan hidup, yaitu.
(1). Daerah di mana suatu makhluk hidup berada.
(2). keadaan/kondisi yang melingkupi suatu makhluk hidup.
(3). Keseluruhan keadaan yang mencakup suatu makhluk hidup atau sekumpulan makhluk hidup, terutama:
(a). Kombinasi dari aneka macam kondisi fisik di luar makhluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan makhluk hidup untuk bertahan hidup.
(b). Gabungan dari kondisi sosial dan budaya yang besar lengan berkuasa pada keadaan suatu individu makhluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas makhluk hidup.
Namun dari aneka macam definisi yang disebutkan diatas definisi lingkungan hidup, lingkungan hidup dan lingkungan hidup insan acapkali dipakai silih berganti dalam pengertian yang sama.
Sehingga diambilah kesimpulan bahwa arti lingkungan hidup yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk insan dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan da kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.

1. Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan lingkungan hidup mempunyai definisi yaitu, upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang mencakup aktivitas penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup.
Penjelasan lingkungan hidup secara rinci dan detail. Yang meletakkan dasar dan prinsipnya secara global, menjelaskannya dalam pengarahan pada hal-hal tertentu dan aneka macam klarifikasi yang lebih rinci.
2. Industri dan Pencemaran Lingkungan
Jika kita ingin menyelamatkan lingkungan hidup, maka perlu adanya itikad yang kuat dan kesamaan persepsi dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Memang insan mempunyai kemampuan pembiasaan yang tinggi terhadap lingkungannya, secara hayati ataupun kultural, contohnya insan sanggup memakai air yang terkontaminasi dengan rekayasa teknologi (daur ulang) berupa salinisasi, bahkan produknya sanggup menjadi komoditas ekonomi.
Tetapi untuk mendapat mutu lingkungan hidup yang baik, semoga sanggup dimanfaatkan secara optimal maka insan diharuskan untuk bisa memperkecil resiko kerusakan lingkungan.
Dengan demikian, pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan semoga insan tetap "survival". Hakekatnya insan telah "survival" semenjak awal peradaban hingga kini.
Tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat insan akhir kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta revolusi sibernitika, menghantarkan insan untuk tetap bisa menggereskan sejarah kehidupan, akhir korelasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan hidupnya.
Tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat insan akhir kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta revolusi sibernitika, menghantarkan insan untuk tetap bisa menggereskan sejarah kehidupan, akhir korelasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan hidupnya.
Karena kalau tidak bisa menghadapi aneka macam tantangan yang muncul dari permasalahan lingkungan, maka kemajuan yang telah dicapai terutama berkat ke-magnitude-an teknologi akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
3. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan
Mengisyaratkan ihwal pentingnya penemuan dalam proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan gres sanggup dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa.
Dari aneka macam tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya sanggup ditarik selalu benang merah yang sanggup dipakai sebagai pegangan mengapa insan "survival" yaitu oleh alasannya teknologi.
Teknologi memperlihatkan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia.
Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi akhir imbas "rumah kaca".
Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi akhir imbas "rumah kaca".
Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam "revolusi hijau" bisa meningkatkan hasil pertanian, alasannya adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida.
Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan aneka macam jenis racun yang berbahaya bagi insan dan lingkungannya, bahkan akhir rutinnya dipakai aneka macam jenis pestisida ataupun insektisida bisa memperkuat daya tahan hama tumbuhan contohnya wereng dan kutu loncat.
Teknologi juga memperlihatkan rasa kondusif dan kenyamanan bagi insan akhir bisa menyediakan aneka macam kebutuhan ibarat tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es dan AC), aneka macam jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau anti nyamuk yang mudah untuk disemprotkan, dan sebagainya.
Teknologi juga memperlihatkan rasa kondusif dan kenyamanan bagi insan akhir bisa menyediakan aneka macam kebutuhan ibarat tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es dan AC), aneka macam jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau anti nyamuk yang mudah untuk disemprotkan, dan sebagainya.
Serangkai dengan proses tersebut, ternyata CFC (chlorofluorocarbon) dan tetrafluoroethylene polymer yang dipakai justru mempunyai bantuan bagi menipisnya lapisan ozone di stratosfer.
4. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan
Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh aktivitas insan atau proses alam.
Sehingga kualitas lingkungn turun hingga ke tingkat tertentu yang mengakibatkan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Sehingga kualitas lingkungn turun hingga ke tingkat tertentu yang mengakibatkan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu sumber perubahan oleh aktivitas insan atau proses alam, bentuk perubahan yaitu berubahnya konsentrasi suatu materi (hidup/mati) pada lingkungan, dan merosotnya fungsi lingkungan dalam menunjang kehidupan.
5. Menyikapi Pencemaran Lingkungan
Konperensi PBB ihwal lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972, telah memutuskan tanggal 5 Juni setiap tahunnya untuk diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Kesepakatan ini berlangsung didorong oleh kerisauan akhir tingkat kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.
Kesepakatan ini berlangsung didorong oleh kerisauan akhir tingkat kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.
Di Indonesia perhatian ihwal lingkungan hidup telah dilakukan semenjak tahun 1960-an. Tonggak pertama sejarah ihwal permasalahan lingkungan hidup dipancangkan melalui seminar ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 15 hingga 18 Mei 1972.
Hasil yang sanggup diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam hal ini, perhatian terhadap perubahan iklim, peristiwa geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup sanggup dipakai sebagai petunjuk munculnya permasalahan lingkungan hidup.
Pada dikala itu, pencemaran oleh industri dan limbah rumah tangga belumlah dipermasalahkan secara khusus kecuali di kota-kota besar.
Saat ini, duduk masalah lingkungan hidup tidak hanya berafiliasi dengan gejala-gejala perubahan alam yang sifatnya evolusioner, tetapi juga menyangkut pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah industri dan keluarga yang menghasilkan aneka macam rupa barang dan jasa sebagai pendorong kemajuan pembangunan diberbagai bidang.
Pada pelita V, aneka macam upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat hukuman dan memperluas jangkauan peraturan-peraturan ihwal pencemaran lingkungan hidup.
Dengan lahirnya keppres 77/1994 ihwal Organisasu Bapedal sebagai teladan bagi pembentukan Bapeda/Wilayah di tingkat propinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Berdasarkan taktik Penanganan Limbah tahun 1933/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan final buangan sudah harus dimulai papa tahap pemilihan materi baku, proses produksi, hingga pengolahan final limbah buangan.
Langkah yang ditempuh untuk mendukung akal ini, ditempuh dengan pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah Industri Bahan Berbahaya dan Beracun (PPLI-B3), di Cileungsi Jawa Barat, yang pertama di Indonesia.
Pendirian unit pengolahan limbah ini juga diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1994 ihwal Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Disamping itu, untuk membuatkan tanggung jawab bersama dalam menanggulangi duduk masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan Program Kali Bersih (PROKASIH), yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di 13 propinsi.
Upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup ini, ternyata juga menghasilkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha gres di aneka macam kota dan sektor pembangunan.
Sekarang sanggup terlihat terperinci bagi kita bahwa dalam menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan baik akhir teknologi, perubahan lingkungan, industri dan upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi
Diperlukan itikad yang luhur dalam tindakan dan sikap setiap orang yang peduli akan kelestarian lingkungan hidupnya, walaupun telah ditetapkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, pp No. 19 tahun 1994 dan Keppres No. 7 tahun 1994 yang berafiliasi dengan pengelolaan lingkungan.
Jika tidak ada kesamaan persepsi dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka aneka macam upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara damai dan aman, alasannya kekhawatiran akan tragedi dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Hasil yang sanggup diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam hal ini, perhatian terhadap perubahan iklim, peristiwa geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup sanggup dipakai sebagai petunjuk munculnya permasalahan lingkungan hidup.
Pada dikala itu, pencemaran oleh industri dan limbah rumah tangga belumlah dipermasalahkan secara khusus kecuali di kota-kota besar.
Saat ini, duduk masalah lingkungan hidup tidak hanya berafiliasi dengan gejala-gejala perubahan alam yang sifatnya evolusioner, tetapi juga menyangkut pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah industri dan keluarga yang menghasilkan aneka macam rupa barang dan jasa sebagai pendorong kemajuan pembangunan diberbagai bidang.
Pada pelita V, aneka macam upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat hukuman dan memperluas jangkauan peraturan-peraturan ihwal pencemaran lingkungan hidup.
Dengan lahirnya keppres 77/1994 ihwal Organisasu Bapedal sebagai teladan bagi pembentukan Bapeda/Wilayah di tingkat propinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Berdasarkan taktik Penanganan Limbah tahun 1933/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan final buangan sudah harus dimulai papa tahap pemilihan materi baku, proses produksi, hingga pengolahan final limbah buangan.
Langkah yang ditempuh untuk mendukung akal ini, ditempuh dengan pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah Industri Bahan Berbahaya dan Beracun (PPLI-B3), di Cileungsi Jawa Barat, yang pertama di Indonesia.
Pendirian unit pengolahan limbah ini juga diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1994 ihwal Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Disamping itu, untuk membuatkan tanggung jawab bersama dalam menanggulangi duduk masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan Program Kali Bersih (PROKASIH), yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di 13 propinsi.
Upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup ini, ternyata juga menghasilkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha gres di aneka macam kota dan sektor pembangunan.
Sekarang sanggup terlihat terperinci bagi kita bahwa dalam menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan baik akhir teknologi, perubahan lingkungan, industri dan upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi
Diperlukan itikad yang luhur dalam tindakan dan sikap setiap orang yang peduli akan kelestarian lingkungan hidupnya, walaupun telah ditetapkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, pp No. 19 tahun 1994 dan Keppres No. 7 tahun 1994 yang berafiliasi dengan pengelolaan lingkungan.
Jika tidak ada kesamaan persepsi dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka aneka macam upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara damai dan aman, alasannya kekhawatiran akan tragedi dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Apa itu lingkungan hidup ? Ok, sebelum kita mengetahui pemanfaatan iptek dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, maka harus diketahui terlebih dahulu arti dari lingkungan hidup.
Ada beberapa definisi yang berkaitan dekat dengan lingkungan hidup, yaitu.
(1). Daerah di mana suatu makhluk hidup berada.
(2). keadaan/kondisi yang melingkupi suatu makhluk hidup.
(3). Keseluruhan keadaan yang mencakup suatu makhluk hidup atau sekumpulan makhluk hidup, terutama:
(a). Kombinasi dari aneka macam kondisi fisik di luar makhluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan makhluk hidup untuk bertahan hidup.
(b). Gabungan dari kondisi sosial dan budaya yang besar lengan berkuasa pada keadaan suatu individu makhluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas makhluk hidup.
Namun dari aneka macam definisi yang disebutkan diatas definisi lingkungan hidup, lingkungan hidup dan lingkungan hidup insan acapkali dipakai silih berganti dalam pengertian yang sama.
Sehingga diambilah kesimpulan bahwa arti lingkungan hidup yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk insan dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan da kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.
Ada beberapa definisi yang berkaitan dekat dengan lingkungan hidup, yaitu.
(1). Daerah di mana suatu makhluk hidup berada.
(2). keadaan/kondisi yang melingkupi suatu makhluk hidup.
(3). Keseluruhan keadaan yang mencakup suatu makhluk hidup atau sekumpulan makhluk hidup, terutama:
(a). Kombinasi dari aneka macam kondisi fisik di luar makhluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan makhluk hidup untuk bertahan hidup.
(b). Gabungan dari kondisi sosial dan budaya yang besar lengan berkuasa pada keadaan suatu individu makhluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas makhluk hidup.
Namun dari aneka macam definisi yang disebutkan diatas definisi lingkungan hidup, lingkungan hidup dan lingkungan hidup insan acapkali dipakai silih berganti dalam pengertian yang sama.
Sehingga diambilah kesimpulan bahwa arti lingkungan hidup yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk insan dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan da kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.

1. Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan lingkungan hidup mempunyai definisi yaitu, upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang mencakup aktivitas penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup.
Penjelasan lingkungan hidup secara rinci dan detail. Yang meletakkan dasar dan prinsipnya secara global, menjelaskannya dalam pengarahan pada hal-hal tertentu dan aneka macam klarifikasi yang lebih rinci.
2. Industri dan Pencemaran Lingkungan
Jika kita ingin menyelamatkan lingkungan hidup, maka perlu adanya itikad yang kuat dan kesamaan persepsi dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Memang insan mempunyai kemampuan pembiasaan yang tinggi terhadap lingkungannya, secara hayati ataupun kultural, contohnya insan sanggup memakai air yang terkontaminasi dengan rekayasa teknologi (daur ulang) berupa salinisasi, bahkan produknya sanggup menjadi komoditas ekonomi.
Tetapi untuk mendapat mutu lingkungan hidup yang baik, semoga sanggup dimanfaatkan secara optimal maka insan diharuskan untuk bisa memperkecil resiko kerusakan lingkungan.
Dengan demikian, pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan semoga insan tetap "survival". Hakekatnya insan telah "survival" semenjak awal peradaban hingga kini.
Tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat insan akhir kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta revolusi sibernitika, menghantarkan insan untuk tetap bisa menggereskan sejarah kehidupan, akhir korelasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan hidupnya.
Tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat insan akhir kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta revolusi sibernitika, menghantarkan insan untuk tetap bisa menggereskan sejarah kehidupan, akhir korelasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan hidupnya.
Karena kalau tidak bisa menghadapi aneka macam tantangan yang muncul dari permasalahan lingkungan, maka kemajuan yang telah dicapai terutama berkat ke-magnitude-an teknologi akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
3. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan
Mengisyaratkan ihwal pentingnya penemuan dalam proses pembangunan ekonomi di suatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan gres sanggup dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa.
Dari aneka macam tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya sanggup ditarik selalu benang merah yang sanggup dipakai sebagai pegangan mengapa insan "survival" yaitu oleh alasannya teknologi.
Teknologi memperlihatkan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia.
Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi akhir imbas "rumah kaca".
Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi akhir imbas "rumah kaca".
Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam "revolusi hijau" bisa meningkatkan hasil pertanian, alasannya adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida.
Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan aneka macam jenis racun yang berbahaya bagi insan dan lingkungannya, bahkan akhir rutinnya dipakai aneka macam jenis pestisida ataupun insektisida bisa memperkuat daya tahan hama tumbuhan contohnya wereng dan kutu loncat.
Teknologi juga memperlihatkan rasa kondusif dan kenyamanan bagi insan akhir bisa menyediakan aneka macam kebutuhan ibarat tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es dan AC), aneka macam jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau anti nyamuk yang mudah untuk disemprotkan, dan sebagainya.
Teknologi juga memperlihatkan rasa kondusif dan kenyamanan bagi insan akhir bisa menyediakan aneka macam kebutuhan ibarat tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es dan AC), aneka macam jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau anti nyamuk yang mudah untuk disemprotkan, dan sebagainya.
Serangkai dengan proses tersebut, ternyata CFC (chlorofluorocarbon) dan tetrafluoroethylene polymer yang dipakai justru mempunyai bantuan bagi menipisnya lapisan ozone di stratosfer.
4. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan
Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh aktivitas insan atau proses alam.
Sehingga kualitas lingkungn turun hingga ke tingkat tertentu yang mengakibatkan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Sehingga kualitas lingkungn turun hingga ke tingkat tertentu yang mengakibatkan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu sumber perubahan oleh aktivitas insan atau proses alam, bentuk perubahan yaitu berubahnya konsentrasi suatu materi (hidup/mati) pada lingkungan, dan merosotnya fungsi lingkungan dalam menunjang kehidupan.
5. Menyikapi Pencemaran Lingkungan
Konperensi PBB ihwal lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972, telah memutuskan tanggal 5 Juni setiap tahunnya untuk diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Kesepakatan ini berlangsung didorong oleh kerisauan akhir tingkat kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.
Kesepakatan ini berlangsung didorong oleh kerisauan akhir tingkat kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.
Di Indonesia perhatian ihwal lingkungan hidup telah dilakukan semenjak tahun 1960-an. Tonggak pertama sejarah ihwal permasalahan lingkungan hidup dipancangkan melalui seminar ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 15 hingga 18 Mei 1972.
Hasil yang sanggup diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam hal ini, perhatian terhadap perubahan iklim, peristiwa geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup sanggup dipakai sebagai petunjuk munculnya permasalahan lingkungan hidup.
Pada dikala itu, pencemaran oleh industri dan limbah rumah tangga belumlah dipermasalahkan secara khusus kecuali di kota-kota besar.
Saat ini, duduk masalah lingkungan hidup tidak hanya berafiliasi dengan gejala-gejala perubahan alam yang sifatnya evolusioner, tetapi juga menyangkut pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah industri dan keluarga yang menghasilkan aneka macam rupa barang dan jasa sebagai pendorong kemajuan pembangunan diberbagai bidang.
Pada pelita V, aneka macam upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat hukuman dan memperluas jangkauan peraturan-peraturan ihwal pencemaran lingkungan hidup.
Dengan lahirnya keppres 77/1994 ihwal Organisasu Bapedal sebagai teladan bagi pembentukan Bapeda/Wilayah di tingkat propinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Berdasarkan taktik Penanganan Limbah tahun 1933/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan final buangan sudah harus dimulai papa tahap pemilihan materi baku, proses produksi, hingga pengolahan final limbah buangan.
Langkah yang ditempuh untuk mendukung akal ini, ditempuh dengan pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah Industri Bahan Berbahaya dan Beracun (PPLI-B3), di Cileungsi Jawa Barat, yang pertama di Indonesia.
Pendirian unit pengolahan limbah ini juga diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1994 ihwal Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Disamping itu, untuk membuatkan tanggung jawab bersama dalam menanggulangi duduk masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan Program Kali Bersih (PROKASIH), yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di 13 propinsi.
Upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup ini, ternyata juga menghasilkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha gres di aneka macam kota dan sektor pembangunan.
Sekarang sanggup terlihat terperinci bagi kita bahwa dalam menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan baik akhir teknologi, perubahan lingkungan, industri dan upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi
Diperlukan itikad yang luhur dalam tindakan dan sikap setiap orang yang peduli akan kelestarian lingkungan hidupnya, walaupun telah ditetapkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, pp No. 19 tahun 1994 dan Keppres No. 7 tahun 1994 yang berafiliasi dengan pengelolaan lingkungan.
Jika tidak ada kesamaan persepsi dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka aneka macam upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara damai dan aman, alasannya kekhawatiran akan tragedi dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Hasil yang sanggup diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Dalam hal ini, perhatian terhadap perubahan iklim, peristiwa geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup sanggup dipakai sebagai petunjuk munculnya permasalahan lingkungan hidup.
Pada dikala itu, pencemaran oleh industri dan limbah rumah tangga belumlah dipermasalahkan secara khusus kecuali di kota-kota besar.
Saat ini, duduk masalah lingkungan hidup tidak hanya berafiliasi dengan gejala-gejala perubahan alam yang sifatnya evolusioner, tetapi juga menyangkut pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah industri dan keluarga yang menghasilkan aneka macam rupa barang dan jasa sebagai pendorong kemajuan pembangunan diberbagai bidang.
Pada pelita V, aneka macam upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat hukuman dan memperluas jangkauan peraturan-peraturan ihwal pencemaran lingkungan hidup.
Dengan lahirnya keppres 77/1994 ihwal Organisasu Bapedal sebagai teladan bagi pembentukan Bapeda/Wilayah di tingkat propinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 ihwal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Berdasarkan taktik Penanganan Limbah tahun 1933/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan final buangan sudah harus dimulai papa tahap pemilihan materi baku, proses produksi, hingga pengolahan final limbah buangan.
Langkah yang ditempuh untuk mendukung akal ini, ditempuh dengan pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah Industri Bahan Berbahaya dan Beracun (PPLI-B3), di Cileungsi Jawa Barat, yang pertama di Indonesia.
Pendirian unit pengolahan limbah ini juga diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1994 ihwal Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Disamping itu, untuk membuatkan tanggung jawab bersama dalam menanggulangi duduk masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan Program Kali Bersih (PROKASIH), yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di 13 propinsi.
Upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup ini, ternyata juga menghasilkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha gres di aneka macam kota dan sektor pembangunan.
Sekarang sanggup terlihat terperinci bagi kita bahwa dalam menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan baik akhir teknologi, perubahan lingkungan, industri dan upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi
Diperlukan itikad yang luhur dalam tindakan dan sikap setiap orang yang peduli akan kelestarian lingkungan hidupnya, walaupun telah ditetapkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, pp No. 19 tahun 1994 dan Keppres No. 7 tahun 1994 yang berafiliasi dengan pengelolaan lingkungan.
Jika tidak ada kesamaan persepsi dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka aneka macam upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara damai dan aman, alasannya kekhawatiran akan tragedi dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Lihat Detail
√ Cara Memecahkan Duduk Masalah Lingkungan Hidup Dengan Memakai Iptek
Upaya membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro yakni upaya konstruktif untuk mengajak masyarakat peduli dengan lingkungan hidup secara rill.
Menjaga kuantitas hutan yakni pilihan mutlak bagi masyarakat di sekitar yang memanfaatkan hutan untuk hidup dan berharap listrik dari mikrohidro.
Menjaga hutan berarti juga mempertahankan debit air sungai sebagai pembangkit, inilah logika konservasi yang berkembang dari mikrohidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal masyarakat yang jauh dari susukan listrik PLN. Di Indonesia, kurang lebih 70 PLTMH telah berdiri dan dikembangkan.
Istilah Mikrohidro biasanya digunakan untuk pembangkit listrik yang menghasilkan output di bawah 500 KW sementara minihidro untuk output 500 Kwi MW. Lebih besar dari itu biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Dalam skala nasional, Indonesia mempunyai potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air sebab kondisi topografi Indonesia bergunung dan berbukit serta dialiri oleh banyak sungai.
Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam sanggup dibagi atas:
Sikap lingkungan hidup ditentukan oleh macam-macam faktor, berkaitan dengan ini kategori sifat lingkungan hidup atas dasar:
Menjaga kuantitas hutan yakni pilihan mutlak bagi masyarakat di sekitar yang memanfaatkan hutan untuk hidup dan berharap listrik dari mikrohidro.
Menjaga hutan berarti juga mempertahankan debit air sungai sebagai pembangkit, inilah logika konservasi yang berkembang dari mikrohidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal masyarakat yang jauh dari susukan listrik PLN. Di Indonesia, kurang lebih 70 PLTMH telah berdiri dan dikembangkan.
Istilah Mikrohidro biasanya digunakan untuk pembangkit listrik yang menghasilkan output di bawah 500 KW sementara minihidro untuk output 500 Kwi MW. Lebih besar dari itu biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Dalam skala nasional, Indonesia mempunyai potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air sebab kondisi topografi Indonesia bergunung dan berbukit serta dialiri oleh banyak sungai.

Memahami Permasalahan Lingkungan
a. Masalah Kerusakan Lingkungan oleh Limbah Industri
Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara yang menggunakan teknologi dalam industri yang di transfer dari negara-negara maju (cover Industri) untuk membangun ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distrosi tujuan .
Alasan yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam kala globalisasi dalam ekonomi dan kala gosip harus melewati gelombang agrasi dan industrialis.
Gejala memanasnya bola bumi akhir imbas rumah beling (green house effect), akhir menipisnya lapisan ozon, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernya lapisan es di kutub utara dan selatan bumi sanggup dijadikan indikasi terjadinya pencemaran lingkungan sebab penggunaan energi dan banyak sekali materi kimia secara tidak seimbang.
Gejala memanasnya bola bumi akhir imbas rumah beling (green house effect), akhir menipisnya lapisan ozon, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernya lapisan es di kutub utara dan selatan bumi sanggup dijadikan indikasi terjadinya pencemaran lingkungan sebab penggunaan energi dan banyak sekali materi kimia secara tidak seimbang.
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang timbul adalah:
1. Bagaimana bantuan industri dan teknologi yang menyebar terhadap pencemaran lingkungan.
2. Bagaimana pembagian terstruktur mengenai pencemaran lingkungan.
3. Bagaimana menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan hidup.
b. Konsep-konsep untuk Memahami Masalah Lingkungan dan Pencemaran oleh Industri inti dari permasalahan lingkungan hidup
Ilmu perihal hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Lingkungan hidup yakni kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk didalamnya insan dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupannya dan kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.
Berbagai sumber daya alam yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda sanggup digolongkan sebagai berikut:
- Sumber daya alam yang sanggup diperbaharui (renewable natural resourcees).
- Sumber daya alam yang tidak sanggup diperbaharui (non renewable natural resourcees).
Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam sanggup dibagi atas:
- Fisiokimia menyerupai air, udara, tanah, dan sebagainya.
- Biologi menyerupai fauna, flora, habitat, dan sebagainya.
- Sosial ekonomi menyerupai pendapatan, kesehatan, adat istiadat, agama dan lain-lain.
Sikap lingkungan hidup ditentukan oleh macam-macam faktor, berkaitan dengan ini kategori sifat lingkungan hidup atas dasar:
- Jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan hidup tersebut.
- Hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut.
- Kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup.
- Faktor-faktor non materil, menyerupai cahaya dan kebisingan.
c. Industri dan Pencemaran Lingkungan
Pengelolaan lingkungan hidup sanggup diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan semoga insan tetap survival.
d. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan
Teknologi memperlihatkan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri kendaraan beroda empat yang memperkaya peradaban manusia. Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi oleh imbas "rumah kaca".
Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam "revolusi hijau" bisa meningkatkan hasil pertanian, sebab adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk pestisida.
Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan banyak sekali jenis racun yang berbahaya bagi insan dan lingkungannya.
Masuknya teknologi ke Indonesia sudah dimulai semenjak diundangkannya UUPMA (UU No. 1 tahun 1967, yang diperbaharui dengan PP. No. 20 tahun 1994).
Dengan pemberian UU perihal hak paten (Property Right) dan UU Perlindungan Hak Cipta (Intelectual Right), maka banyak perusahaan multinasional dan aneh yang menggunakan dan berbagi teknologi dalam menghasilkan banyak sekali produk industri.
Sebagai negara berkembang yang banyak membutuhkan bagi pembiayaan pembangunan, Indonesia seringkali "dicurigai" melaksanakan eksploitasi sumber alamnya secara besar-besaran sebab pemberian kemajuan teknologi dan besarnya tingkat kebutuhan industri-industri yang berkembang pesat secara kuantitatif dan berskala besar.
Berkaitan dengan hal tersebut, tercatat keadaan lingkungan dibeberapa kota di Indonesia, yaitu:
(1). Terjadinya penurunan kualitas air permukaan disekitar daerah-daerah industri.
(2). Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di demam isu kemarau.
(3). Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah.
(4). Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara menyerupai CO2, NO2r, SO2, dan debu.
(5). Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia semakin menipis, menyerupai minyak bumi dan watu bara.
e. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan
Definisi pencemaran lingkungan berdasarkan UU No. 4 Tahun 1982 yakni masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh acara insan atau proses alam.
Sehingga kualitas lingkungan turun hingga ke tingkat tertentu yang menjadikan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Sehingga kualitas lingkungan turun hingga ke tingkat tertentu yang menjadikan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Pengelompokan pencemaran di bagi menjadi tiga, antara lain:
1. Bahan pencemaran yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, dan budaya.
2. Pengelompokan berdasarkan medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan dan sosial.
3. Pengelompokan berdasarkan sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primer dan sekunder.
f. Menyikapi Pencemaran Lingkungan
Konperensi PBB perihal lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972, telah menetapkan tanggal 5 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia, di Indonesia perhatian perihal lingkungan hidup telah dilakukan semenjak tahun 1960-an.
Tonggak pertama sejarah perihal permasalahan lingkungan hidup di pancangkan melalui seminar perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang di selenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 15 hingga 18 Mei 1972.
Hasil yang diperoleh dari pertemuan itu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Lahirnya Keppres 77/1994 perihal organisasi Bapedal sebagai pola bagi pembentukan Bapeda/wilayah di tingkat provinsi yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat UU No.4 tahun 1982 perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Walaupun telah di terapkan UU tersebut diatas kalau tidak ada kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka banyak sekali upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara hening dan kondusif sebab kekhawatiran akan peristiwa dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Upaya membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro yakni upaya konstruktif untuk mengajak masyarakat peduli dengan lingkungan hidup secara rill.
Menjaga kuantitas hutan yakni pilihan mutlak bagi masyarakat di sekitar yang memanfaatkan hutan untuk hidup dan berharap listrik dari mikrohidro.
Menjaga hutan berarti juga mempertahankan debit air sungai sebagai pembangkit, inilah logika konservasi yang berkembang dari mikrohidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal masyarakat yang jauh dari susukan listrik PLN. Di Indonesia, kurang lebih 70 PLTMH telah berdiri dan dikembangkan.
Istilah Mikrohidro biasanya digunakan untuk pembangkit listrik yang menghasilkan output di bawah 500 KW sementara minihidro untuk output 500 Kwi MW. Lebih besar dari itu biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Dalam skala nasional, Indonesia mempunyai potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air sebab kondisi topografi Indonesia bergunung dan berbukit serta dialiri oleh banyak sungai.
Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam sanggup dibagi atas:
Sikap lingkungan hidup ditentukan oleh macam-macam faktor, berkaitan dengan ini kategori sifat lingkungan hidup atas dasar:
Menjaga kuantitas hutan yakni pilihan mutlak bagi masyarakat di sekitar yang memanfaatkan hutan untuk hidup dan berharap listrik dari mikrohidro.
Menjaga hutan berarti juga mempertahankan debit air sungai sebagai pembangkit, inilah logika konservasi yang berkembang dari mikrohidro.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal masyarakat yang jauh dari susukan listrik PLN. Di Indonesia, kurang lebih 70 PLTMH telah berdiri dan dikembangkan.
Istilah Mikrohidro biasanya digunakan untuk pembangkit listrik yang menghasilkan output di bawah 500 KW sementara minihidro untuk output 500 Kwi MW. Lebih besar dari itu biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Dalam skala nasional, Indonesia mempunyai potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air sebab kondisi topografi Indonesia bergunung dan berbukit serta dialiri oleh banyak sungai.

Memahami Permasalahan Lingkungan
a. Masalah Kerusakan Lingkungan oleh Limbah Industri
Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara yang menggunakan teknologi dalam industri yang di transfer dari negara-negara maju (cover Industri) untuk membangun ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distrosi tujuan .
Alasan yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam kala globalisasi dalam ekonomi dan kala gosip harus melewati gelombang agrasi dan industrialis.
Gejala memanasnya bola bumi akhir imbas rumah beling (green house effect), akhir menipisnya lapisan ozon, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernya lapisan es di kutub utara dan selatan bumi sanggup dijadikan indikasi terjadinya pencemaran lingkungan sebab penggunaan energi dan banyak sekali materi kimia secara tidak seimbang.
Gejala memanasnya bola bumi akhir imbas rumah beling (green house effect), akhir menipisnya lapisan ozon, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernya lapisan es di kutub utara dan selatan bumi sanggup dijadikan indikasi terjadinya pencemaran lingkungan sebab penggunaan energi dan banyak sekali materi kimia secara tidak seimbang.
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang timbul adalah:
1. Bagaimana bantuan industri dan teknologi yang menyebar terhadap pencemaran lingkungan.
2. Bagaimana pembagian terstruktur mengenai pencemaran lingkungan.
3. Bagaimana menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan hidup.
b. Konsep-konsep untuk Memahami Masalah Lingkungan dan Pencemaran oleh Industri inti dari permasalahan lingkungan hidup
Ilmu perihal hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Lingkungan hidup yakni kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk didalamnya insan dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupannya dan kesejahteraan insan serta makhluk hidup lainnya.
Berbagai sumber daya alam yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda sanggup digolongkan sebagai berikut:
- Sumber daya alam yang sanggup diperbaharui (renewable natural resourcees).
- Sumber daya alam yang tidak sanggup diperbaharui (non renewable natural resourcees).
Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam sanggup dibagi atas:
- Fisiokimia menyerupai air, udara, tanah, dan sebagainya.
- Biologi menyerupai fauna, flora, habitat, dan sebagainya.
- Sosial ekonomi menyerupai pendapatan, kesehatan, adat istiadat, agama dan lain-lain.
Sikap lingkungan hidup ditentukan oleh macam-macam faktor, berkaitan dengan ini kategori sifat lingkungan hidup atas dasar:
- Jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan hidup tersebut.
- Hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut.
- Kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup.
- Faktor-faktor non materil, menyerupai cahaya dan kebisingan.
c. Industri dan Pencemaran Lingkungan
Pengelolaan lingkungan hidup sanggup diartikan sebagai perjuangan secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan semoga kebutuhan dasar kita sanggup terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan semoga insan tetap survival.
d. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan
Teknologi memperlihatkan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri kendaraan beroda empat yang memperkaya peradaban manusia. Teknologi juga bisa menghasilkan welirang dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buang lain yang mengancam kelangsungan hidup insan akhir memanasnya bumi oleh imbas "rumah kaca".
Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam "revolusi hijau" bisa meningkatkan hasil pertanian, sebab adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk pestisida.
Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan banyak sekali jenis racun yang berbahaya bagi insan dan lingkungannya.
Masuknya teknologi ke Indonesia sudah dimulai semenjak diundangkannya UUPMA (UU No. 1 tahun 1967, yang diperbaharui dengan PP. No. 20 tahun 1994).
Dengan pemberian UU perihal hak paten (Property Right) dan UU Perlindungan Hak Cipta (Intelectual Right), maka banyak perusahaan multinasional dan aneh yang menggunakan dan berbagi teknologi dalam menghasilkan banyak sekali produk industri.
Sebagai negara berkembang yang banyak membutuhkan bagi pembiayaan pembangunan, Indonesia seringkali "dicurigai" melaksanakan eksploitasi sumber alamnya secara besar-besaran sebab pemberian kemajuan teknologi dan besarnya tingkat kebutuhan industri-industri yang berkembang pesat secara kuantitatif dan berskala besar.
Berkaitan dengan hal tersebut, tercatat keadaan lingkungan dibeberapa kota di Indonesia, yaitu:
(1). Terjadinya penurunan kualitas air permukaan disekitar daerah-daerah industri.
(2). Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di demam isu kemarau.
(3). Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah.
(4). Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara menyerupai CO2, NO2r, SO2, dan debu.
(5). Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia semakin menipis, menyerupai minyak bumi dan watu bara.
e. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan
Definisi pencemaran lingkungan berdasarkan UU No. 4 Tahun 1982 yakni masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh acara insan atau proses alam.
Sehingga kualitas lingkungan turun hingga ke tingkat tertentu yang menjadikan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Sehingga kualitas lingkungan turun hingga ke tingkat tertentu yang menjadikan lingkungan menjadi kurang atau tidak sanggup lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Pengelompokan pencemaran di bagi menjadi tiga, antara lain:
1. Bahan pencemaran yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, dan budaya.
2. Pengelompokan berdasarkan medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan dan sosial.
3. Pengelompokan berdasarkan sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primer dan sekunder.
f. Menyikapi Pencemaran Lingkungan
Konperensi PBB perihal lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972, telah menetapkan tanggal 5 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai hari lingkungan hidup sedunia, di Indonesia perhatian perihal lingkungan hidup telah dilakukan semenjak tahun 1960-an.
Tonggak pertama sejarah perihal permasalahan lingkungan hidup di pancangkan melalui seminar perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang di selenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 15 hingga 18 Mei 1972.
Hasil yang diperoleh dari pertemuan itu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.
Lahirnya Keppres 77/1994 perihal organisasi Bapedal sebagai pola bagi pembentukan Bapeda/wilayah di tingkat provinsi yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/daerah.
Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat UU No.4 tahun 1982 perihal Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Walaupun telah di terapkan UU tersebut diatas kalau tidak ada kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka banyak sekali upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan sanggup dinikmati secara hening dan kondusif sebab kekhawatiran akan peristiwa dari dampak negatif pencemaran lingkungan.
Lihat Detail
√ Membandingkan Penggunaan Jenis Iptek
Halo teman-teman kali ini kita akan membahas Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH mengenai Membandingkan Penggunaan Jenis IPTEK yang akan kita bahas dengan lengkap supaya teman-teman bisa memahaminya dengan baik. yuk eksklusif saja.
# Kesimpulan
1. Keberhasilan Penggunaan beberapa jenis IPTEK
Keberhasilan beberapa iptek dalam pengelolaan lingkungan hidup sudah tidak diragukan lagi, lantaran setiap harinya para peneliti selalu berusaha menemukan penemuan gres demi mengakibatkan sesuatu yang ramah untuk lingkungan.

a. Iptek di Bidang Energi dan Sumber Daya Alam
#1. Briket Batu Bara sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah
Indonesia telah membuatkan briket watu bara semenjak tahun 1994 namun tidak sanggup berkembang dengan baik mengingat minyak tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah sehingga masyarakat lebih menentukan minyak tanah untuk materi bakar sehari-hari.
Ada dua jenis briket watu bara yaitu:
1. Jenis berkarbonisasi (super), jenis ini lebih terlebih dahulu mengalami proses dikarbonisasi sebelum menjadi briket.
1. Jenis berkarbonisasi (super), jenis ini lebih terlebih dahulu mengalami proses dikarbonisasi sebelum menjadi briket.
2. Jenis Non Karbonisasi (biasa), jenis ini tidak mengalami dikarbonisasi sebelum diproses menjadi briket.
#2. Keunggulan Briket Batu Bara
(1). Lebih murah.
(2). Panas yang tinggi dan kontinyu sehingga sangat baik untuk pembakaran yang lama.
(3). Tidak beresiko meledak atau terbakar.
(4). Tidak mengeluarkan bunyi bising serta tidak berjelaga.
(5). Sumber watu bara melimpah.
Penggunaan Briket Batu bara harus dibarengi serta disiapkan Kompor atau Tungku, jenis dan ukuran Kompor harus diadaptasi dengan kebutuhan, pada prinsipnya kompor atau tungku terdiri atas dua jenis:
1. Tungku atau kompor portabel, jenis ini pada umumnya memuat briket antara 1 hingga 8 kg serta sanggup dipindah-pindahkan. Jenis ini dipakai untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan.
2. Tungku atau kompor permanen, biasanya memuat lebih dari 8kg briket dibentuk secara permanen. Jenis ini dipergunakan untuk industri kecil atau menengah.
#3. Persyaratan Kompor atau tungku
1. Ada ruang bakar untuk briket.
2. Adanya fatwa udara (oksigen) dari lubang bawah menuju lubang atas dengan melewati ruang bakar briket yang terdiri dari fatwa udara primer dan sekunder.
3. Ada ruang untuk menampung debu briket yang terletak di bawah ruang bakar briket.
Pengembangan produksi Briket watu bara dan kompor atau tungku hingga ketika ini pihak BPP Teknologi melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) telah usang membuatkan dan men-disain mesin untuk memproduksi Briket Batub ara skala kecil atau menengah dengan kapasitas produksi sebesar 2 hingga 8 ton per hari.
Dengan demikian industri briket skala kecil atau menengah ini diperlukan bisa tersebar di sentra-sentra pengguna Briket Batu bara sehingga gampang dalam penyediaan briket secara kontinyu.
Disamping itu pula BPP Teknologi telah membuatkan jenis-jenis Kompor atau Tungku Briket untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil atau menengah.
Disamping itu pula BPP Teknologi telah membuatkan jenis-jenis Kompor atau Tungku Briket untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil atau menengah.
2. Iptek di Bidang Energi
#1. Penggunaan Teknologi Nuklir
Penggunaan teknologi nuklir untuk kesejahteraan umat insan sangat luas, mulai dari penggunaan energi nuklir untuk membangkitkan listrik dalam PLTN, Kedokteran, Nuklir, Industri, Pertanian, Peternakan.
Di rumah sakit-rumah sakit penggunaan teknologi nuklir untuk menilik kelainan organ badan dilakukan dengan memakai sinar X. Selain memakai Sinar X dipakai juga peralatan MRI (Magnetic Resonance Image).
Karena kemampuan yang luas, teknologi MRI, tidak saja dipakai untuk dunia kedokteran, tetapi juga telah dipakai dalam dunia pengeboran minyak lepas pantai dan mereka menyebutkan CSEMI (Controlled Source Electromagnetic Imaging). Metode ini telah dipakai sebelumnya untuk studi hidrotermal dan acara gunung berapi.
Pada tahun 2000 CSEMI telah dipakai untuk mendeteksi lapisan hidro karbon yang ada di bumi dilepas pantai Afrika Barat.
Teknologi yang dipakai sebelumnya untuk mengetahui struktur geologi lapisan bumi yaitu dengan memakai Seismic Imaging.
Prinsip kerja pengukuran Seismic yaitu mendeteksi adanya perbedaan sifat-sifat akustik pada lapisan-lapisan bumi atau struktur geologi, sedangkan pada teknologi CSEMI diukur perbedaan intensitas pancaran gelombang electromagnet yang diakibatkan oleh adanya perbedaan tahanan pada lapisan bumi yang berbeda.
Prinsip kerja pengukuran Seismic yaitu mendeteksi adanya perbedaan sifat-sifat akustik pada lapisan-lapisan bumi atau struktur geologi, sedangkan pada teknologi CSEMI diukur perbedaan intensitas pancaran gelombang electromagnet yang diakibatkan oleh adanya perbedaan tahanan pada lapisan bumi yang berbeda.
3. Iptek di bidang pertanian
Salah satunya menyerupai dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) membuatkan dan menerapkan IPTEK sehingga berhasil meyakinkan petani untuk menerapkan IPTEK dalam pekerjaannya. Sehingga membawa dampak konkret mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras ke negara swasembada beras.
Bahkan pada puncak keberhasilannya, pernah menjadi negara pengekspor beras dan memberi tunjangan ke negara-negara yang mengalami kekurangan pangan.
Contoh lain penggunaan teknologi lingkungan dalam bidang pertanian yakni dengan membuatkan penggunaan pestisida alami dan pemanfaatan lahan yang produktif.
Teknologi pertanian yang berkaitan dengan Bioteknologi merupakan aplikasi teknologi yang sanggup diterapkan dalam bidang pertanian. Bioteknologi beberapa mempunyai keuntungan, diantaranya:
(1). Potensi hasil panen yang lebih tinggi.
(2). Mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida.
(3). Pemanfaatan lahan yang efektif.
(4). Kualitas masakan dan gizi yang lebih baik.
(5). Perbaikan penurunan mikronutrien.
4. Iptek di bidang Industri
Industri bidang penerbangan (IPTN) Industri Pesawat Terbang Nusantara telah bisa membuatkan IPTEK yang bisa menghasilkan pesawat terbang N250, yang pernah mengangkat Indonesia.
Meskipun pada awal tahap permukaan, keberhasilan yang pernah diraih telah diakui negara lain, paling tidak negara-negara ASEAN. Beberapa negara pernah membeli jenis pesawat N250 ini.
Meskipun pada awal tahap permukaan, keberhasilan yang pernah diraih telah diakui negara lain, paling tidak negara-negara ASEAN. Beberapa negara pernah membeli jenis pesawat N250 ini.
5. Iptek di bidang Kesehatan-Teknologi Oksidasi untuk Air Bersih
Berbagai masalah pencemaran lingkungan dan memburuknya kesehatan masyarakat remaja ini, banyak terjadi diakibatkan oleh limbah dan sampah dari aneka macam kegiatan industri, rumah sakit, pasar, restoran, hingga rumah tangga.
Hal ini disebabkan penanganan dan pengelolaan limbah dalam kegiatan industri di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius.
Hal ini disebabkan penanganan dan pengelolaan limbah dalam kegiatan industri di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius.
Akhir-akhir ini juga ramai orang membicarakan akan krisis air bersih, namun pembicaraan orang selalu terkisar antara hukum, kebijakan dan manajemennya saja.
Bagaimana dengan teknologi untuk mengatasi krisis ini?
Teknologi ini bukanlah teknologi baru, namun perkembangannya akhir-akhir ini sangat pesat. Belakangan ini teknologi oksidasi mulai dikenal dengan nama teknologi Advanced Oxidation Processes. Teknologi ini sendiri mulai banyak dikembangkan serta diterapkan di aneka macam negara maju.
Krisis air bersih
Di Indonesia, salah satu duduk masalah lingkungan yang cukup meresahkan yakni krisis air bersih. Krisis air boleh dikatakan duduk masalah paling utama selain duduk masalah lingkungan kain menyerupai polusi udara, kerusakan dan juga kebakaran hutan.
Permasalahan air higienis sebetulnya ada pada pembangunan limbah cair yang dilakukan secara sembarangan dari hasil kegiatan industri serta limbah domestik perkotaan. Ditambah lagi dengan kurangnya perjuangan untuk mengolah limbah cair secara benar.
Selain jawaban duduk masalah limbah cair, krisis air higienis di Indonesia juga diakibatkan lantaran eksploitasi eksklusif air tanah sebagai sumber air untuk aneka macam bidang industri termasuk di antaranya industri air minum dalam kemasan tadi.
Limbah cair
Dalam proses produksi sebuah industri pada umumnya dipergunakan sebagai materi material dari aneka macam jenis dan bentuk. Namun, dalam pelaksanaan sistem pengolahan limbah cair pada umumnya dilakukan secara bersamaan tanpa adanya pembagian atau pemisahan jenis dan bentuk materi material menurut proses yang dilalui.
Akibat dari penerapan sistem pengolahan limbah menyerupai ini, kita akan membutuhkan suatu teknologi tinggi, sehingga akan membutuhkan dana serta energi yang sangat besar.
Selain itu, sistem pengolahan limbah cair yang ada kini umumnya mempergunakan cara kombinasi antara pemakaian chlorine serta sistem kondensasi, sedimentasi, dan filtrasi.
Sedangkan pengolahan limbah organiknya banyak mempergunakan mikrobiologi karbon aktif serta membrane filtration.
Sedangkan pengolahan limbah organiknya banyak mempergunakan mikrobiologi karbon aktif serta membrane filtration.
Sedangkan akhir-akhir ini limbah organik yang dibuang semakin banyak mengandung senyawa organik yang sulit untuk diuraikan hanya dengan mikrobiologi serta membrane filtration, serta sangat membahayakan keselamatan makhluk hidup.
# Kesimpulan
Kesimpulannya bahwa sistem pengolahan limbah cair yang ada kini sangatlah tidak efektif. Untuk itu kita perlu menentukan serta memilah teknologi pengolahan limbah cair yang ada supaya tidak sanggup menerapkan suatu teknologi secara sempurna dan benar sesuai dengan kadar kebutuhannya.
Untuk itu kita perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut:
(1). Unsur-unsur yang terkandung dari limbah cair tersebut.
(2). Akibat dari unsur-unsur yang tersebut kita air limbah tersebar ke lingkungan.
(3). Perubahan serta kekuatan atau ketahanan dari unsur tersebut dalam proses pengolahan (treatment).
(4). Metode atau teknologi yang sanggup membersihkan atau memodifikasi unsur yang terdapat pada limbah cair tersebut.
(5). Metode atau teknologi yang sempurna guna serta sanggup membersihkan atau memodifikasi zat padat hasil dari proses pengolahan.
(6). Demikian pula halnya karakteristik dari teknologi pengolahan limbah cair yang ada seperti, jenis material apa yang sanggup diuraikan, kualitas air bagaimana yang diharapkan, bagaimana biaya pemeliharaannya, bagaimana biaya pembangunan dan lain-lain.
Halo teman-teman kali ini kita akan membahas Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH mengenai Membandingkan Penggunaan Jenis IPTEK yang akan kita bahas dengan lengkap supaya teman-teman bisa memahaminya dengan baik. yuk eksklusif saja.
# Kesimpulan
1. Keberhasilan Penggunaan beberapa jenis IPTEK
Keberhasilan beberapa iptek dalam pengelolaan lingkungan hidup sudah tidak diragukan lagi, lantaran setiap harinya para peneliti selalu berusaha menemukan penemuan gres demi mengakibatkan sesuatu yang ramah untuk lingkungan.

a. Iptek di Bidang Energi dan Sumber Daya Alam
#1. Briket Batu Bara sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah
Indonesia telah membuatkan briket watu bara semenjak tahun 1994 namun tidak sanggup berkembang dengan baik mengingat minyak tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah sehingga masyarakat lebih menentukan minyak tanah untuk materi bakar sehari-hari.
Ada dua jenis briket watu bara yaitu:
1. Jenis berkarbonisasi (super), jenis ini lebih terlebih dahulu mengalami proses dikarbonisasi sebelum menjadi briket.
1. Jenis berkarbonisasi (super), jenis ini lebih terlebih dahulu mengalami proses dikarbonisasi sebelum menjadi briket.
2. Jenis Non Karbonisasi (biasa), jenis ini tidak mengalami dikarbonisasi sebelum diproses menjadi briket.
#2. Keunggulan Briket Batu Bara
(1). Lebih murah.
(2). Panas yang tinggi dan kontinyu sehingga sangat baik untuk pembakaran yang lama.
(3). Tidak beresiko meledak atau terbakar.
(4). Tidak mengeluarkan bunyi bising serta tidak berjelaga.
(5). Sumber watu bara melimpah.
Penggunaan Briket Batu bara harus dibarengi serta disiapkan Kompor atau Tungku, jenis dan ukuran Kompor harus diadaptasi dengan kebutuhan, pada prinsipnya kompor atau tungku terdiri atas dua jenis:
1. Tungku atau kompor portabel, jenis ini pada umumnya memuat briket antara 1 hingga 8 kg serta sanggup dipindah-pindahkan. Jenis ini dipakai untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan.
2. Tungku atau kompor permanen, biasanya memuat lebih dari 8kg briket dibentuk secara permanen. Jenis ini dipergunakan untuk industri kecil atau menengah.
#3. Persyaratan Kompor atau tungku
1. Ada ruang bakar untuk briket.
2. Adanya fatwa udara (oksigen) dari lubang bawah menuju lubang atas dengan melewati ruang bakar briket yang terdiri dari fatwa udara primer dan sekunder.
3. Ada ruang untuk menampung debu briket yang terletak di bawah ruang bakar briket.
Pengembangan produksi Briket watu bara dan kompor atau tungku hingga ketika ini pihak BPP Teknologi melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) telah usang membuatkan dan men-disain mesin untuk memproduksi Briket Batub ara skala kecil atau menengah dengan kapasitas produksi sebesar 2 hingga 8 ton per hari.
Dengan demikian industri briket skala kecil atau menengah ini diperlukan bisa tersebar di sentra-sentra pengguna Briket Batu bara sehingga gampang dalam penyediaan briket secara kontinyu.
Disamping itu pula BPP Teknologi telah membuatkan jenis-jenis Kompor atau Tungku Briket untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil atau menengah.
Disamping itu pula BPP Teknologi telah membuatkan jenis-jenis Kompor atau Tungku Briket untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil atau menengah.
2. Iptek di Bidang Energi
#1. Penggunaan Teknologi Nuklir
Penggunaan teknologi nuklir untuk kesejahteraan umat insan sangat luas, mulai dari penggunaan energi nuklir untuk membangkitkan listrik dalam PLTN, Kedokteran, Nuklir, Industri, Pertanian, Peternakan.
Di rumah sakit-rumah sakit penggunaan teknologi nuklir untuk menilik kelainan organ badan dilakukan dengan memakai sinar X. Selain memakai Sinar X dipakai juga peralatan MRI (Magnetic Resonance Image).
Karena kemampuan yang luas, teknologi MRI, tidak saja dipakai untuk dunia kedokteran, tetapi juga telah dipakai dalam dunia pengeboran minyak lepas pantai dan mereka menyebutkan CSEMI (Controlled Source Electromagnetic Imaging). Metode ini telah dipakai sebelumnya untuk studi hidrotermal dan acara gunung berapi.
Pada tahun 2000 CSEMI telah dipakai untuk mendeteksi lapisan hidro karbon yang ada di bumi dilepas pantai Afrika Barat.
Teknologi yang dipakai sebelumnya untuk mengetahui struktur geologi lapisan bumi yaitu dengan memakai Seismic Imaging.
Prinsip kerja pengukuran Seismic yaitu mendeteksi adanya perbedaan sifat-sifat akustik pada lapisan-lapisan bumi atau struktur geologi, sedangkan pada teknologi CSEMI diukur perbedaan intensitas pancaran gelombang electromagnet yang diakibatkan oleh adanya perbedaan tahanan pada lapisan bumi yang berbeda.
Prinsip kerja pengukuran Seismic yaitu mendeteksi adanya perbedaan sifat-sifat akustik pada lapisan-lapisan bumi atau struktur geologi, sedangkan pada teknologi CSEMI diukur perbedaan intensitas pancaran gelombang electromagnet yang diakibatkan oleh adanya perbedaan tahanan pada lapisan bumi yang berbeda.
3. Iptek di bidang pertanian
Salah satunya menyerupai dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) membuatkan dan menerapkan IPTEK sehingga berhasil meyakinkan petani untuk menerapkan IPTEK dalam pekerjaannya. Sehingga membawa dampak konkret mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras ke negara swasembada beras.
Bahkan pada puncak keberhasilannya, pernah menjadi negara pengekspor beras dan memberi tunjangan ke negara-negara yang mengalami kekurangan pangan.
Contoh lain penggunaan teknologi lingkungan dalam bidang pertanian yakni dengan membuatkan penggunaan pestisida alami dan pemanfaatan lahan yang produktif.
Teknologi pertanian yang berkaitan dengan Bioteknologi merupakan aplikasi teknologi yang sanggup diterapkan dalam bidang pertanian. Bioteknologi beberapa mempunyai keuntungan, diantaranya:
(1). Potensi hasil panen yang lebih tinggi.
(2). Mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida.
(3). Pemanfaatan lahan yang efektif.
(4). Kualitas masakan dan gizi yang lebih baik.
(5). Perbaikan penurunan mikronutrien.
4. Iptek di bidang Industri
Industri bidang penerbangan (IPTN) Industri Pesawat Terbang Nusantara telah bisa membuatkan IPTEK yang bisa menghasilkan pesawat terbang N250, yang pernah mengangkat Indonesia.
Meskipun pada awal tahap permukaan, keberhasilan yang pernah diraih telah diakui negara lain, paling tidak negara-negara ASEAN. Beberapa negara pernah membeli jenis pesawat N250 ini.
Meskipun pada awal tahap permukaan, keberhasilan yang pernah diraih telah diakui negara lain, paling tidak negara-negara ASEAN. Beberapa negara pernah membeli jenis pesawat N250 ini.
5. Iptek di bidang Kesehatan-Teknologi Oksidasi untuk Air Bersih
Berbagai masalah pencemaran lingkungan dan memburuknya kesehatan masyarakat remaja ini, banyak terjadi diakibatkan oleh limbah dan sampah dari aneka macam kegiatan industri, rumah sakit, pasar, restoran, hingga rumah tangga.
Hal ini disebabkan penanganan dan pengelolaan limbah dalam kegiatan industri di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius.
Hal ini disebabkan penanganan dan pengelolaan limbah dalam kegiatan industri di Indonesia belum mendapat perhatian yang serius.
Akhir-akhir ini juga ramai orang membicarakan akan krisis air bersih, namun pembicaraan orang selalu terkisar antara hukum, kebijakan dan manajemennya saja.
Bagaimana dengan teknologi untuk mengatasi krisis ini?
Teknologi ini bukanlah teknologi baru, namun perkembangannya akhir-akhir ini sangat pesat. Belakangan ini teknologi oksidasi mulai dikenal dengan nama teknologi Advanced Oxidation Processes. Teknologi ini sendiri mulai banyak dikembangkan serta diterapkan di aneka macam negara maju.
Krisis air bersih
Di Indonesia, salah satu duduk masalah lingkungan yang cukup meresahkan yakni krisis air bersih. Krisis air boleh dikatakan duduk masalah paling utama selain duduk masalah lingkungan kain menyerupai polusi udara, kerusakan dan juga kebakaran hutan.
Permasalahan air higienis sebetulnya ada pada pembangunan limbah cair yang dilakukan secara sembarangan dari hasil kegiatan industri serta limbah domestik perkotaan. Ditambah lagi dengan kurangnya perjuangan untuk mengolah limbah cair secara benar.
Selain jawaban duduk masalah limbah cair, krisis air higienis di Indonesia juga diakibatkan lantaran eksploitasi eksklusif air tanah sebagai sumber air untuk aneka macam bidang industri termasuk di antaranya industri air minum dalam kemasan tadi.
Limbah cair
Dalam proses produksi sebuah industri pada umumnya dipergunakan sebagai materi material dari aneka macam jenis dan bentuk. Namun, dalam pelaksanaan sistem pengolahan limbah cair pada umumnya dilakukan secara bersamaan tanpa adanya pembagian atau pemisahan jenis dan bentuk materi material menurut proses yang dilalui.
Akibat dari penerapan sistem pengolahan limbah menyerupai ini, kita akan membutuhkan suatu teknologi tinggi, sehingga akan membutuhkan dana serta energi yang sangat besar.
Selain itu, sistem pengolahan limbah cair yang ada kini umumnya mempergunakan cara kombinasi antara pemakaian chlorine serta sistem kondensasi, sedimentasi, dan filtrasi.
Sedangkan pengolahan limbah organiknya banyak mempergunakan mikrobiologi karbon aktif serta membrane filtration.
Sedangkan pengolahan limbah organiknya banyak mempergunakan mikrobiologi karbon aktif serta membrane filtration.
Sedangkan akhir-akhir ini limbah organik yang dibuang semakin banyak mengandung senyawa organik yang sulit untuk diuraikan hanya dengan mikrobiologi serta membrane filtration, serta sangat membahayakan keselamatan makhluk hidup.
# Kesimpulan
Kesimpulannya bahwa sistem pengolahan limbah cair yang ada kini sangatlah tidak efektif. Untuk itu kita perlu menentukan serta memilah teknologi pengolahan limbah cair yang ada supaya tidak sanggup menerapkan suatu teknologi secara sempurna dan benar sesuai dengan kadar kebutuhannya.
Untuk itu kita perlu mengetahui hal-hal sebagai berikut:
(1). Unsur-unsur yang terkandung dari limbah cair tersebut.
(2). Akibat dari unsur-unsur yang tersebut kita air limbah tersebar ke lingkungan.
(3). Perubahan serta kekuatan atau ketahanan dari unsur tersebut dalam proses pengolahan (treatment).
(4). Metode atau teknologi yang sanggup membersihkan atau memodifikasi unsur yang terdapat pada limbah cair tersebut.
(5). Metode atau teknologi yang sempurna guna serta sanggup membersihkan atau memodifikasi zat padat hasil dari proses pengolahan.
(6). Demikian pula halnya karakteristik dari teknologi pengolahan limbah cair yang ada seperti, jenis material apa yang sanggup diuraikan, kualitas air bagaimana yang diharapkan, bagaimana biaya pemeliharaannya, bagaimana biaya pembangunan dan lain-lain.
Lihat Detail
√ Memilih Jenis Iptek Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Halo teman-teman kali ini kita akan mempelajari Pendidikan Lingkungan Hidup atau sering disebut dengan PLH tentang Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, silahkan simak baik-baik klarifikasi dibawah ini ya.

1. Teknologi Biodiesel
a. Tanaman Jarak Pagar Sebagai Energi Alternatif
Tanaman jarak pagar (Jatropha Curcas Linn) berasal dari kawasan tropis Amerika Tengah, telah usang dikenal masyarakat Indonesia semenjak jaman penjajahan Jepang. Biji tumbuhan jarak mengandung persentase minyak yang besar sehingga mulai di lirik orang untuk dipakai sebagai sumber materi bakar alternatif di masa yang akan datang.
Ciri-ciri tumbuhan jarak pagar:
- family Euphorbiaceae
- tanaman perdu tinggi 1 hingga 7 meter, bercabang tidak teratur
- batang kayu silindris, jika terluka mengeluarkan getah
- daun lebar berbentuk jantung atau bundar telur melebar dengan panjang 5 hingga 15cm
- bunga berwarna kuning kehijauan, berupa bunga beragam berbentuk malai, berumah satu
- umur tumbuhan sanggup mencapai 20 tahun lebih
Kandungan minyak pada biji jarak cukup tinggi yaitu sekitar 30 hingga 50%. Biji jarak pagar sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai materi baku minyak atau biodiesel alasannya yaitu minyak jarak pagar tidak termasuk kategori minyak untuk makanan (edible oil), sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional.
Ciri-ciri biji jarak pagar:
- Biji berbentuk bundar dan lonjong
- Warna kulit biji coklat kehitaman
- Warna biji putih kecoklatan
Energi Alternatif Jarak Pagar:
- Jarak pagar yang gampang tumbuh dan sanggup dikembangkan sebagai materi penghasil BBM alternatif (biodiesel).
- Kandungan minyak pada biji jarak pagar cuku tinggi yaitu sekitar 30 hingga 50%
- Biji jarak pagar sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai materi baku minyak atau biodiesel, alasannya yaitu minyak jarak pagar tidak termasuk kategori minyak untuk makanan (edible oil), sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional.
Biodiesel:
- Pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai materi alternatif, dilakukan dengan terlebih dahulu menerapkan proses transesterifikasi terhadap minyak jarak.
- Proses transesterifikasi minyak jarak dilakukan dengan memakai air kimia, proses ini akan mengubah trigliserida menjadi metil ester (Biodiesel dan Gliserol).
- Tujuannya untuk menurunkan viskositas minyak jarak dan meningkatkan daya pembakarannya sehingga sanggup dipakai sesuai standar minyak diesel untuk kendaraan bermotor.
b. Proses Pengolahan Tumbuhan Jarak
Proses transesterifikasi minyak jarak dilakukan dengan memakai air kimia, proses ini akan mengubah trigliserida menjadi metil ester (Biodiesel dan Gliserol), tujuannya untuk memilih viskositas minyak jarak dan meningkatkan daya pembakarannya sehingga sanggup dipakai sesuai standar minyak diesel untuk kendaraan bermotor.
2. Teknologi Biogas
Biogas yaitu gas yang gampang terbakar (flamable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis materi organik sanggup diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya materi organik (padat, cair) homogen ibarat kotoran dan urine (air kencing) binatang ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana.
Jenis materi organik yang diproses sangat menghipnotis produktivitas sistem biogas disamping parameter-parameter lain ibarat temperatur, digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.
Salah satu cara memilih materi organik yang sesuai untuk menjadi materi masukan sistem biogas yaitu dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa pola yang dilakukan oleh ISAT menerangkan bahwa kegiatan metabolisme dari kuman methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8 hingga 20.
a. Melestarikan Alam dengan Biogas
Biogas menunjukkan solusi terhadap problem penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Biogas menunjukkan perlawanan terhadap efek rumah beling melalui tiga cara, yaitu:
- Biogas merupakan substitusi atau pengganti dari materi bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan.
- Methana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran methana pada biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah methana di udara.
- Dengan lestarinya hutan, maka CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan oksigen yang melawan efek rumah kaca.
b. Pemanfaatan Biogas
Limbah biogas yaitu kotoran ternak yang telah hilang gas nya (slurry), merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan bahkan unsur-unsur tertentu ibarat protein, selulose, lignin dan lain-lain tidak sanggup digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik pada biogas telah dicobakan pada tumbuhan jagung, bawang merah, dan padi.
Itulah pembahasan PLH mengenai Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, semoga artikel ini bermanfaat bagi semua orang.
Itulah pembahasan PLH mengenai Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, semoga artikel ini bermanfaat bagi semua orang.
Halo teman-teman kali ini kita akan mempelajari Pendidikan Lingkungan Hidup atau sering disebut dengan PLH tentang Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, silahkan simak baik-baik klarifikasi dibawah ini ya.

1. Teknologi Biodiesel
a. Tanaman Jarak Pagar Sebagai Energi Alternatif
Tanaman jarak pagar (Jatropha Curcas Linn) berasal dari kawasan tropis Amerika Tengah, telah usang dikenal masyarakat Indonesia semenjak jaman penjajahan Jepang. Biji tumbuhan jarak mengandung persentase minyak yang besar sehingga mulai di lirik orang untuk dipakai sebagai sumber materi bakar alternatif di masa yang akan datang.
Ciri-ciri tumbuhan jarak pagar:
- family Euphorbiaceae
- tanaman perdu tinggi 1 hingga 7 meter, bercabang tidak teratur
- batang kayu silindris, jika terluka mengeluarkan getah
- daun lebar berbentuk jantung atau bundar telur melebar dengan panjang 5 hingga 15cm
- bunga berwarna kuning kehijauan, berupa bunga beragam berbentuk malai, berumah satu
- umur tumbuhan sanggup mencapai 20 tahun lebih
Kandungan minyak pada biji jarak cukup tinggi yaitu sekitar 30 hingga 50%. Biji jarak pagar sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai materi baku minyak atau biodiesel alasannya yaitu minyak jarak pagar tidak termasuk kategori minyak untuk makanan (edible oil), sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional.
Ciri-ciri biji jarak pagar:
- Biji berbentuk bundar dan lonjong
- Warna kulit biji coklat kehitaman
- Warna biji putih kecoklatan
Energi Alternatif Jarak Pagar:
- Jarak pagar yang gampang tumbuh dan sanggup dikembangkan sebagai materi penghasil BBM alternatif (biodiesel).
- Kandungan minyak pada biji jarak pagar cuku tinggi yaitu sekitar 30 hingga 50%
- Biji jarak pagar sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai materi baku minyak atau biodiesel, alasannya yaitu minyak jarak pagar tidak termasuk kategori minyak untuk makanan (edible oil), sehingga pemanfaatannya tidak mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional.
Biodiesel:
- Pemanfaatan minyak jarak pagar sebagai materi alternatif, dilakukan dengan terlebih dahulu menerapkan proses transesterifikasi terhadap minyak jarak.
- Proses transesterifikasi minyak jarak dilakukan dengan memakai air kimia, proses ini akan mengubah trigliserida menjadi metil ester (Biodiesel dan Gliserol).
- Tujuannya untuk menurunkan viskositas minyak jarak dan meningkatkan daya pembakarannya sehingga sanggup dipakai sesuai standar minyak diesel untuk kendaraan bermotor.
b. Proses Pengolahan Tumbuhan Jarak
Proses transesterifikasi minyak jarak dilakukan dengan memakai air kimia, proses ini akan mengubah trigliserida menjadi metil ester (Biodiesel dan Gliserol), tujuannya untuk memilih viskositas minyak jarak dan meningkatkan daya pembakarannya sehingga sanggup dipakai sesuai standar minyak diesel untuk kendaraan bermotor.
2. Teknologi Biogas
Biogas yaitu gas yang gampang terbakar (flamable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis materi organik sanggup diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya materi organik (padat, cair) homogen ibarat kotoran dan urine (air kencing) binatang ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana.
Jenis materi organik yang diproses sangat menghipnotis produktivitas sistem biogas disamping parameter-parameter lain ibarat temperatur, digester, pH, tekanan dan kelembaban udara.
Salah satu cara memilih materi organik yang sesuai untuk menjadi materi masukan sistem biogas yaitu dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa pola yang dilakukan oleh ISAT menerangkan bahwa kegiatan metabolisme dari kuman methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8 hingga 20.
a. Melestarikan Alam dengan Biogas
Biogas menunjukkan solusi terhadap problem penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Biogas menunjukkan perlawanan terhadap efek rumah beling melalui tiga cara, yaitu:
- Biogas merupakan substitusi atau pengganti dari materi bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan.
- Methana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran methana pada biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah methana di udara.
- Dengan lestarinya hutan, maka CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan oksigen yang melawan efek rumah kaca.
b. Pemanfaatan Biogas
Limbah biogas yaitu kotoran ternak yang telah hilang gas nya (slurry), merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan bahkan unsur-unsur tertentu ibarat protein, selulose, lignin dan lain-lain tidak sanggup digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik pada biogas telah dicobakan pada tumbuhan jagung, bawang merah, dan padi.
Itulah pembahasan PLH mengenai Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, semoga artikel ini bermanfaat bagi semua orang.
Itulah pembahasan PLH mengenai Menentukan Jenis IPTEK dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, semoga artikel ini bermanfaat bagi semua orang.
Langganan:
Komentar (Atom)